Refleksi Satu Tahun Covid-19


Perjalanan bangsa ini yang sejak awal kemerdekaan telah banyak menghadapi tantangan serius. Kita pernah menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh krisis keuangan Asia dan kemiskinan serta kehancuran ekonomi yang ditimbulkannya pada 1997. Kita juga pernah menghadapi krisis politik pada saat yang hampir bersamaan, pada 1998. Ini mengakibatkan kerusuhan dan bahkan pertumpahan darah ketika bangsa kita hendak memasuki era reformasi.

Selain itu, banyak peristiwa bencana alam yang telah terjadi seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor dan juga banjir dan juga peristiwa lainnya. Rasanya, bangsa ini sudah tak asing lagi dengan tantangan demi tantangan yang datang silih berganti. Bahkan bukan hanya menerima tantangannya, tapi juga dengan segala perubahan yang dibawanya.

Hingga di zaman modern ini, kita sedang menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yaitu penularan penyakit yang penyebarannya melalui virus, yaitu Covid-19. Ini bukan penyakit biasa dan tentu tidak bisa diobati serta dikalahkan dengan cara biasa.

Selama hampir satu tahun pandemi Covid-19 ini berlangsung, kita semua dipaksa agar bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru yang sangat kontradiktif dengan budaya masyarakat kita di Indonesia.

Kegembiraan masyarakat yang biasanya tercipta saat bertemu, berdekatan, berkomunikasi dan dapat melakukan kontak secara langsung, harus ditunda dan hanya boleh dilanjutkan saat ancaman ini berlalu. Secara tidak langsung covid-19 telah mempromosikan individualitas, melarang kebersamaan dan bahkan menuntut risiko yang tinggi bagi mereka yang memaksa untuk terus berinteraksi satu dengan yang lainnya.

Keadaan semacam ini menguji kita, apakah kita cukup pintar untuk mengalahkan virus ini dengan bertindak bijak? Dan juga menguji keteguhan bangsa Indonesia, dapatkah terus kuat dan berdaulat?

Sebagai masyarakat awam, kita wajib berikhtiar sebisa mungkin mematuhi saran dari dokter dan otoritas medis negara kita. Yaitu dengan 3M, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan.

Kita berharap agar semuanya dapat pulih kembali dan segera beraktivitas seperti biasa. Dimana mengobrol merupakan bagian dari keseharian, sementara warung kopi adalah ruang pertemuan tak resmi di tengah masyarakat kita.


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *