Membangun Kecerdasan Profetik

Spiritualitas adalah kecerdasan yang mampu menggagas mengapa kita hidup, merumuskan tujuan-tujuan kehidupan dan memberikan alasan-alasannya yang tertinggi, sehingga kita mampu memanfaatkan emosi dan pikiran kita secara lebih bernilai.


DESAINART- Di negara-negara Barat yang sekuler, konsep kecerdasan sudah makin berkembang belakangan ini. Tidak lagi dipahami semata-mata pikiran (intellectual quotient), tetapi sudah meluas ke aspek emosi (emotional quotient). Bahkan perkembangan terakhir sudah sampai pada aspek spiritual (spiritual quotient). 

Tidak diragukan lagi, ini sesungguhnya menunjukkan perkembangan kesadaran manusia yang semakin tinggi dan holistis tentang kehidupan. Perkembangan konsep kecerdasan ini tempaknya mempengaruhi pula pemikiran tentang kepemimpinan. Ini terlihat dari konsep kepemimpinan baru yang didasarkan kepada kecerdasan emosional dan kecerdasan yang didasarkan kepada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual juga mulai dikembangkan.

Puncak dari perkembangan konsep ini adalah bahwa spiritualitas pemimpin mengkondisikan emosi dan pikirannya. Spiritualitas adalah kecerdasan yang mampu menggagas mengapa kita hidup, merumuskan tujuan-tujuan kehidupan dan memberikan alasan-alasannya yang tertinggi, sehingga kita mampu memanfaatkan emosi dan pikiran kita secara lebih bernilai.

Setiap orang mempunyai potensi untuk meraih spiritualitas tersebut. Tetapi tentu dengan terlebih dahulu memenuhi persyaratannya. Tradisi Islam memiliki konsep yang komprehensif dan metode yang sistematis untuk merahi spiritualitas ini, sebagaimana sudah kita lihat di muka. Yang perlu dikemukakan di sini adalah konsep taqwa, yang maknanya tidak lain adalah pemeliharaan diri dari segala keburukan dan pengembangan diri dari segala yang baik merupakan jalan menuju kecerdasan tertentu. Banyak nash Al-Qur’an yang menyinggung ini. Berikut dikutip beberapa di antaranya:

… dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqoroh (2) ayat 282).

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Anfal (8) ayat 29)

… Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (QS. Al-Thalaq (65) ayat 2)

… Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. Al-Thalaq (65) ayat 4)

Lihatlah pada ayat-ayat di atas kata “mengajarmu”, “furqan” atau pembeda, “jalan keluar” dan “kemudahan”. Jelas kata-kata itu mengesankan pengetahuan, kemampuan membedakan, metode solusi, dan solusinya sendiri atas masalah-masalah. Semua itu tidak lain adalah aspek-aspek dari kecerdasan manusia.

Namun, kecerdasan ini tidak bersifat innate yang kemudian dikondisikan faktor lingkungan, sebagaimana halnya IQ dan EQ, tetapi diberikan oleh Tuhan kepada seseorang karena usahanya untuk memelihara keberhasilan spiritualnya. Dengan kata lain, karena ketakwaannya.

Mereka yang memperoleh kecerdasan ini adalah para pemimpin masyarakat seperti rasul dan nabi, dan para auliya (orang-orang yang dikasihi Allah). Inilah kecerdasan yang diberikan kepada orang-orang terpilih. Dan karena itu di sini disebut kecerdsan profetik.

Jenis kecerdasan ini harus dibedakan dari kecerdasan spiritual, yang maknanya sudah dikemukakan di atas. Kecerdasan profetik tidak saja menggagas kita hidup, merumuskan tujuan-tujuan kehidupan, memberikan alasan-alasannya yang tertinggi (yang tidak lain adalah makna kecerdasan spiritual).

Kecerdasan profetik juga mampu menggagas kehidupan yang benar, tujuan-tujuan hidup yang benar, serta alasan-alasan tertinggi yang benar. Karena itulah kecerdasan profetik sebetulnya adalah “kecerdasan spiritual plus” (SQ+). Kata plus disini dipakai untuk menggambarkan rujukan ad-din yang benar.

Pemimpin Profetik bekerja dengan kecerdasan semacam itu. Karenanya ia mampu mengenali hakikat segala sesuatu, mampu membedakan dengan jernih yang benar (al-haqq) dari yang salah (al-bathil), dan mampu menyelesaikan persoalan hidup dan kehidupan yang sangat sulit dan berat.

Kemampuan ini memberinya daya juang yang tinggi sehingga terlihat dari berbagai sikapnya dalam menghadapi kesulitan, kemalangan, dan kesakitan hidup. Ia sabar dalam menerima berbagai persoalan berat, optimistis dan tidak menyerah pada seberat apapun ujian dan halangan, berjiwa besar sehingga tidak takut mengakui kekurangan ataupun kesalahan diri, dan bersungguh-sungguh dalam mengerahkan keseluruhan potensi dalam menegakkan kebenaran.

Semua ini adalah kekuatan yang membuat pemimpin profetik mampu menggerakkan perubahan-perubahan besar di masyarakat.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *