DESAINART- Pattimura dilahirkan pada 8 Juni 1783 di Haria, Pulau Saparua, Maluku dan banyak dikenal dengan nama Thomas Matulessy. Meski begitu, ada dua versi mengemuka yang menjadi perdebatan tekait asal usul Kapitan Pattimura.

Menurut buku dari versi pemerintah RI yang pertama kali diterbitakan pada tahun 1960 oleh M. Sapija dengan judul, “Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahwalan Indonesia”. Dalam buku tersebut, dijelasakan bahwa Kapitan Pattimura memiliki hubungan darah (keluarga) dengan Kerajaan Sahulau yang terletak di Teluk Seram bagian selatan. Tepatnya tertulis sebagai berikut : ….

“…. bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Matulessy adalah anak dari Kasimilali Pattimura Matulessy, sedangkan yang tersebut terakhir ini adalah puteras Raja Sahulau”.
(dikutip dari hal. iii)

Versi ini menjadi versi awal yang kemudian dijadikan rujukan hingga muncul versi lain tentang Pattimura, termasuk tentang agama yang dipeluknya.

Kemudian muncul juga versi kedua yang dikemukakan oleh Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjdul “Api Sejarah” (2009 Jilid ke 1). Beliau menegaskan pemaparan yang berbeda mengenai Pattimura.

Disebutkan, nama Asli Pattimura adalah Ahmad Lussy atau Mat Lussy, lahir di Hauloy, Seram Selatan. Beliau menyebutkan bahwa Kapen Pattimura adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Sahulau yang diyakininya beragama Islam di bawah pemerintahan Sultan Kasimillah atau dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali. (Dikutip dari hal. 200).

Ditegaskan kembali oleh Suryanegara, perlawanan rakyat Maluku dipimpin oleh Kapten Pattimura pada 1817 terjadi akibat penindasan dan kekejaman penjajahan Protestan Belanda. Tepatnya di tulis,

“……. Di Ambon, penyandang nama Pattimura adalah Muslim. Oleh karena itu, salahlah jika dalam penulisan sejarah, Kapten Pattimura disebut seorang penganut Kristen”. (dikutip dari hal. 202).

Meski memiliki perbedaan yang cukup tajam, namun kedua versi ini juga memiliki kesamaan. Tentang Kerajaan Sahulau, terkait lokasi dan nama rajanya. Meski tempat lahirnya berbeda.

Di versi pertama, yang menjadi “versi resmi” tentang Pattimura, tidak disebutkan secara jelas tentang hal yang berhubungan dengan agama yang dianut oleh Kapitan. Begitu juga tentang buku-buku lain yang merujuk pada versi ini.

Jejak Singkat Perjuangan Pattimura

Tahun 1816, Belanda berkuasa kembali di Maluku setelah merebutnya dari Inggris. Sejak saat itulah kekayaan Maluku di Kuras dan rakyatnya dipaksa bekerja Rodi.

Namun, pada 14 Mei 1817, di bawah komando Kapitan Pattimura, rakyat Maluku kompak melawan Belanda hingga banyak tentara Belanda yang terbunuh.

Gubernur Belanda di Ambon (Mayor Beetjees) sadar dengan sepak terjang Pattimura, hingga memerintahkan merebut kembali benteng tersebut dan segera menghentikan Pattimura agar mereka tidak menderita dan mengalami kerugian yang semakin besar.

Meski Kapitan sangat tangguh, sukar dikalahkan dan didukung soleh segenap rakyat dan raja-raja kecil di Kepulauan Maluku, namun dengan bala bantuan dari luar maka benteng Duurstede berhsil direbut dari pasukan Pattimura.

Di Palu, barisan Pattimura juga berhasil merebut benteng Hoorn, akibatnya Belanda kembali menyerang. Dengan taktik khas belanda devide et impera, akhirnya ada beberapa sekutu Pattimura yang berhasil dipengaruhi. Pattimura berhasil tertangkap sewaktu di Siri Sori, kemudian dibawa ke Ambon.

Sebelumnya Belanda menawarkan kerjasama, tetapi kemudian ditolak oleh Pattimura karena merugikan rakyat. Akhirnya Pattimura dijatuhi hukuman mati bersama rekan seperjuangannya yatitu Anthony Reebook, Philip Latumahina, serta Said Parintah. Hukuman gantung dilaksanakan pada 16 Desember 1817. Kapitan Pattimura gugur di tiang gantungan pada usia yang relatif masih muda, 34 tahun.

Pada 6 Nopember 1973, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Kapitan Pattimura sebagai Pahlawan Nasional dengan Nomor SK No. 078/TK/1973.

Pattimura-Pattimura Tua Boleh Dihancurkan, Tetapi Kelak Pattimura-Pattimura Muda akan Bangkit.

(disampaikan pada saat Pattimura akan di hukum gantung)

Haturnuhun sudah mampir, semoga bermanfaat 🙂


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
DESAINART

Blog ini tidak bermaksud menampilkan data-data valid atau informasi lengkap, tapi kami mengajak siapa saja yang singgah disni, melihat hal-hal keseharian dengan lebih sederhana, santai, wajar bahkan jenaka, tetapi tetap menemukan kedalaman.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *