Saya dari Tiongkok, Kini Menjadi Eksil


DESAINART- Saya adalah seorang penulis yang kini menjadi eksil. Namun, hal itu bukan masalah. Saya menganggap diri saya seorang warga dunia. Saya bisa jadi orang lemah, yang diatur bukan untuk dihancurkan oleh kekuasaan tetapi saya menjadi seseorang yang berbicara kepada dunia dengan suaranya sendiri.

Semua bermula ketika saya masih muda. Disekolah menengah, saya bagus dalam matematika sebagus dalam esai-esai seni atau menulis kreatif. Ibu saya tidak ingin saya masuk di sekolah Seni Murni; saat itu, para pelukis hidup dengan penuh kesengsaraan. Hingga kemudian pada suatu hari, secara kebetulan, saya membaca kutipan dari memoar Ilya Ehrenbourg. Dalam memoar itu, Ilya menggambarkan kehidupannya di Paris pada awal 1920an.

Dia menceritakan bagaimana dia melihat perempuan memasuki suatu kafe, menaruh bayi di mejad, lantas berlalu. Perempuan itu berkata bahwa dia menaru pesan untuk orang-orang disana. Namun, dia tidak pernah kembali. Llalu, perempuan pemilik kafe meminta tip eksra dari semua pelanggan untuk membantu mengangkat anak itu.

Cerita ini sangat menyentuh hati saya, saya ingin hidup seperti itu. Saya pun memutuskan mempelajari bahasa Perancis. Saya juga ingat bahwa guru bahasa Perancis saya di Tiongkok juga punya nostalgia tentang kafe-kafe di Paris. Di kelas, guru saya menjelaskan apa itu kafe di Paris. Dia menggambarkan dengan kapur di papan tulis serangkaian sepatu perempuan, dengan begitu rumit tinggi, tajam atau denga tali sepatu.

Pada usia lima belas tahun, setelah membaca antologi karya Prospes Merimee, saya punya impian. Saya tidak dengan seorang perempuan yang bukan pualam, cantik dan dingin. Kemudian, saya tersesat di tengah kebebasan yang luas. Inilah kebebasan tersebut, apa yang di Tanah Air saya mereka sebut “dekaden”, yang membawa saya ke Perancis.. setelah beberapa episode yang menyakitkan! Pertama, saya menjadi penerjemah karya para pengarang klasik Perancis… hingga 1966.

Selama revolusi industri, saya menjadi Tentara Merah, lantas saya dikirim lagi ke pedesaan untuk mengikuti pengayaan ideologi. Disana saya menyadari bahwa saya adalah seorang penulis. Inilah saat ketika anda tidak dapat menulis untuk mewujudkan apa yang harus ditulis.

Sastra memungkinkan manusia menjaga kesadaran kemanusiaannya. Saya telah menulis, sejak masa dewasa saya. Pertama, sanjak… lalu saya menghancurkan semua sanjak itu. Saya terus menulis walaupun dilaporkan. Saya menyembunyikan tulisan saya di bawah jerami yang saya gunakan sebagai karus.

Pada akhir Revolusi kebudayaan, saya mampu merangkum aktivitas-aktivitas saya, menerjemahkan lonesco dan Prevert. “Sastra hanya dapat menjadi suara seorang individu”.

Buku pertama saya yang diterbitkan adalah esai tentang seni dalam novel modern. Saya pyn lantas menjadi target. Saya mendapatkan cap sebagai “modernis”, diasingkan, diduga bersekutu dengan sastra Barat. Sayang dianggap menderita “polusi spiritual”. Saya menggetarkan basis-basis realisme revolusioner, dan mereka meminta saya membuat kritik diri yang bersifat publik dan diterbitkan oleh media umum.

Saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya harus bertahan, menulis untuk diri sendiri, tanpa bayangan seperti apa estetika paling cemerlang yang mungkin mampu membatasinya, bahkan andai pun karya saya tidak diterbitkan.

Saya menulisĀ Soul MountainĀ (Gunung Sukma) yang menyajikan apa yang saya percayai dan saya melakukan sesuatu eksplorasi yang mendorong individu mengekspresikan diri dengan kebebasan menyeluruh. Ini suatu fabel campuran, catatan perjalanan, catatan tahunan, catatan keseharian… kebalikan atas apa yang dianjurkan oleh kekuasaan!

Saya memerlukan tujuh tahun untuk menulisnya. Saya menyelesaikannya di Perancis. Saya menganggapnya sebagai tantangan. Saya diundang di sini, saya tinggal di sini. Saya mendapatkan nafkah hidup melalui lukisan saya.

Saya juga sebenarnya adalah seorang pelukis. Dan ada perbedaan antara lukisan dan sastra dalam hal perbedaan suara. Saya mendengar. Dalam sastra, saya mencari kata-kata sebagai suara. Dalam lukisan, tindakan muncul dari tubuh. Saya melukis sambil mendengarkan musik. Saya menyukai musik, bahkan ketika saya masih snagat muda saya sudah memainkan biola dan seruling.

Penulis adalah orang biasa dan bukan juru bicara banyak orang, dan sastra tidak hanya dapat menjadi suara seorang individu.

Dihadapan Akademi Swedia, saya benar-benar ingin mengingatkan mereka bahwa penulis adalah orang biasa dan bukan juru bicara banyak orang, dan sastra tidak hanya dapat menjadi suara seorang individu.

Bagi saya, menulis ide untuk negeri sendiri dan berusara untuk suatu partai tidak bisa lagi disebut sastra. Para penulis tidak memamerkan kemampuannya, mereka bukan juru bicara bagi banyak orang, dan sastra tidak hanya menjadi suara seorang individu.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Admin

desainart.net dibangun pada tahun 2018 dengan harapan dapat menjadi media alternatif yang menginspirasi khususnya kaum milenial. desainart berawal dari sekumpulan orang yang sedang berusaha tidur teratur dan sedang berlajar menjadi muslim yang baik.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *