Spiritualitas Dalam Fiksi – Paulo Coelho


DESAINART- Pertama kali saya tinggal di San Francisco adalah pada awal 1970-an. Sebagai seorang hippie, saya menjelajahi Amerika -memulai perjalanan itu dengan dua ratus dollar AS disaku, dan tiba di Meksiko dengan uang seratus dollar AS yang tersisa. Ini pengalaman fantastis karena saat itu saya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Namun, ada solidaitas diantara sesama anak muda yang melakukan perjalanan sehingga dapat membantu saya melintasi negri ini dan bisa pergi sejauh itu.

Saya selalu bermimpi ingin menjadi penulis, tetapi ketika mengatakannya kepada ibu saya bahwa saya akan menulis buku dan menjadi penulis, ia berkata, “Baiklah, kau tentu dapat melakukannya, tetapi yang pertama harus kau lakukan adalah menyelesaikan hukum, menjadi pengacara, dan kemudian akan mampu menulis di waktu senggangmu”.

Saya pun merasa bingung dengan apa yang harus saya lakukan karena kita tidak dapat memungkiri bahwa kita terkadang merasa khawatir dengan masa depan. Namun, kemudian datang generasi hippie yang memberi saya kekuatan untuk menghentikan semuanya, berhenti sekolah hukum dan mulai mengikuti mimpi saya. Namun, saya belum menulis buku hingga tahun 1986 ketika saya menulis buku pertama, yang diterbitkan dengan judul The Pilgrimage.

Kemudian, ketika itu saya menulis juga untuk televisi, koran, bahkan lirik untuk lagu-lagu rock, yang sangat populer di Brazil. Saya menulis buku pertama saya The Pilgrimage ketika berusia sekira tiga puluh delpan tahun. Kini, usia saya empat puluh delapan tahun.

Saya berusaha membagi inti pencarian saya dengan pembaca, itulah pencarian spiritual saya yang mendasar. Saya tidak punya apa pun untuk mengejar dan menjelaskan perihal jagat raya. Saya tidak percaya pada penjelasan-penjelasan tentang jagat raya, tetapi saya sendiri sebenarnya punya sesuatu untuk dibagi. Demikianlah bagaimana saya mengalami keanehan yang kadang-kadang sangat menipu ini.

Di antara banyak buku saya, The Pilgrimage adalah perjalanan saya menuju Santiago del Compostella. Saya berjalan dari Perancis ke Spanyol selama limah puluh enam hari. Inilah pengembaraan saya di jalan yang suci itu, jalan yang sangat kuno.

Sementara itu, The Alchemist adalah fabel tentang pentingnya kita mengikuti kita mengikuti mimpi-mimpi kita, dan sekarang dengan The Valkyries saya berusaha berusaha membagi pengalaman tinggal di Gurun Mojave bersama istri selama empat puluh hari. Apa yang mengejutkan saya adalah bahwa buku ini sukses diseluruh dunia, saya telah menjual hampir sepuluh juta kopi buku ini, dan beberapa di antaranya belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Maka, dengan membagi sesuatu, saya tahu bahwa saya tidak sendirian, bahwa banyak orang berbagi gagasan-gagasan dan ide-ide sama dengan saya, juga pencarian yang sama perihal makna kehidupan ini.

Saya pikir kita mulai lebih menyadari pentingnya jalan spiritual, dan kita memenuhinya dengan memberikan perhatian kepada diri sendiri juga pada hubungan dengan jiwa dunia sehari-hari. Kita punya bahasa pertanda ini, bahasa tanda. Inilah alfabet yang memandu kita. Jika kita berani menanggung kesalahan, jika kita mengambil pertanda sebagai suatu peringatan dan bantuan untuk melintasi hasi khusus itu, maka kita pun mulai menyelami jiwa dunia.

Jika kita berani menanggung kesalahan, jika kita mengambil pertanda sebagai suatu peringatan dan bantuan untuk melintasi hasi khusus itu, maka kita pun mulai menyelami jiwa dunia.

Baiklah, saya percaya bahwa ada misteri di abalik pemahaman kita. Namun, pada akhhirnya kita tahu bahwa tidak ada yang dapat kita lakukan ‘dan harus kita lakukan’ di sini.

Pencarian itu akan banyak mengandung risiko. Banyak orang akan kehilangan pekerjaan, mereka akan mulai mendapatkan masalah, tetapi hanya ini hanya pilihan karena dalam banyak kasus anda harus membayar untuk mimpi-mimpi anda. Di sisi lain, saya tidak akan memisahkan dunia ini dengan dunia spiritual, karena sepanjang alkemi berlangsung, inilah seni untuk memproyeksikan dunia tersebut, memusatkan perhatian pada dunia material ‘seluruh pencarian spiritual kita’ sehingga kita harus menyatukan unsur-unsur yang terpisah itu, dan mengarahkan kehidupan yang tidak berkaitan dengan spiritualitas.

Saya berharap kita akan cukup berani menanggalkan pekerjaan, menghancurkan beberapa ketentuan, dan kemudian setelah melewati masa-masa sulit, kita akan tahu bahwa ada suatu makna dan bahwa jagat raya ternyata memberikan seluruh bagian dari teka-teki ini secara bersamaan dengan memberikan kepada kita petunjuk untuk mengikuti takdir kita.

Namun jangan berharap bahwa ini akan menjadi jalan yang sangat mudah dilalui. Inilah jalan yang mengandung masalah bagi orang yang tidak mengikuti mimpi-mimpinya. Bagaimana pun, harga jaket yang anda kenakan sama dengan harga jaket yang tidak anda kenakan, walau ukurannya lebih besar daripada jaket anda sendiri. Kita harus siap membayar harga itu, kemudian semua kesulitan akan dapat dimengerti. Di sisi lain, jika anda tak mengikuti mimpi-mimpi anda, maka kesulitan tetaplah menjadi kesulitan.

Dalam The Alchemist, saya memperlihatkan bahwa anak lelaki itu akan terus berada dalam pencarian spiritual. Menurut saya, kita harus melanjutkan tantangan ini, kekerasan jalan ini, dan anda tidak dapat melakukannya, tetapi sekarang dapat menjadi buta dengan melihat kegiatan setiap hari sebagai sesuatu yang sama.

Setiap hari itu sejatinya berbeda, tiap hari memiliki keajaiban sendiri. Masalahnya adalah bagaimana memperlihatkan keajaiban ini. Jika kita melakukannya, maka kita akan berhasil menemukan takdir itu, bahkan jika kkita melakukan hal yang paling membosankan, yakni tugas kita pada setiap pagi.

The Valkyries bukanlah kelanjutan dari The Alchemist. The Valkyries dan The Pilgimage adalah buku-buku nonfiksi. Di dalamnya, saya mengalami jalan saya. Saya selalu memberikan tugas kepada diri sendiri dan saya berusaha memenuhinya. Saya berusaha melakukan semuanya. Suatu saat, saya memberikan tugas yang berbeda kepada diri saya dan The Valkyries adalah pengalaman saya dan isteri saya melintasi Gurun Mojave.

Kami pergi ke sana pada 1988 untuk melakukan kontak dengan para malaikat, dan saya berusaha tidak hanya menunjukkan tugas itu saja, tetapi juga kompleksitas di dalam diri seseorang yang berusaha mengikuti jalan spiritualnya. Maksud saya, karena kita punya masalah maka kita terkadang tidak sebaik sebagaimana kita mestinya bertindak baik.

Namun, ini tidak dapat menjauhkan kita dari jalan spiritual. Kita harus menerima diri kita sebagaimana adanya dan tidak lagi merasa khawatir. Saya tidak malu mengikuti jalan ini dan saya tahu bahwa di jalan yang sudah ditentukan itu, Tuhan memahami apa yang saya lakukan. Ini sangat penting bagi saya.

Karena kita harus memberikan perhatian pada hal tersebut, kita harus tahu bahwa seseorang sedang melihat kita bahkan ketika tidak memahami apa yang kita lakukan. Kita sedang melakukan sesuatu yang sangat bermakna.

Tuhan adalah satu-satunya yan memahami apa yang kita lakukan, bahkan ketika kita tidak tahu bahwa Ia tahu. Karena kita tahu bahwa Ia memperhatikan kita, maka kita pun tahu bahwa Ia yang mengontrol makna dari sukma dunia. Karena Ia ada di sana, maka segalanya mulai mengandung makna.

Tuhan adalah satu-satunya yan memahami apa yang kita lakukan, bahkan ketika kita tidak tahu bahwa Ia tahu. Karena kita tahu bahwa Ia memperhatikan kita, maka kita pun tahu bahwa Ia yang mengontrol makna dari sukma dunia. Karena Ia ada di sana, maka segalanya mulai mengandung makna.

Janganlah malu untuk berdo’a dan meminta pertolongan yang dapat muncul dari surga. Kadang-kadang kita mencoba berperilaku seperti orang dewasa, dan kita tidak tahu babhwa, seperti pernah dikatakan Yesus Kristus, kerajaan surga menyediakan tempat pula untuk anak-anak.

Kita harus menjadi anak-anak agar mengagumi kejadian alam sehari-hari, matahari terbit pada pagi hari, tenggelam pada sore hari, lantas malam pun dihiasi rembulan. Dengan menjadi anak-anak, kita dapat memasuki pengalaman hidup. Saya pikir hal itu bisa jadi akan menyakitkan juga bagi kita.

Ada suatu saat ketika saya menulis The Alchemist, saya merasa terperangkap dalam tulisan itu. Saya sebenarnya menulis The Alchemist dalam waktu lima belas hari. Saya Koreksi. Bukan lima belas hari, tetapi tiga puluh sembilan tahun dan lima belas hari. Picasso mungkin kurang dari itu.

Dan momen dalam The Alchemist ketika si anak laki-laki mengubah dirinya menjadi angin, dan ketika saya mencapai momen itu saya pikir saya tidak tahu lagi bagaimana mengakhiri buku tersebut. Namun, buku itu menulis dirinya sendiri, dan saya tahu itu.

Jadi, saya pikir ini bukan bagian favorit saya, tetapi saya mengingatnya sejelas ingatan saya tentang hari ketika saya mengalami saat paling sulit dalam menuliskannya dan ketika jagat raya bersekutu membantu saya. (Paulo Coelho)


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
1
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *