Sebuah Penantian


DESAINART- Ibuk, jauh didalam pesantren sana aku pernah merasakan begitu berharganya waktu-waktu ku bersamamu. Aku tidak pernah menyangka sebegitu menyiksanya perasaan ini jauh dari singgasana surgamu. Begitu menyiksa hingga terkadang tak mampu ku bendung air mata untuk menahan kerinduan itu. Aku tidak pernah tahu bagaimana engkau merasakan semua perasaan ini, ketika anakanakmu pergi meninggalkan rumah untuk mencari jati diri tentang kehidupan nanti.

Ibuk, apakah engkau tahu?, dalam kesendirian terkadang aku selalu ingin pulang. Rindu dengan masakan, rindu dengan sentuhan tanganmu, rindu dengan nasehat-nasehatmu, rindu dengan semua gerak-gerikmu yang tak mampu diwakilkan oleh siapapun.

Ibuk, bagaimana mungkin engkau terlihat baik-baik saja ketika dulu melepasku. Ataukah itu hanya sandiwara mu agar aku tidak terlalu cemas memikirkan mu, agar aku bisa nyaman dan mudah belajar sekalipun derai air mata coba engkau sembunyikan?

Sedangkan dulu engkau selalu rawat aku dengan penuh kehati-hatian dan cinta kasih yang mendalam. Dari mulai aku makan hingga terlelap dalam tidur, selalu saja ada cinta yang engkau berikan. Hal itu terlihat ketika dulu sekedar membuat makanku nyaman saja engkau rela bersabar mencari kerikil-kerikil kecil didalam beras sebelum menanak nasi.

Ibuk, barangkali engkau memang lebih tersiksa dari apa yang aku rasakan sebelumnya. Karena aku sendiri merasakan hal itu di sana. Aku percaya ibuk pasti tidak baik-baik saja dirumah kan?, ibuk juga cemas pastinya, bertanya-tanya bagaimana keadaanku disana. Bagaimana makanku, bagaimana kesehatanku, bagaimana belajarku dan semua yang menjadi berbeda dikala itu. Barangkali dulu waktu ibu menanyakan kabar dan kapan aku pulang adalah puncak keriduanmu kepadaku? Puncak kerinduan yang tak mungkin bisa tergantikan kecuali dengan pertemuan.

Ibuk, aku selalu bertanya Apakah kehidupan akan terus seperti ini? Bukankah ini kehidupan yang kejam? Setelah selesai di pesantren lalu pergi lagi untuk meneruskan pendidikan di kota seberang. Setelah selesai berganti kerja bahkan menikah nantinya. Lantas berapa banyak waktu yang bisa ku berikan? Sedangkan engkau pasti menantikan kehadiranku di sisa-sisa usiamu.

Ibuk, aku minta maaf karena telah banyak menyiaka-nyiakan waktumu, doakan, agar aku dapat menjawab setiap penantianmu, agar aku dapat memberikan waktu lebih lama untuk berada disisimu, hingga pada akhirnya mengeluarkanmu dari dalam penjara kesepian.

Ibuk, terima kasih untuk segala pengorbanan yang telah engkau berikan, Semoga anak-anakmu tumbuh tak jauh dari doa-doa yang selama ini engkau panjatkan. Semoga masih ada kesempatan untuk membuatmu bahagia nantinya. Selamat ulang tahun ibuk . . . (M. Syafiq Adha)


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *