Penulis Punya Tanggung Jawab – Carlos Fuentes


DESAINART- Saya sama sekali tidak melihat diri saya sebagai seorang penulis nasionalis. Saya tidak percaya berlakunya nasionalisme dalam sastra. Khususnya sekarang, saya pikir sastra adalah sebuah peristiwa internasional. Saya tidak berpikir bahwa seseorang membaca Gabriel Gracia Marquez karena ia seorang Kolombia.

Jadi, saya pikir tulisan adalah imajinasi, dan tulisan itu menjadi titik perhatian ketika membaca serta menghakimi seorang penulis. Saya setuju bahwa sebagian imajinasi dan bahasa berasal dari sumber-sumber nasional. Namun saya tegaskan, sumber-sumber nasional bukanlah unsur yang paling memenuhi syarat dalam pelbagai buku.

Saya lebih memikirkan kaitan antara penulis dan penyikapan atas keadaan politik yang tengah berlangsung

Saya pikir di masa lalu terdapat tuntutan yang jauh lebih besar untuk menjadi juru bicara rakyat dan berpartisipasi aktif dalam politik, karena masyarakat sipil sangat lemah di Amaerika Latin.

Ketika kita tidak memilii parlemen, maka penulis dipilih untuk menjadi juru bicara sebagaimana deputi. Namun, bagi saya, karena masyarakat di Amerika Latin sudah tumbuh lebih kuat dan terindustrialisasikan secara lebih rumit, maka penulis pun lebih berperan menjadi peserta dalam kehidupan politik. Ia berperan sebagai warga negara biasa.

Saya kira Mario Vargas Llosa menjadi kandidat presiden Peru bukan karena ia seorang penulis, melainkan karena ia seorang warga negara yang mengambil tanggung jawab sendiri. Saya tidak akan pernah mencalonkan diri sebagai presiden Meksiko. Saya tidak gila. Dan, saya merayakan kekalahan Mario karena saya merasa siapapun dapat menjadi presiden Peru, tetapi hanya Vargas Llosa yang dapat menjadi penulis bagi novel-novel besarnya.

Saya pikir tanggung jawab riil seorang penulis terhadap masyarakat adalah meletakkan kekuatan imajinasi dan kemampuan komunikasi bahasanya. Kita punya tanggung jawab melalui bahasa karena sikap merendahkan bahasa terus menerus dilakukan, yang mengakibatkan informasi tidak tersampaikan secara distortif.

Yang saya maksud dengan bahasa yang terus menerus direndahkan adalah penggunaan bahasa yang buruk seperti terdapat dalam bidang politik dan informasi. Kata-kata diucapkan justru tersampaikan malah muncul melebihi apa yang terang benderang disampaikan secara buruk. Suara itu cenderung menjadi informasi buruk dan tidak menjadi pengetahuan.

Oleh karena itu, misi penting penulis adalah berusaha melakukan sesuatu yang dapat ditempatkan sebagai sesuatu. Ada banyak kerugian bahasa yang ditimbulkan oleh media dan tulisan-tulisan di bidang politik. Penulis harus membersihkan kembali deretan kata-kata.

Saya juga merasa perlu menggali begitu banyak gaya dalam karya-karya saya, karena saya pikir dunia terbentuk dari pelbagai saya.

Saya menangkap suara hiruk pikuk dalam kehidupan Meksiko modern, dan pada dasarnya saya adalah seorang penulis urban, seorang penulis kita, dan harus mengakui adanya disonansi hebat dalma bunyi dan suara kota.

Selain menulis, saya juga terlibat dalam produksi film. Namun, bukan persoalan yang disebutkan di atas mendorong saya terjun ke dunia film. Saya terlibat dalam film krena mendapat bayaran mahal dari Columbia Pictures. Ambil uangnya lantas pergi, itulah hubungan penulis dengan film. Realisasinya tidak pernah beranjak dari asumsi tersebut. Ada kemungkinan-kemungkinan kreatif (dalam film), tetapi bukan untuk penulis.

Seorang Sutradara memang tidak memang tidak punya banyak kemungkinan untuk mengambangkan filmnya, tetapi bahkan seorang penulis adalh tokoh yang sangat sekunder dalam film: ia hanya berperan sebagai sosok dan kemudian dibuang, inilah visi sang sutradara yang jelas mengambil alih peranan penulis dalam mengikutsertakannya dalam produksi film.

Suara yang menjadi tujuan saya dalam film adalah suara polifonik

Saya datang dari generasi yang membaca Faulkner, dan secara pribadai bagi saya adalah Dos Passos, serta suara-suara besar dari masa lalu semisal Cervantes, Diderot, dan George Stern. Para novelis itu berusaha memberikan alternatif dan suara terhadap novel modern dan pembentukannya. Saya menjadi bagian dari tradisi dalam cara tersebut. Saya tidaklah unik.

Saya menulis pada usia tujuh tahun (dapatkah anda membayangkannya?). Ketika itu, saya bahkan tidak tahu apa yang menarik bagi saya untuk menulis. Pada usia tujuh tahun, saya sudah mulai mencorat coret apa pun, dan saya meneribitkan sebuah majalah pribadi sekali dalam sebulan (ditulis dan digambar oleh saya sendiri).

Saya meletakkannya di bawah pintu apartemen di tempat tinggal saya di Washington DC, menyuruh orang banyak untuk mengembalikannya kepada saya ketika mereka lewat. Bagaimanapun, saya pikir, selain saya tidak ada seorang pun yang pernah membacanya.


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *