Penyesalan Marshall


DESAINART- Seorang anak laki-laki berlari buru-buru mengejar bus sekolah sambil memegang erat tasnya. Sang supir bus akhirnya berhenti tiba-tiba dan pintu otomatis terbuka. “Lain kali jangan terlambat. Bus ini tidak bisa menunggu mu setiap hari!”, ucap sang supir.

Namanya Marshall, seorang siswa SMA tingkat 2 di Riverside STEM Academy yang merupakan SMA terbaik di California, Amerika. Tiba di dalam bus, matanya mulai melirik Mila, seoang adik kelas tingkat satu yang ia dambakan. Mila adalah gadis populer di sekolahnya dan ia dikenal haya bergaul pada teman-teman yang kaya dan sama populernya.

Nina, teman dekat Mila, memberi sinyal kepada Mila bahwa lagi-lagi Marshall memandanginya dari tempat duduknya di depan Mila. “Berhenti memandangku seperti itu, menyebalkan”, teriak Mila kepada Marshall.

Bus akhirnya sampai di tujuan. Mila turun dari bus sambil tengah berdiskusi dengan Nina tentang tugas makalah yang harus mereka selesaikan Rabu depan. Marshall mendengar hal itu. Ia mencoba mendekati Mila dan berkata “Aku dengar kau punya tugas makalah. Apa itu terasa sulit bagimu? Jangan khawatir, aku bisa membantumu”.

Nina kemudian menarik Mila yang berada di dekatnya dan berbisik “Hei, mengapa tidak kau manfaatkan si pria kutu buku ini? Kita tidak perlu susah-susah menyelesaikan tugas ini bukan?”. Mila mengangguk tanda setuju dan ia menghampiri Marshall “Ide yang bagus kak. Bagaimana bila kita mengerjakannya di rumah mu? Aku pikir aku butuh suasana baru”.

Akhirnya mereka sepakat dan akan mengerjakannya di rumah Marshall hari Sabtu jam 10 pagi. Sesampainya di kelas, ia mengetik pesan WA kepada ibunya “Bu, temanku akan datang hari Sabtu ini dan hendak belajar di rumah. Tidak masalah bukan? Aku akan membantu adik kelas ku Mila untuk mengerjakan tugas”. 15 menit kemudian pesan masuk dan ibunya mengiyakannya.

Tidak lama, Sammy, teman dekat Marshall datang dan menyapanya. Ia hendak mengajak Marshall bermain bola di hari Sabtu ini. Marshall pun menolak tawaran tersebut dengan alasan karena ada janji dengan Mila. Itu adalah kali pertama Marshall menolak bermain bola bersama Sammy.

“Apa? Aku tidak salah dengar? Bagaimana kau bisa mendekati Mila? Sudah 6 bulan sejak kau suka padanya, tidak satupun respon positif yang ia berikan padamu”, tanya Sammy.

Marshall menjelaskan bahwa ia hendak membantu Mila dan Nina megerjakan tugas. Sammny kemudian berkata hendak bermain ke rumah Marshall sepulang sekolah dan Marshall menyetujuinya.

Jam menunjukkan pukul 5 sore. Saatnya pulang bersama Sammy ke rumah. Mereka hendak bermain PES di PS3 seri terbaru. Setibanya di rumah, Marshall hendak berganti baju dan Sammy menunggu di ruang tamu. Ibu Marshall kemudian menyediakan jus jeruk untuknya dan Marshall.

Kemudian ibunya bertanya kepada Sammy “Sam, maaf tante mau bertanya. Apakah kau mengenal Mila?” Sam mengangguk dan dia menjelaskan bahwa Mila adalah adik kelas mereka dan Marshall menyukainya sejak ia masuk di sekolah yang sama.

Kemudian ibu Marshall membalas, bahwa mereka hendak belajar bersama di rumah ini. Sam kemudian menanggapi “Tapi tante, sebenarnya saya ada perasaan buruk soal ini. Saya hanya takut Marshall dimanfaatkan oleh Mila”. Kemudian hening pecah setelah Marshall datang. Ibu Marshall kembali ke dapur dan dua anak laki-laki itu mulai bermain PS 3.

Hari yang dinanti pun tiba. Hari Sabtu. Marshall pagi-pagi sudah bangun, mandi, berpakaian rapi dan wangi. Ibunya melihat hal itu bertanya “Rapi dan wangi sekali. Mila dan temannya kapan datang ke rumah?”. Marshall menjawab “jam 10 pagi Bu. Ibu sepertinya ingin tahu banget”.

Bel rumah Marshall berbunyi. Mila dan Nina datang dan langsung dipersilahkan masuk. Ibu Marshall masuk ke dapur untuk menyiapkan minuman dan jajanan untuk mereka. Tidak lama setelah siap menghidangkannya, ia berjalan menuju ruang tamu. “Nama saya Mila dan ini teman saya Nina. Kami hendak belajar bersama di sini, mohon bantuan ya Marshall” sapa Mila dan Nina.

Mila memang terlihat seperti anak manis dan baik hati. Ibu Marshall menyapanya dan kemudian masuk ke dalam kamar. Mereka mulai untuk belajar bersama. Satu jam kemudian, Ibu Marshall keluar dari kamar dan mengintip kegiatan belajar mereka. Ibunya kaget saat melihat Mila tertidur pulas di sofa bludru biru muda itu dan Nina tengah asik bermain tik-tok.

Marshall terlihat begitu serius mengerjakan tugas adik-adik kelasnya tersebut. Tidak lama Marshall menuju toilet yang letaknya tidak jauh dari kamar ibunya. “Marshall, ibu lihat kau mengerjakan semua tugas itu sendiri Ibu rasa itu bukan hal yang baik.  Seharusnya kau tidak perlu sampai harus menyelesaikanya, biar mereka yang melakukannya. Sebab itu bukan tugasmu tetapi mereka” sahut ibunya.

“Tidak apa-apa Bu, lagipula aku tidak ada kegiatan di hari Sabtu. Ayah pergi bekerja untuk lembur, jadi tidak ada salahnya membantu. Dan lagi, aku memang menyukainya Bu” jawab Marshall.

“Ibu hanya memberi nasehat, sepertinya Mila bukan anak yang baik. Ibu rasa ia hanya memanfaakan kecerdasanmu. Mungkin sebelunya ia juga tahu bahwa kau menyukainya”, balas ibunya.

Marshall yang terlihat kecewa dengan kata-kata ibunya langsung pergi meninggalkan ibunya dengan wajah kesal. “Mila itu orang yang aku suka dan dia tidak sedang memanfaatkan ku. Kata-kata ibu menyebalkan” gumamnya dalam hati.

Tidak terasa jam menunjukkan pukul 12 siang dan Ibu Marshall sedang mempersiapkan makan siang untuk mereka. Ia juga mempersilahkan mereka untuk duduk di meja makan dan makan bersama.

Lasagna daging sapi, spaghetti, adalah salah satu menu yang disajikan. Marshall dan keluarga memang merupakan keluarga keturunan Italia-Amerika, sehingga meskipun tinggal di California, mereka tetap menjaga agar makanan khas Italia pun tidak sampai terlewatkan.

Mila memuji masakan Ibu Marshall. Tidak lama Ibu Marshall bertanya pada Mila dimana ia tinggal. Ia menjawab ia tinggal sekitar 4,2 mil dari sekolah, tepatnya di Eucalyptus Ave. Tidak lama ibu Marshall menyinggung soal tugas yang dikerjakan mereka bersama.

Menurutnya, tugas itu didominasi oleh Marshall yang megerjakannya. Mendengar hal itu Marshall memotong pembicaraan “Ibu, lagi pula dia adik kelas ku dan aku wajib membantunya”. Mila terlihat agak malu.

Kemudian Nina mengganti topik soal ayah Marshall yang tidak kelihatan hari itu. “Ayah Marshall memang seorang yang sibuk dan hari ini harus lembur karena diminta oleh peusahaannya. Oh ya, Nina tinggal dimana?”

Nina menjelaskan bahwa ia tinggal di Enterprise Ave sekitar 3,8 mil dari sekolah. Mila masih diam karena kata-kata ibu Marshall. Setelah makan siang, Mila berbisik pada Nina dan meminta agar mereka segera kembali pulang.

Sejam kemudian, Marshall yang tengah begitu sibuk dikejutkan dengan kata-kata Mila bahwa ia harus segera kembali pulang, karena ibuya memintanya. Marshall merasa ada yang aneh dan menyinggung apakah itu karena perkataan ibunya atau tidak.

“Tidak, aku harus kembali. Sepertinya Ibu meminta ku kembali”, jawab Mila. Nina pun mengangguk tanda ia pun harus pulang bersama Mila. Akhrinya mereka pulang buru-buru tanpa pamit. Tidak lama, supir Mila datang menjemput mereka berdua.

Marshall kemudian menghampiri ibunya “Ibu, apa yang ibu katakana barusan telah membuat Mila sedih dan kecewa. Aku tidak keberatan membantunya, tetapi mengapa ibu berkata seperti itu? Mila pasti membenciku”, keluh Marshall. Ia langsung masuk ke kamar dan membanting pintu.

Melihat hal itu ibunya pun menutup pintu dengan sedih dan menangis di dalam kamar. Pukul 4 sore, ayah Marshall datang dari kantor dan Ibunya menyambutya seperti biasa. Ia terlihat mencari Marshall yang tidak ia temukan di ruang tamu maupun ruang keluarga.

“Dia ada di dalam kamar, mungkin sedang istirahat. Tadi pagi ia membantu temannya membuat tugas dan mungkin ia lelah”, sahut ibunya.

Keesokan harinya, Sammy datang ke rumah Marshall hendak mengajaknya bermain sepulang ibadah Gereja. Sammy mengajak Marshall untuk bermain bola dan berkumpul di lapangan Quail Run Park. Sore itu, Marshall datang dengan menggendong tas dan terlihat lesu.

Sammy pun bertanya apa yang terjadi dan ia pun menceritakannya. “Bro, sebenarnya aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini soal Mila. Aku pikir ibumu benar, Mila hanya memanfaatkanmu. Lagi pula, pagi ini aku tidak sengaja bertemu dengan dia di Mc.Donalds dekat sekolah dan dia terlihat berdua dengan seorang laki-laki sambil berpegangan tangan”, sahut Sammy.

“Itu tidak mungkin, Mila pasti tertarik padaku. Ibu salah, kau juga salah. Aku benci kalian”, jawab Marshall sambil berlari menuju parkir sepeda dan bergegas pulang.

Sore itu, Mila tampak sedang berjalan dengan seorang pria sambil bergandengan tangan di Sycamore Canyon Wilderness Park di sudut kota Chicago. Taman kota tersebut juga merupakan jalan searah pulang ke rumah Marshall. Lampu lalu lintas menyala merah, dan ia pun berhenti.

Ia merenung dan bersedih karena kata-kata ibunya dan Sammy sahabatnya. Matanya tiba-tiba terbelalak karena fokus pada sepasang kekasih yang menyebrang di depannya. Ia mengusap-usap matanya.

Sontak ia langsung berteriak “Mila, apa yang kau lakukan di sini?”. Semua orang yang tengah menunggu lampu lalu lintas mengarah padanya. Mila segera berjalan cepat menyebrang bersama sang kekasih.

“Sayang, siapa pria itu? Apakah kau kenal?”, tanya kekasih Mila. Ia menggeleng dan memintanya untuk mengabaikan orang yang tidak dikenal tersebut.

Selesai menyebrang dan berjalan cepat menjauhi lampu lalu lintas, Mashall kehilangan sosok Mila dan kekasihnya. Lantas ia menggayuh sepedanya sambil menangis. Ia menyesal telah marah dan kecewa pada ibunya dan Sammy, padahal merekalah yang memberikan masukan yang baik bagi dirinya.

Sepulangnya, ia memarkirkan sepedanya dan masuk ke dalam rumah. “Ibu.. Ibu..”, teriak Marshal. Ibunya yang mendengarnya langsung berlari keluar kamar dan terlihat begitu mengkhawatirkan anaknya. “Apa yang terjadi nak ? Apakah kau jatuh dari sepeda? Apakah ada yang luka?”, tanya Ibunya.

Marshall mendekat dan langsung memeluk ibunya. “Bu, maafkan aku. Aku menyesal. Ibu dan Sammy benar, dia tidak benar-benar menyukaiku dan bahkan berpura-pura tidak mengenaliku. Dia hanya memanfaatkan ku”.

Tidak lama Sammy datang menyusulnya dan ia pun memeluk sahabatnya dan meminta maaf. Ia menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ibunya pun memeluknya dan memaafkannya. “jangan mudah dibutakan oleh perasaan suka ya, ingat Ibu mu tidak pernah menjerumuskanmu. Ibu juga pernah muda dan dulu Ayah mu pernah bercerita hal
yang sama. Ia pernah di manfaatkan oleh seorang gadis yang ia sukai. Tetapi akhirnya dia pun sadar. Ibu akan tetap mencintaimu apapun yang terjadi”

Akhirnya semenjak kejadian itu, Marshall lebih terfokus pada studinya dan meganggap Sammy seperti saudaranya. Ia juga menjadi lebih dekat dengan ayah dan ibunya.

Kita boleh mencintai seseorang, tetapi jangan sampai hal itu malah menjauhkan kita atau bahkan merusak hubungan baik kita kepada teman dan saudara. (Ditulis oleh Ruth Yuliana Palupi)


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *