Naguib Mahfouz dan Kekejaman Memori

Apa yang luar biasa dan pedih berkenaan dengan dirinya adalah bagaimana ia masih menjaga keyakinannya dengan cara yang sopan, seperti terlihat dari luasnya visi dan karyanya.


DESAINART- Sebelum mendapatkan hadiah Nobel pada 1988, Naguib Mahfouz dikenal oleh para pelajar di Arab atau secara luas dipelajari di Timur Tengah sebagai seseorang pengarang. Dia banyak mengarang cerita-cerita indah di dunia Arab tentang kehidupan kelas menengah ke bawah di Kairo.

Pada 1980, saya ditawari oleh penerbit buku-buku dari “Dunia Ketiga”, untuk menerjemahkan karya beberapa penulis besar. Namun, setelah sedikit merenung, gagasan tersebut saya tolak. Ketika saya ditanya alasannya, saya katakan bahwa bahasa Arab itu konroversial.

Beberapa tahun kemudian, saya beramah-tamah dari cara pandang saya dan berkorespondensi tentang Naguib Mahfouz dengan Jacqueline Onassis. Perbincangan ini mencoba memutuskan apakah Mahfouz perlu dibawa ke luar negeri. Jacqueline kemudian memang menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab membawa Mahfouz ke Doubleday, yang kini menjadi tempat tinggalnya, walau tanpa banyak yang tahu.

Hak untuk menerjemahkan karya-karya Mahfouz ke dalam bahasa Inggirs didapatkan oleh The American University in Cairo Press. Namun malangnya Mahfouz, penerbit ini agaknya menjual karya-karya dia tanpa memperkirakan bahwa kelak Mahfouz menjadi seorang pengarang terkenal di dunia. Tak jelas juga mengapa hasil terjemahannya kurang bernuansa sastra dan lebih banyak bermuatan komersial tanpa koherensi artistik dan linguistik yang seimbang.

Bagi paa pembaca Arab, Mahfouz sebenarnya memiliki kekhususan karakter sastrawi. Ia berhasil menunjukkan kehebatan bahasa pribumi yang justru belum banyak diperhatikan. Menurut saya, Mahfouz memiliki cara pandang teretntu atas negerinya. Hal ini dapat disamakan seperti seorang kaisar memandang dunianya.

Mahfouz merasa mampu menyimpulkan, menilai, dan membentuk sejarah panjang dan posisi kompleks negerinya sebagai salah satu dunia terkuno. Namun tetap mengagumi negerinya yang telah mewariskan sejarah panjang penakluk Alexander, Caesar, dan Napoleon, begitu pula penduduk pribuminya.

Karya-karya Mahfouz punya makna intelektual dan sastrawi untuk mendorong penduduk pribumi memiliki sikap yang sama dengan dia-kuat, langsung, tajam. Karakter-karakter dalam karya Mahfouz terus mendatangi anda, menenggelamkan anda dalam alur naratif yang kental, membiarkan anda meneranginya, diperdayakan arus, pusaran, dan gelombang karakter-karakter yang hidup di dalamnya.

Karya-karya Mahfouz menyinggung pula sejarah Mesir di bawah perdana menteri semisal Saad Zaghloul dan Mustafa al Bahhas, dan lusinan detail tentang partai-parta politik, silsilah keluarga, dengan kemampuan luar biasa. Memang benar bahwa karya-karya dia sarat muatan realisme. Namun, ada sesuatu yang lain yang juga benar; visi yang mirip Dante dalam hal kelahiran dunia aktual dan keabadian, tetapi tanpa unsur-unsur kekristenan.

Mahfouz lahir pada 1911 dan di antara periode 1939 – 1944 ia menerbitkan tiga novel yang hingga kini belum di terjemahkan. Karya-karya tentang Mesir Kuno ini ditulisnya ketika masih menjadi pegawai di Kementrian Wakaf. Ia juga menerjemahkan buku tentang Mesir Kuno karya James Baiki sebelum membuat risalah tentang Kairo Modern dalam Khan El-Khalili (1945).

Periode penulisan tentang Mesir ini mencapai puncaknya pada 1956 dan 1957 dengan munculnya karyanya yang luar biasa, trilogi Cairo. Novel-novel ini merupakan ikhtisar kehidupan bangsa Mesir modern selama paruh pertama abad ke-20.

Trilogi ini merupakan sejarah patriaki Sayyid Ahmad Abdul Gawwad dan keluarganya selama tiga generasi. Jika ingin menemukan banyak detail tentang esensi sosial politik dari karya ini, maka hal itu dapat dilihat dari buku ini yang juga merupakan studi tentang hubungan akrab laki-laki dan perempuan, seperti tampak pada pencarian keyakinan putra termuda Abdul Gawwad, Kamal di dalamnya.

Setelah lima tahun pertama sejak revolusi di Mesir meletus pada 1952, karya-karya prosa mulai silih berganti mengalir dari tangan Mahfouz- novel, cerpen, tulisan jurnalistik, memoar, esai dan skenario. Sejak usaha pertamanya untuk mengubah dunia kuno, Mahfouz menjadi penulis yang luar biasa produktif.

Ia sangat akrab dengan sejarah zamannya, tetapi tidak lagi bisa dengan leluasa menggali masalah Mesir Kuno karena sejarah masa tersebut mengharuskannya untuk menemukan aspek-aspek zamannya sendiri. Pengolahan ini harus dilakukan agar sesuai dengan tujuannya yang memang agak kompleks.

Adalah benar bahwa Akhenaten, Dweller in Truth (1985) yang di terjemahkan ke bahasa Inggris pada 1988 adalah bukti adanya perhatian khusus Mahfouz pada masalah kekuasaan, konflik agama ortodoks, dan keyakinan personal, juga masalah perdebatan pelbagai perspektif luas tentang figur gaib dan misterius.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *