Penyair yang Benar – Czeslaw Milosz

Tanggung jawab para cendikiawan dalam mempertahankan kebenaran tidak dapat benar-benar menjadi cemarkan mereka sebagai suatu kelas seosial atau kasta.


DESAINART- Memberikan penghargaan kepada seseorang yang berjasa sama artinya dengan menunjukkan sekali lagi bahwa tidak ada kesetaraan dalam jagat seni dan kesusastraan. Strukturnya sangat bersifat hierakis. Strata pertama tidak sama dengan strata kedua, keberanian tidak sama dengan kepengecutan, kemurahan pikiran tidak bisa ditempatkan dalam level sama dengan kepentinan diri.

Ketidaktentuan-ketidaktentuan itu sudah jelas ketika mencoba menaksir apakah strata pertama dalam ranah seni dan sastra terus menerus meruntuhkan gagasan tentang hierarki. Dengan kehidupan terus menegaskan eksistensinya.

Apa yang dapat dicapai oleh Robert Conquest menjadi bukti paling jelas ketika kita membandingkannya dengan sikap kontemporer dari karya-karya penulis seperti dirinya, baik penulis dari Inggris, Amerika, Perancis, maupun Italia. Sepanjang abad ke-20, mayoritas dari mereka mencermati adanya aturan-aturan pasti sehingga jelas bagi meereka bahwa mereka menjadi strata kedua.

Untuk melawan aturan-aturan itu, mereka harus melanggar tabu-tabu yang sudah mapan. Dan hukuman atas pertentangan itu bukan bersifat politis, melainkan sosial, yang hilangnya status dalam masyarakat Intelektual. Saya pikir keputusan sistem komunis di Uni Soviet yang melarang seseorang berbicara kebenaran adalah salah satu contoh tindakan ini.

Robort Conquest, yang juga pengarang beberapa buku ilmiah, adalah seorang penyair. Dan harap ia punya banyak waktu untuk meneruskan pekerjaan sejatinya itu. Kini, ia menyempurnakan tugas pembaharuan humanitas dengan menulis tentang sifat jahat Soviet.

Dalam sejarah puisi modern, Conquest termasuk insiator dari apa yang disebut gerakan yang muncul di Inggris pada 1950-an, bersama Kingsley Amis, Dennis Enright, Donald Davie, Philip Larkin, dan Thorn Gunn. Sebagai penyair yang pernah ditinggal di Paris pada 1950-an, saya mampu menggambarkan risiko yang dihadapkan kepada seorang penyair yang menantang sesuatu yang kemudian secara politis benar.

Pada saat itu, Jean Paul Sartre memimpin kampanye tentang Albert Camus, menyampaikan dalam bukunya The Rebel tentang keberadaan kamp-kamp konsentrasi di Uni Soviet. Fenomena Robert Conquest tak begitu berbeda dengan apa yang terjadi di Paris itu.

Dan, karena saya tidak dapat membandingkan kontribusi saya dengan Robert Conquest bagi perjuangan melawan bentuk-bentuk perbudakan, maka pengalaman saya pun tidak cukup menambah jumlah perlawanan seperti yang dia lakukan sehingga dapat mendorong peningkatan pencarian atas keryanya.

Kejujuran mendorong saya untuk menambahkan bahwa beberapa tahun setelah Perang Dunia II, juga karena tekanan situasi politik yang gandil di Polandia, saya terbiasa berkompromi dengan kesadaran saya. Jadi, apa yang saya katakan di sini mungkin diinterpretasikan juga sebagai penghormatan yang dibayarkan oleh keburukan kepada kebenaran.

Mungkin fakta-fakta yang pasti terlalu cepat terperosok ke dalam sejenis pelupaan yang disengaja. Sikap mayoritas sastrawan Barat terhadap negara komunis menjadi berjarak; dari pujian menjadi sikap diam, terutama karena adanya fakta-fakta yang menunjukkan pembantaian dan deportasi massa, kelaparan, setra kamp-kamp para budak. Semua itu itu merupakan fenomena terkuat dalam sejarah abad sekarang dan pasti akan memberikan banyak analsis. Tentu saja analisis itu mengenai suatu ide kemajuan yang termitoskan dan melahirkan sosialisme Soviet yang menjanjikan masa depan kemanusiaan.

Diantara pengagum Uni Soviet, kita menemukan para pemikir paling berilian, mislanya Bernard Shaw, Romain Rolland, Jean-Paul Sartre, dan Pablo Picasso. Kini, makin jelas kiranya bahwa tirani Uni Soviet bertahan lama karena ketergantungannya pada mesin disinformasi raksasa, yaitu sikap berpura-pura ramah.

Saya ingat seorang jurnalis terkenal Amerika yang meyakinkan saya bahwa karya-karya Abram Tertz (Nama samaran Andrei Sinyavsky) tidak ditulis di Moskwa tetapi di negara-negara antikomunis. Itu memang salah satu cara agar suara-suara para penulis dan sarjana Rusia bisa menjangkau dunia secara luas. Gulag Archipelago karya Solzhenitsyn dan karya-arya Andrei Sakharov menusuk sikap penuh kepura-puraan tersebut.

Tanggung jawab para cendikiawan dalam mempertahankan kebenaran tidak dapat benar-benar menjadi mencemarkan mereka sebagai suatu kelas seosial atau kasta. Karenanya, walaupun masih banyak yang tunduk, para penulis di Rusia mulai memberontak. Nasib Boris Pasternak mungkin dapat dijadikan contoh. Di Barat, kasus Solzhenitsyn dan Sakharov menimbulkan respons luas biasa dan pembelaan dari para penulis serta seniman.

Buku-buku Robert Conquest mengikuti investastigasi berbasis disiplin ilmiah, walaupun masih belum objektif karena dia terpengaruh ketika melihat buruknya nasib jutaan manusia. Judul buku-bukunya sangat menunjukan isinya. Buku Power and Policy in USSR muncul pada 1961. Pada 1962, Conquest menerbitkan The Last Empire, yang tampak profertis tiga puluh tahun kemudian.

Pada tahun yang sama, ia menerbitkan The Pasternak Affair, Courage and Genius, A Documentary Report. Diikuti buku tentang Rusia pasca-Khurshchev (1965), The Politics of Ideas in teh USSR (1967), Religion in the USSR (1968), The Soviet Political System (1968), The Great Terror, Stalin’s Purge in the Thirties (1969).

Kebijakan Soviet terhadap warga negeranyadibicrakan kali pertama dalam The Last Empire, dan kemudian dalam The Nation Killers; The Soviet Deportations of Nationalities (1970), Kolyama; The Arctic Death Camps (1978), The Harvest of Sorrow; Soviet Collectivization and the Terror Famine (1986), dan Stalin; Breaker of Nations (1991)

Orang-orang seperti Robert Conquest yang berani menggerakkan kesadaran dunia biasanya dicap sebagai ultrakonservatif, atau dengan cap stigma lainnya. Namun dengan pelbagai aktivitasnya, mereka seharusnya berbangga pada keinginan mereka untuk mengambil peranan.

Diantara orang yang berada dalam ranash seni dan kesusastraan yang termasuk ke dalam konspirasi itu adalah para wakil spektrum politik yang luas, termasuk orang-orang dari golongan kiri semisal George Orwell, Arthur Koestler, dan teman baru saya, penulis Italia terkenal Ignazio Silone dan Nicola Chairomonter. Suatu perkumpulan terhormat.

Dan ketika saya memasukkan Robert Conquest ke dalamnya, saya katakan pada diri saya bahwa kualitas tertinggi dari kelompok itu mungkin lebih banyak berupa kekelirun berpikir dan penympangan yang sebenarnya hal lurah bagi para cendekiawan.

Saya datang dari salah satu wilayah Eropa yang sekian lama dikuasai Uni Soviet. Masa depan menggantung di wilayah itu; dan kita tidak serta merta bebas dari wilayah itu; dan kita tidak serta merta bebas dari penangkapan; kengerian pada polisi negara sudah berakhir.

Saya menjangkau opini publik di Barat dengan menulis tentang buruknya keadaan negeri kelahiran saya, Lithuania, dan negeri tempat asal bahasa saya, Polandia, serta tentu saja saya berterima kasih kepada banyak kolega yang bekerja mendorong pembebasan.

Pada saat ini, saya merasa senang berkesempatan mengekspresikan rasa terima kasih saya kepada Robert Conquest. (Czeslaw Milosz)


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *