DESAINART- Hallo SobatArt ! Postingan kali ini kita akan upload salah satu karya sastra (puisi) milik Bapak Sutardji Calzoum Bachri. Mungkin asing bagi orang-orang awam yang tidak begitu menyukai karya-karya sastra, namun bagi sobat penggila karya sastra nama Sutardji sudah tidak lagi asing di telinga.

Siapa itu Sutardji Calzoum Bachri ?

Ia adalah seorang penyair Indonesia yang telah menunjukan kesetiaannya berkarya dalam bidang puisi dan juga cerpen. Pemikiran-pemikirannya tentang kehidupan sastra dan tradisi perpuisian di Indonesia telah menghasilkan sejumlah esai yang dapat membantu pembaca untuk lebih memahami sikap dan karya kepengarangannya.

Kerap kali ia melontarkan komentar dan kritik tentang puisi penyair muda dna penyair sezamannya, hal ini tentu dapat menjadi sebuah rujukan dalam pengkajian puisi Indonesia modern.

Sebagai manusia, Sutardji tidak selalu berada dalam posisi puncak, namun dakian-dakian kreativitas yang dicapainya menempatkannya pada posisi yang pantas untuk menerima Anugerah Sastra Mastera Brunei Darussalam tahun 2006.

Selain pengabdiannya yang total pada dunia kesastraan, komitmennya pada upaya menggali puitika lama dengan megembalikan puisi pada mantera, pada kekuatan lama sangat menarik untuk di kaji lebih dalam lagi.

Baginya, menulis puisi dan cerpen di tengah masyarakat yang luka merupakan tantangan bagi hidup kepenyairannya.

JEMBATAN

Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung air mata bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam
basa-basi dalam teduh pakewuh dalam isyarah dan kilah tanpa makna

Maka aku pun pergi menatap pada wajah orang berjuta
Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
Wajah orang tergusur.
Wajah orang ditilang malang.
Wajah para pemuda yang matanya letih menimak daftar lowongan kerja.
Wajah yang tercabik dalam pengap pabrik.
Wajah yang disapu sepatu.
Wajah legam para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase indah diberbagai plaza.
Wajah yang diam-diam menjerit melengking melolong dan mengucap :
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu !
Tapi wahai saudara
satu bendera, kenapa kini ada sesuatu yang terasa jauh beda diantara kita?

Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota,
jembatan-jembatan tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang ada,
tapi siapakah yang mampu menjembatani jurang di antara kita?

Di lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang dan otot linu mengerang mereka pancangkang koyak-moyak bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara.

Gerimis tak mampu menguncupkan kibranya.
Lain tanpa tangis mereka menyanyi :
Padamu negeri
Airmata kami

Sutardji Calzoum Bachri (1993 / 1997)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *