Menjadi Manusia Bermanfaat

"Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat terhadap manusia lainnya" (HR. Ahmad dan Thabrani)


Semoga aku menjadi pohon yang ditebang kemudian digunakan
– Abu Bakar r.a.

Demikian kata yang pernah diungkapkan oleh sahabat Abu Bakar r.a. Amirul Mukminin yang terkenal karena integritasnya. Kalimat ini sangat bermakna, mendalam dan menunjukkan dedikasi mendalam seorang pemimpin negeri yang mementingkan kepentingan orang banyak jauh di atas kepentingan kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Dalam konteks yang sederhana, ucapan Abu Bakar tersebut adalah sebuah keinginan diri untuk menjadikan dirinya berguna di manapun ia berada. Di dalam masyrakat misalnya, eksistensi seseorang juga diukur dari seberapa besar dia dibutuhkan / berguna bagi lingkungannya, entah ditingkatan kampung, atau paling tinggi yaitu negera. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat terhadap manusia lainnya” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Sebuah prinsip yang sangat sosial dan sangat bagus diterapkan di kehidupan keseharian kita. Manusia yang memang dalam dirinya ada dwi fungsi yang berjalan bersama-sama, manusia sebagai makhluk individu dan manusia sebagai makhluk sosial. Akan tetapi yang terjadi di masyarakat terkadang bergeser dari apa yang menjadi seharusnya. Menurut penulis ada tiga (3) klasifikasi manusia dalam pengamalan individu prinsip individu-sosial ini.

Golongan pertama adalah manusia paling ideal, mereka bisa menyeimbangkan aspek individu mereka dengan aspek sosial mereka, prinsip khairunnas anfa’uhum linnas ia terapkan dengan tetap menerapkan hak-hak pribadi. Antara mengurus diri dan memberi kemanfaatan kepada orang lain bisa berjalan dengan harmoni seirama.

Inilah prinsip ideal yang seharusnya diterapkan oleh manusia. Kita memikirkan diri kita sendiri, karena memang kitalah yang tahu keadaan kita. Akan tetapi disis lain kita tak bisa hidup tanpa bantuan dari sekeliling kita, tetangga, teman, sahabat, dan orang-orang tersayang di sekitar kita. Maka itulah sebuah prinsip kehidupan yang ditawarkan oleh agama Islam, untuk bisa hidup bermanfaat baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Kemudian golongan kedua adalah golongan para individualis, seorang yang memang menganggap hidup itu hanyalah untuk kepentingan pribadi semata, mereka berpandangan sempit tanpa memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Hidup ya hanya mengurusi dirinya, sibuk untuk diri sendiri, sibuk untuk sebuah kehidupan yang sempit.

Mereka kurang menyadari bahwa setiap kehidupannya secara jelas mutlak membutuhkan bantuan orang lain. Ini jelas bertentangan dengan prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, unsur sosial dalam golongan ini tidak ada. Sangat tidak cocok untuk hidup dalam masyarakat yang memang dipaksa mau tidak mau untuk berhubungan dengan dunia luar, saling tolong menolong dengan tetangga dan lingkungan masyarakat yang lainnya.

Untuk golongan terakhir, inilah mungkin yang kita sebut dengan fenomena LILIN. Lilin adalah sebuah alat penerangan yang berbeda dengan media penerangan yang lain. Lilin memiliki prinsip kerja pembakaran diri untuk sebuah upaya penerangan terhadap lingkungannya. Sebuah pengorbanan diri dengan menghabiskan setiap tubuhnya untuk memberikan kebermanfaatan terhadap lingkungan sekitarnya.

Memang seakan-akan ini adalah baik, mengutamakan orang lain di atas kepentingan pribadi. Akan tetapi ada juga orang yang berlebihan mengutamakan / berkorban untuk orang lain tetapi dengan menyiksa diri. Seperti yang diilustrasikan oleh sebuah lilin.

Dari ketiga fenomena di atas, golongan pertama lah yang ideal dan di ajarkan dalam Islam. Islam mengajarkan harmonisasi dan keseimbangan dalam kehidupan baik secara individu dan sosial. Menjadi Pribadi yang utuh untuk mengoptimalkan diri kita sekaligus memberikan kemanfaatan yang luar biasa kepada sesama.


Hamdan Haqiqi

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah