Pelita Yang Tak Pernah Padam


Matanya tak lepas kala melihat sekumpulan anak-anak bermain dengan tawa yang terlihat begitu lepas tanpa beban. Lebih tepatnya focus mata itu pada satu sosok yang kini tengah bergelayut manja di atas ayunan bersama dengan anak seperantaranya. Pandangannya tak sedetikpun terelepas dari sosoknya. Senyum indah itu ingin ia lihat sebanyak-banyaknya. Direkam dalam ingatan dan mungkin akan ia kenang hingga ia menutup mata. Sosok itu merupakan semangatnya dalam menjalani sisa usia yang entah bagaimana takdir akan berkata. Ingatannya dipaksa untuk kembali dimasa ia mendengar fonis kejam yang meruntuhkan dunianya. Kala itu hanya tubuh kecil itu yang dapat ia rengkuh kala sebaris kalimat yang mampu membuat dunianya porak poranda.

“Leukimia stadium tiga” ucap seorang dokter setelah melihat hasil tes yang ada ditangannya. Runtuh sudah dunia yang ia pijak saat ini kala penjelasan sang dokter mengalun pelan ditelinganya.

“Apakah tidak ada yang dapat dilakukan?” suara Shahira terdengar bergetar. Ia berusaha untuk tidak menangis didepan anaknya karena berita penyakit mematikan itu. Harapan masih ia pegang kuat, berharap sang dokter akan memberikan angin sejuk. Sebuah harapan jika masih akan ada jalan untuk menyembuhkan penyakit terkutuk itu. Namun harapan hanyalah sebuah harapan, gelengan dan sorot iba yang ditunjukkan sang dokter menjelaskan bagaimana keadaan yang sebenarnya.

“Mohon maaf, hanya obat yang bisa diusahakan untuk saat ini. Obat yang dokter berikan hanya sebagai pereda rasa sakit dan pencegah bukan sebagai penyembuh dari penyakit tersebut. Hanya tangan Tuhan yang akan menentukkan. Dua minggu sekali kita harus cek bagaimana perkembangan penyakit tersebut.”

Tidak ada kata yang mampu menggambarkan rasa sedih yang Shahira rasakan. Ingin marah, namun kepada siapa, karena ia tak akan pernah menyalahkan takdir yang digariskan padanya. Ingin berhenti saja namun itu tak akan pernah menyelesaikan masalah yang menimpanya. Saat ini ia hanya bisa berusaha untuk tetap memperpanjang masa kehidupan yang kapan saja Tuhan dapat mengambilnya. Dua minggu sekali bukanlah waktu yang menyenangkan bagi Shahira dan malaikat kecilnya. Rumah sakit sudah seperti rumah kedua yang wajib untuk mereka singgahi. Hari berganti menjadi minggu, minggu berganti menjadi bulan hingga bulan itu pun berganti menjadi tahun. Genap satu tahun sudah Shahira berjuang bersama malaikan kecilnya yang bahkan otak kecilnya hanya mengetahui bahwa rumah sakit hanya tempat untuk sekedar mengecek kesehatan yang rutin harus dilakukan. Sharia bersyukur setidaknya Tuhan masih memberi waktu lebih lama. Namun ia tetap merasakan ketakutan luar biasa jika sudah masanya nyawa yang hanya sebagai titipan itu diminta kembali. Ia tak pernah bisa membayangkan bagaimana hari itu akan tiba. Pernah suatu hari tubuh itu melemah bahkan mata indah itu terpejam beberapa hari. Tidak ada tawa, hanya ada air mata. Dari situ malaikat kecilnya mengetahui tentang penyakit itu dan akibatnya. Pada hari itu dengan senyuman dia mengatakan “kita punya Alloh kan bunda. Kata bunda Alloh sayang sama kita. Kalo sayang kan nanti dikasih hadiah”. Bahkan usianya yang belum genap 7 tahun mampu mengucapkn kata-kata yang seharusnya dikatakan oleh sang bunda. Dari situ Shahira belajar untuk mempasrahkan diri dan takdirnya.

Tanpa Shahira sadari air mata telah membasahi pipi putihnya. Dia selalu menitihkan air mata kala ia sedang mengingat perjalanan hidupnya.

“Bunda darah” Sentuhan tangan kecil memaksanya untuk kembali ke dunia nyata. Belum sempat Shahira menghapus air mata yang dengan lancangnya menerobos dinding pertahanannya, ia meraskan jatungnya memompa dengan sangat cepat bahkan ia merasa kakinya tak lagi berpijak. Shahira seakan tuli dengan keadaan sekitar. Terakhir kali yang ia dengar adalah “Aku sayang bunda”.

Kini senja tak lagi sama. Meski sinar kejinggannya tak sekalipun berubah. Bintang pun masih setia menemani gelapnya malam namun cahayanya kini terasa redup. Ikhlas tak serta merta menghapuskan rindu. Pelitanya tak lagi bersinar untuknya. Tapi ia yakin malaikat kecilnya bahagia bersama sang pencipta.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Lusy Nurkhayati
Seorang wanita yang lahir 23 tahun silam, disebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Sejak kecil saya menyukai semua keindahan yang diciptakan Tuhan untuk semesta alam.

Komentar