Memaknai Bersyukur dan Bahagia

Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan, Jika kau memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari?


DESAINART- Mana yang akan anda pilih? “Karena bahagia manusia jadi bersyukur” atau “Karena bersyukur manusia jadi bahagia?” Biasanya orang akan memilih kalimat pertama, dibandingkan dengan kalimat kedua. Meski dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi adalah karena bahagia manusia jadi bersyukur.

Apa perbedaannya? Ini adalah logika sebab akibat saja. Karena “sebab” jadi “akibat“.

Mari perhatikan kalimat pertama, “karena bahagia manusia jadi bersyukur”. Ini sebenarnya namanya “SYUKURAN”. Orang baru bersyukur jika dia merasa bahagia disebabkan adanya nikmat yang luar biasa mendapatkan bonus, kenaikan gaji, pangkat dan sebagainya yang membuatnya merasa bahagia.

Apa yang dilakukan? Mengundang teman-teman, keluarga berbagi kebahagiaan dengan mengadakan syukuran. Pertanyaannya dalam setahun berapa kali kita “Syukuran”, ternyata tidak banyak. Bisa dihitung jari. Tiga kali saja itu sudah luar biasa. Artinya bersyukur dengan simbol syukuran sangat-sangat jarang sekali kita jumpai.

Selanjutnya mari kita perhatikan kalimat kedua, “Karena bersyukur manusia jadi bahagia” itu namanya “Syukur Beneran”. 

Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa bahagia menjadi akibat karena manusia pandai bersyukur dengan nikmat sekecil apapun yang diraihnya dari Allah SWT. Saat bangun pagi didapatkannya dirinya masih hidup dan bernafas, maka dia pun bersyukur karena Allah masih memberi kehidupan.

Bangun dari tidur bisa berjalan, dia pun bersyukur masih diberi kesehatan. Lalu dilangkahkan kaki ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk shalat subuh maka dia pun bersyukur masih diberi keimanan oleh Allah SWT. Kemudian berangkat ke tempat kerja dia pun bersyukur karena masih ada pekerjaan. Dan begitu seterusnya.

Jika dihitung dalam satu hari manusia dapat bersyukur ribuan bahkan jutaan kali. Ternyata nikmat dari Allah begitu besar, tak terhingga jumlahnya. Dan dengan itu dia pun merasa bahagia.

Maka, Allah pun menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa “Jika engkau menghitung nikmatnya, niscayakamu tidak akan dapat menghitungnya”. Jadi tidak perlu menunggu “syukuran” untuk merasa bahagia. Bersyukurlah setiap saat, maka insya Allah engkau akan meraih bahagia.

Sebagai penutup artikel ini, mari renungi puisi di bawah ini:

Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan,
Jika kau memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari?

Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu,
Karena hal itu memberimu kesempatan untuk belajar.

Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi,
Karena disana ada kesempatan mengembangkan diri.

Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki,
Karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,
Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

Bersyukurlah atas kesalahan yang kini kau sadari telah terbuat,
Karena hal itu akan memberimu pelajaran yang sangat berharga.

Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.
Berusahalah mensyukuri kesulitan yang engkau hadapi.
Sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu. (Muh. Agung Wibowo).


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *