Riwayat Singkat Rabi’ah Al-Adawiah


Pada waktu kelahirannya itu ayah dan ibunya dalam cobaan Allah Ta’ala hidup dalam kemiskinan namun mereka ini tetap bertawakkal kepada Allah, Ayahandanya senantiasa membaca 5 Juz Al-Qur’an setelah selesai shalat Isya’, melakukan shalat Tahajjut dan berzikir sampai subuh, setelah Rabi’ah lahir ayahnya ditawari pekerjaan mengajarkan membaca Al-Qur’an untuk anak-anak orang kaya di Baghdad.

Semasa kecilnya Rabi’ah tumbuh seperti anak-anak sebayanya secara wajar, ia kelihatan cerdik dan lincah. Pancaran sinar ketaqwaan telah tampak  jelas pada pribadinya.

Abdul Mun’im Qandil, mengisahkan dalam bukunya, Figur Wanita Sufi, menceritakan: Ayah ibu Rabi’ah terheran mendengar kata-kata yang diucapkannya ketika ia ditanya oleh Ayahnya, “Wahai Rabi’ah, bagaimana pendapatmu sekiranya ayah tidak menemukan makanan kecuali yang haram?” dengan tangkas ia menjawab, “Kita harus banyak bersabar, karena menahan lapar di dunia jauh lebih ringan dan lebih baik dari pada menanggung siksa neraka”.

Jawaban Rabi’ah ini menyangkut halal dan haram, sabar dan siksa neraka, menunjukkan bahwasannya dia telah memilih jalan yang terang; tanda-tanda kejuhudan, ketaqwaan serta ke wira’an telah tampak pada dirinya. Perwujudan cintanya kepada Allah dengan cara bezikir, menjauhkan diri dari hal-hal yang Syubhat, memelihara sifat-sifat terpuji, berakhlaq karimah, berpenampilan simpati, ia juga telah hafal Al-Qur’an ketika berumur 10 tahun, ia mempunyai ingatan yang kuat. Semasa kecilnya selalu dibawa oleh ayahnya ke Mesjid, dengan maksud agar akhlaqnya terpelihara dari pengaruh akhlaq masyarakat Baghdad kala itu, yang gemerlap dengan kesenangan duniawi.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia ia dijual sbagai budak.  Tetapi pada akhirnya ia memperoleh kemerdekaan. Menurut orang yang memilikinya, ia mempunyai cahaya di atas kepalanya sewaktu ia beribadah, yang dapat menerangi seluruh ruangan rumah. Setelah dibebaskan ia pergi menyendiri ke padang pasir dan memilih hidup zahid.

Hati Rabi’ah sudah penuh dengan cahaya cinta kepada Tuhan, beribadah dan berdialog dengan Allah mempunyai keasyikan dan kelezatan tersendiri baginya.

Derita silih berganti yang dihadapinya sejak meninggalnya kedua orang tuanya, dan ketika kota Basrah dilanda kemarau panjang, lalu diceritakan pula Rabi’ah terpisah dari kakaknya karena diculik dan kemudian dijadikan budak, semuanya menjadi motivasi bagi Rabi’ah untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Siang dan malam ia selalu sibuk dengan zikir, Tashbih, Shalat, Tafakkur. Ia shalat sepanjang malam, bila fajar tiba, ia  tidur sebentar setelah dia bangun  dia selalu berkata : “Wahai jiwa, berapa lama engkau tertidur? Sampai mana engkau tertidur? Engkau terlalu nyenyak tidur, sehingga hampir saja  tertidur tanpa bangkit kembali kecuali oleh terompet hari kebangkitan”, hal ini dilakukannya setiap hari sampai akhir hayatnya.

Rabi’ah hidup dalam keadaan miskin dan ketika teman-temannya ingin membantunya, ia menolak bantuan mereka. Salah seorang  dari mereka memberikan rumah kepadanya. Ia mengatakan : “Aku takut kalau-kalau rumah ini akan mengikat hatiku, sehingga aku terganggu dalam amal ku untuk akhirat”.

Kepada seorang pengunjung ia memberikan nasihat : “Pandangan dunia ini sebagai sesuatu yang hina dan tiada berharga”

Dia selalu menangis bukan karena memikirkan kekasihnya di  dunia,  tetapi karena kerinduan pada Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, yang kasih sayang-Nya tiada tanding.

Menurut riwayat dari Imam Sya’rani, pada suatu waktu ada seseorang  yang menyebut-nyebut azab dan siksa neraka dihadapan Rabi’ah, maka Rabi’ah pingsan, dalam menyebut Istighfar kepada Allah, setelah siuman dari pingsannya itu beliau berkata : “Saya mesti meminta ampun, dari cara saya meminta ampun (yang pertama) tadi”. Sajadah tempat beliau sujud senantiasa basah oleh air matanya.

Rabi’ah hidup sezaman dengan Sofyan Tsaury, seorang zuhud ternama, salah seorang murid Hasan Basyri.

Suatu ketika Sofyan mengeluh, “wahai sedihnya hatiku”,  sebagai  suatu ungkapan sedih oleh seorang sufi yang diajarkan oleh gurunya, mendengar ini Rabi’ah berkata, “Kesedihan kita masih sedikit sekali, karena kalau kita benar- benar sedih kita tidak ada lagi di dunia ini”.

Ajaran yang ditinggalkan oleh Rabi’ah, juga syair-syair cintanya, yang memuji keagungan Tuhan digemakan kembali dalam kehidupan sufi lainnya seperti : Ibnul Farid, Al-Hallaj, Jalaluddin Ar-Rumi dan lainnya. Bahagian dari Syair Rabi’ah itu adalah :

Artinya : ‘Aku mencintai-Mu dengan dua cinta,
Cinta karena rinduku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaanku yang  senantiasa mengingat- Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan Tabir hingga Engkau kulihat. Baik untuk ini, maupun untuk itu, pujian bukanlah untukku, bagi-Mu lah pujian untuk semuanya.

Rabi’ah sufi yang terkenal dengan Mahabbahnya itu menerangkan pula : Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena ingin masuk sorga, tetapi karena cintaku kepada-Nya.

Taubat menurut Rabi’ah; taubat seseorang yang melakukan maksiat adalah berdasarkan kehendak Allah, bukan kehendak manusia itu sendiri. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan membukakan pintu taubat  bagi  seseorang  yang berbuat maksiat. Suatu ketika seseorang bertanya kepada Rabi’ah : “aku ini banyak berbuat maksiat dan dosa; adakah Allah akan membuka pintu taubat jika aku bertaubat? Rabi’ah menjawab, “Tidak, sebaliknya, kalau Allah berkenan membuka pintu taubat untukmu, maka kamu akan bertaubat”. Allah mengetuk hati makhluk-Nya untuk sadar akan perbuatan dosa dan kembali ke jalan-Nya.

Mengenai Ridha, diriwayatkan oleh al-Kalabazi, suatu ketika Sofyan Saury berkata di depan Rabi’ah : “Ya, Tuhanku, ridhailah diriku ini!”, maka Rabi’ah berkata : “Tidakkah engkau malu meminta keridhaan dari Tuhan, yang engkau sendiri tidak ridha kepadaNya”. Ucapan ini mengandung arti bahwa : Ridha itu berlangsung secara timbal balik, antara seorang hamba dengan Tuhannya. Sesuai dengan firman Allah Ta’ala :

Artinya : ‘Allah Ridha kepada mereka dan merekapun Ridha kepadaNya’ (QS 5 : 119).


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *