Observasi Sekolah : Sadarnya Pembelajaran

Pendidikan identik dengan pengetahuan yang berpusat dikepala setiap insan. Celakanya, kepala tidak mewakili pendidikan yang humanis. Saatnya pendidikan membuka kesadaran akan nurani (heart) dan kepedulian (hand) pada kehidupan nyata.


DESAINART- Pagi itu anak-anak dari salah satu kelas di deretan lorong gedung lama sedang berjalan-jalan melihat keadaan sekolah. Anak-anak dikelas itu bergitu asyik mencermati segala hal yang ada disekolah mereka. Dari bangunan, lingkungan, serta fasilitas tak luput dari pengamatan anak-anak itu. Beberapa anak tampak sesekali berhenti, mencoba mengamati sesuatu yang menarik perhatian mereka, dan tak lama kemudian mencatat sesuatu di buku mereka.

Anak-anak tampak asyik melakukan aktivitas observasi di pagi hari itu. Banyak hal yang mereka catat sebagai data observasi mereka. Mereka mencoba belajar untuk cermat dan teliti dalam mengamati sesuatu yang menjadi objek pengamatan mereka dalam dinamika pembelajaran itu. Rupanya anak-anak itu tidak sembarang mengamati objek yang ada disekolah, tetapi mereka memiliki kerangka pikir atas objek observasi mereka, yakni hal apa saja yang tidak logis yang ada disekolah itu.?

Materi observasi ini sesungguhnya dapat dijelaskan di dalam kelas saja dan tidak membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga guru bisa segera beralih ke materi yang lain. Akan tetapi, sang guru tidak memilih cara itu, justru memilih cara lain dimana anak-anak merasakan terlebih dahulu seperti apa observasi itu. Dan lingkungan sekolah dijadikan sebagai media untuk memahami observasi itu.

Pembelajaran Kontekstual

Setelah beberapa lama anak-anak itu melakukan observasi, tampak mereka sibuk menata kembali catatan mereka sehingga mudah untuk dipahami. Akhirnya, diskusi kelompok besar pun dimulai dimana mereka akan menyampaikan hal apa saja yang tidak logis yang ada disekolah mereka beserta alasannya.

Tampak seorang anak yang duduk di bagian belakangan begitu antusias ingin memulai diskusi pagi itu. Menurut dia, bangunan gedung baru sekolah mereka yang tingkat tiga itu tidak logis. Mengapa ? Alasannya adalah gedung itu dibuat dengan struktur bangunan eripa yang berupa kotak-kotak.

Tampak anak itu berusaha memberi alasan atas hasil pengamatannya untuk meyakinkan teman-temannya dan juga sang guru. Menurut logia dia, gedung dengan model kotak-kota tidak cocok untuk bangunan di iklim tropis yang naya punya dua musim, yaitu hujan dan kemarau. Tembong gedung akan mudah rusak terkena panas dan hujan. Beda kalu gedung itu memiliki atap layaknya rumah-rumah yang ada di mana tembok akan terlindung dari hujan dan panas.

Seseorang anak yang duduk di dekat jendela itu pun tak mau kalah menyampaikan hasil pengamatannya. Menurut dia, lapangan sepak bola di sekolahnya itu tidak logis dimana lapangan sepak bola arah gawangnya barat-timur. Akibatnya kalau olahraga pagi pemain yang ada disebelah barat akan terganggu oleh sinar matahari yang muncul dari timur. Dan ketika anak-anak ekstra sepakbola sedang berlatih di sore hari, tim yang ada disebelah timur akan terganggu karena matahari ada di sebelah barat menjelang terbenam. Dia menambahkan bahwa seharusnya lapangan sepakbolah arahnya utara selatan.

Seorang anak yang lain pun segera tunjuk jari saat temannya selesai menyampaikan hasil penelitiannya. Anak itu tampak sudah tak sabar ingin menyampaikan hasil pengamatannya. Dengan suara yang alntang anak itu berkata, “Teman-teman dan Pak Guru, menurut saya tulisan-tulisan di sekolah ini banyak yang tidak logis. Kita bisa melihat tulisan di parkiran sepeda yang tertulis ‘Yang membawa sepeda harap dikunci’, salahkan?” Sejenak kelas menjadi hening dan tampak seisi kelas itu mulai memikirkan tulisan itu.

Menurut anak itu, tulisan diparkiran sepeda itu tidak logis. Dia dengan semangat mencoba menjelaskan kepada teman-temannya bahwa jika mengikuti tulisan itu maka yang dikunci adalah siswa yang membawa sepeda, padahal yang dimaksud adalah sepedanya. Dia berusaha memberi solusi atas tulisan itu, yakni seharusnya ditulis “Sepeda, Harap di Kunci”.

Ternyata siswa lain ada juga yang mencermati tulisan-tulisan seperti itu. Dia mengamati di WC dimana ada tertulis “Yang Kencing Harap Disiram”. Kalau itu dicerna sungguh-sungguh maka siapa saja yang kensing kencing di tempat itu akan disiram. Bahaya bukan kalau itu yang terjadi? Kelas pun penuh canda tawa tatkala diskusi tentang tulisan-tulisan yang tidak logis itu dibahas. Mereka begitu menikmati pembicaraan itu dan menjadi sadar bahwa selama ini tidak pernah berpikir sejauh itu.

Sejauh pembelajaran yang kontekstual coba diperkenalkan pada anak-anak. Sebuah materi tampaknya akan banyak dibanjiri dengan teori-teori dalam observasi justru menjadi sebuah pembelajaran yang menarik, praktis dan seusai konteks lingkungannya. Pembelajaran kontekstual ini telah membantu membuka kesadaran anak-anak akan lingkungan dan kesehariannya.

Implementasi Pada Hidup

Proses evaluasi telah dilewati oleh anak-anak melalui praktik langsung dan akhirnya diperkaya dengan diskusi dan masukan dari sang guru. Anak-anak menjadi tahu dan sadar akan esensi dari observasi dan bagaimana cara melakukannya. Mungkin sebagai materi pembelajaran seperti yang digariskan kurikulum sudah cukup baik. Bahkan pembelajaran ini telah menggunakan metode yang baik, tidak sekedar ceramah belaka.

Akan tetapi, sebenarnya masih ada satu tahapan lagi untuk semakin memaknai pembelajaran itu. Kita seharusnya menyadari bahwa esensi dari pembelajaran itu bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan atau juga keterampilan tetapi mengantar anak didik pada sebuah implementasi nyata dalam hidup.

Hal ini selalu mengingatkan guru bahwa pembelajaran bukan hanya untuk menyampaikan anak menjawab soal-soal ulangan belaka, lalu apa bedanya dengan lembaga bimbingan belajar atau les?

Sekolah menjadi media yang baik bagi anak-anak untuk belajar tentang kehidupan itu sendiri lewat pembelajaran yang didesain guru. Oleh karena itu, pembelajaran henaknya mampu menghubungkan apa yang dipelajari anak-anak dengan kehidupan nyata. Ketika anak-anak belajar tentang observasi dengan segala dinamikanya, apa manfaatnya untuk hidup mereka.

Lewat sebuah dinamika kartu dibagian akhir pembelajaran menjadi sebuah arena refleksi yang sederhana dan efektif. Masing-masing anak mendapat dua buah kartu (dari kertas polos yang dipotong-potong seukuran kartu). Kartu pertama yang berwarna biru digunakan untuk menuangkan apa yang mereka dapat dari pembelajaran itu. Kartu kedua yang berwarna hijau digunakan untuk menuangkan manfaatnya bagi hidup mereka saat itu dan kelak. Anak-nak boleh menulis atau menggambar di kartu.

Setelah semuanya selesai, tiba saatnya mereka menempel kartu-kartu itu ditembok kelas. Akan tampak begitu indah tatkala seua kartu itu sudah tertempel layaknya sebuah graffiti kota diamana ada gambar dan tulisan. Sang Guru dan para siswa sejenak mencoba melihat graffiti itu.

Sebuah harapan besar bahwa akan lahir manusia-manusia reflektif dari bangku sekolah. Garffiti itu menjadi sebuah memori tersendiri akan kenangan proses pembelajaran. Mungkin graffiti itu bisa usang ditelan waktu dan keadaan. Namun, harapan besar bahwa garffiti abadi akan sebuah refleksi kehidupan akan tetap tergores di sanubari anak-anak itu. Semoga.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *