Profil Jalaluddin Rumi


Sebagai seorang ahli fiqih sekaligus sufi, Baha‟uddin Walad memiliki pengetahuan eksoterik, yang berkaitan dengan hukum Islam atau syari‟ah maupun pengetahuan esoterik, yang berkaitan dengan tasawuf. Berkaitan dengan yang pertama, dia mengajarkan kepada setiap muslim tentang bagaimana caranya menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Sedangkan dalam kaitan yang kedua, dia mengajarkan bagaimana caranya melalui disiplin-disiplin tertentu, menyucikan diri dan meraih kesempurnaan rohani.

Baha‟uddin Walad adalah pengarang kitab Ma‟arif, sebuah ikhtisar panjang tentang ajaran-ajaran rohani yang sangat dikuasai Rumi. Kelak corak dan isinya tampak jelas mempengaruhi karya-karyanya. Ia sangat memperhatikan ilmu-ilmu keislaman. Ia juga mempelejari dengan tekun kitab suci al-Qur‟an, baik membaca, penjelasan atau pun penafsirannya. Penelusuran keilmuannya tidak berhenti sampai di sana. Ia juga mempelajari fiqih dan hadits. Pengetahuannya yang luas dalam kajian keislaman ditunjukkan dalam karya-karyanya yang mendalam.

Balkh, pada tahun-tahun awal abad ke-13, di samping menjadi pusat pembelajaran yang maju, juga merupakan pusat perdagangan. Tetapi keadaan politik memaksa terjadinya perubahan besar-besaran, seiring dengan terjadinya penyerbuan besar-besaran tentara Mongol dari Asia Dalam. Tepat pada 1220 M Balkh diserbu, digasak, dan dimusnahkan hingga runtuh oleh tentara Mongol. Tapi penghancuran Balkh oleh tentara Mongol tidak berpengaruh pada Baha‟uddin Walad dan keluarganya. Mereka telah pindah dari Balkh satu atau dua tahun sebelum penghancuran tersebut. Dalam pengelanaannya, keluarga itu melewati Baghdad ke Mekkah, kemudian ke Syria, dan akhirnya sampai di Anatolia Tengah. Keluarga itu kemudian menetap di Laranda (Karaman, sekarang Turki). Di sana Rumi menikah dengan Jauhar Khatun, seorang gadis muda berasal dari Samarkand.

Pada tahun 1228 M, atas undangan pangeran Ala‟uddin Kay-Qubad, Baha‟uddin Walad memboyong keluarganya ke Konya, ibukota kesultanan Rum Seljuk yang sedang berkembang pesat, dan pada saat itu masih jauh dari jangkauan tentara Mongol. Di kota ini Baha‟uddin Walad menjadi pengajar sebagaimana yang ia lakukan di Balkh. Pada Januari 1231 M Baha‟uddin Walad, yang mendapat julukan “Sultan Kaum Terpelajar”, wafat dan meninggalkan Rumi, anaknya, sebagai penggantinya.

Segera setelah kematian Baha‟uddin Walad, salah seorang mantan muridnya, Sayyid Burhanuddin Muhaqqiq dari Termez, tiba di Konya. Dialah yang memperkenalkan Rumi muda dengan misteri kehidupan spiritual. Sejak saat itu Rumi mencurahkan perhatian terhadap mistisme secara mendalam. Ia menjadi peminat yang penuh hasrat terhadap puisi-puisi Arab karya Al-Mutanabbi. Ia sering mengutip baitbait Al-Mutanabbi dalam karya-karyanya. Setelah sekian lama mengikuti Burhanuddin, Rumi dikirim ke Aleppo dan Damaskus untuk melengkapi pengetahuannya dengan pelatihan spiritual formal. Di sana ia berguru pada ahli-ahli sufi yang lain. Tap walaupun berguru pada ahli-ahli sufi yang lain, Rumi tetap berada di bawah pengawasan Burhanuddin hingga tahun 1240 M ketika Burhanuddin wafat di Keyseri. Beberapa tahun setelah kematian gurunya, Rumi menjadi guru yang melayani murid dan pengikutnya. Pada bulan Oktober tahun 1244 M, satu sosok penuh misteri dan teka-teki, seorang darwish pengelana bernama Syamsuddin Muhammad dari Tabriz, tiba di Konya dan menginap di penginapan milik saudagar gula.

Pada tahun-tahun itu Rumi masih sibuk mengajar. Suatu hari ia berkendaraan keluar dari sekolah dengan sekelompok orang terpelajar dan kebetulan melewati penginapan milik saudagar gula. Syamsuddin muncul, lalu memegang kendali kuda Rumi, dan bertanya, “Wahai pemimpin muslim, manakah yang lebih agung, Bayazid atau Nabi Muhammad?”

Rumi menjawab, “Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit, bagaikan tujuh surga hancur terkoyak-koyak dan jatuh berantakan ke bumi. Kebakaran besar muncul dalam diriku dan menimbulkan api ke otakku. Dari sana aku melihat gumpalan asap mencapai tiang-tiang singgasana Tuhan. Aku menjawab, “Nabi adalah sosok paling agung dari seluruh manusia, mengapa mesti membicarakan Bayazid?”

Dia bertanya, “Bagaimana mungkin Nabi menjadi manusia paling agung. Rasul pernah bersabda, „Kami belum mengetahui Engkau dengan cara yang sebagaimana mestinya Engkau diketahui.‟ Sedangkan Bayazid berani berkata, „Mulialah Aku! Betapa agungnya Aku! dan Aku adalah kuasa segala Kuasa!”

Rumi menjawab, “Kehausan Bayazid telah terpuaskan hanya dengan satu tegukan. Dia akan mengatakan telah cukup dengan satu tegukan itu, kendi pemahamannya telah terisi. Pencahayaannya hanya sebanyak yang muncul melalui cahaya langit dari rumahnya. Nabi, pada sisilain, meminta agar diberi lebih banyak untuk minum dan selalu merasa kehausa. Dia berbicara tentang kehausan dan bahkan terus memohon agar ditarik lebih mendekat”.

Syamsuddin serta merta menangis dan jatuh tidak sadarkan diri. Rumi bergegas turun dari kudanya lalu memerintahkan murid-murdnya untuk membawa Syamsuddin ke sekolah. Ketika Syamsuddin sadar kembali, dia menundukkan kepalanya di atas lutut Rumi.

Setelah itu Rumi merengkuh Syamsuddin dengan tangannya, lalu keduanya pergi. Selama tiga bulan mereka mengasingkan diri dari keramaian, siang dan malam. Dalam merasakan manisnya persatuan itu, tidak seorangpun yang melihat keduanya. Mereka tidak pernah mengganggu kebebasan dua orang tersebut.

Sahabat dan murid-murid Rumi merasa malu melihat guru mereka yang bijaksana terserap dara diri darwish nyentrik itu. Tetapi Rumi sendiri merasa bahwa bahwa dia telah menemukan “kekasih” sempurna, orang yang di dalam dirinya mencerminkan cahaya Ilahi dengan sempurna. Perasaan itu saja tidak cukup bagi Rumi. Ia menjadi tergilagila pada Syams. Keasikan dengan “pangeran para kekasihnya” itu membuat ia terpisah dari murud-muridnya. Para murid dan pengikut Rumi cemburu dan marah melihat pribadi, perilaku serta kehidupan Syams. Tidak lama setelah merayakan pertemuan itu, Syams tiba-tiba menghilang. Kepergian Syams membuat Rumi kesepian dan putus asa.

Hilangnya Syams dan kerinduan yang timbul di dalam jiwanya pada kekasih spiritual menjadi pemicu pada diri Rumi untuk menggubah dan melagukan hasratnya yang merindu dalam lirik puisi Persia. Akhirnya Rumi mengetahi bahwa Syamsuddin pergi ke Damaskus, lalu ia mengutus putra tertuanya, sultan Walad untuk membawa Syams kembali ke Konya. Syams akhirnya menempati rumah Rumi dan menikahi gadis muda pelayan rumah. Dia menetap di sana hingga tahun 1248 M, sebelum akhirnya menghilang sekali lagi dan tidak pernah ditemukan kembali. Tuduhan pembunuhan oleh anak kedua Rumi yang dilontarkan Aflaki, salah seorang penulis awal biografi, saat ini banyak diakui kebenarannya.

Rumi amat terkejut oleh perpisahan kedua ini hingga kemudian dia memutuskan untuk pergi sendiri ke Syria, satu atau dua kali, untuk mencari sahabatnya. Pada akhirnya, dia menyadari bahwa Syams, baik secara fisikal ataupun metaforik tidak akan ditemukan dan dia memutuskan untuk lebih mencari Syams “yang nyata” di dalam dirinya sendiri. Proses pemenuhan perkenalan antara pencinta dan kekasihanya telah terpenuhi: Rumi dan Syams bukan merupakan dua jiwa yang terpisah. Mereka satu selamanya.

Tidak lama setelah peristiwa itu, Rumi menemukan sebuah “cermin” baru untuk memantulkan cinta sempurna. Kali ini ia temukan dalam diri Salahuddin Faridun Zarkub, seorang tukang emas yang pernah menjadipengikut Sayyid Burhanuddin Muhaqqiq. Jika kedekatan Rumi dengan Syamsuddin, dengan segala keanehan dirinya, seorang yang amat tinggi terdidik dan terpelajar, amat sukar ditolerir muridmurid Rumi, aka penyatuan spiritual baru dengan pengrajin yang tidak terdidik ini melebihi batas kemampuan toleransi mereka. Meski demikian Rumi mengabaikan desas-desus dan fitnahan yang muncul atas hubungannya dengan pengrajin itu. Dia tetap melanjutkan hubungannya dengan Salahuddin dalam pertemanan diam-diam, berbeda dengan hasrat berapi-api yang menjadi cirikas kasih sayangnya kepada Syams. Tapi hibungan spiritual tersebut terputus karena penyakit Salahuddin yang terus-menerus menderanya hingga membawanya menuju kematian pada tahun 1258 M. Setelah kematian Salahuddin, kebutuhan untuk “cermin” di mana seorang pencinta mampu melemparkan citranya sekali lagi muncul dan mendesak-desak dalam diri Rumi. Sosok Rumi yang kemudian muncul sebagai seorang guru dan pembimbing terilhami oleh Husamuddin Chelebi, seorang sufi yang terkenal sangat suhud dan telah lama dikenal oleh Rumi. Atas permintaan Husamuddinlah Rumi menggubah Matsnawi. Selama bertahun-tahun Husamuddin berada di sisi gurunya untuk merekap setiap sajak yang ia lontarkan.

Setelah menjalani kehidupan mengajar, membimbing, dan melayani kebutuhan pengikut dan sahabatnya, Rumi meninggal dunia pada 17 desember 1273. Ketika merasakan sakit yang terakhir, ia berkata pada sahabatnya, “Di dunia ini aku merasakan dua kedekatan. Satu kepada tubuh dan satu lagi kepada kalian. Ketika, karena rahmat Tuhan, aku harus melepaskan diri dari kesunyian dan kehidupan duniawi, kedekatanku kepada kalian akan tetap ada.


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *