Manusia dan Nafsu Berkuasa


Kang, lalu apa yang hilang dari peradaban masyarakat modern ini?

Demikian bunyi pertanyaan di sebuah obrolan malam itu, kalau tidak salah yang bertanya anak mahasiswa tingkat (semester) 5. Seketika itu langsung terbayang tentang hal yang diagung-agungkan masyarakat modern hari ini; dimana mereka sangat mengagungkan nilai kebebasan, kemerdekaan individu, pengunggulan diri dengan dasar demokrasi. Tentu saja nilai-nilai tersebut diperlukan dengan segala batas-batasnya.

Pertanyaan tersebut membuat saya berpikir lebih keras dari biasanya untuk coba mencari kemungkinan-kemungkinan jawabannya. Yang jelas, bukan jawaban mutlak, karena itu harus terus di eksplorasi secara mendalam, hingga obrolan ini menjadi ‘sexy’ untuk diteruskan.

Yang hilang dari peradaban masyarakat modern adalah kesadaran dan ketaatan sebagai manusia (seorang hamba). Jawab saya sambil mencoba menguraikan jawaban saya dengan sederhana.

Taat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti (1) senantiasa tunduk (kepada Tuhan, pemerintah, dan sebagainya); patuh. (2) tidak berlaku curang; setia (3) saleh; kuat beribadah. Secara sederhana taat berarti melakukan segala sesuatu hal dengan sukarela. Karenanya kesukarelaan merupakan konsep yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia.

Mari perhatikan firman Allah dalam QS. Fushshilat ayat 11 dan QS. Ar-Ra’du ayat 15 :

Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh”
(QS. Fushshilat ayat 11)

Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari
(QS. Ar-Ra’du ayat 15)

Jika kita melihat ayat di atas ada 3 tingkatan ketaatan seseorang. Pertama, sukarela tetapi hatinya terpaksa. Kedua, benar-benar sukarela dan yang ketiga adalah ikhlas. Dalam pengertian yang lebih ekstrim, sukarela berarti tak butuh kesuksesan sebagai syarat untuk mendapatkan kebahagiaan, sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat modern saat ini. Karena dengan sukarela, secara otomatis akan mendatangkan kebahagiaan.

Akan tetapi, konsep tersebut seringkali diingkari manusia karena tidak mampu mengendalikan nafsu dalam dirinya. Sebagaimana Tuhan tidak akan membebani manusia melebihi kesanggupannya, manusia malah memilih tingkat dan keluasan tanggung jawab yang jauh diluar jangkauan kesanggupannya.

Sebagai contoh, banyak kita melihat manusia berlomba-lomba jadi pemimpin, bahkan pemimpin tertinggi, padahal (bisa jadi) sangat tidak layak untuk itu. Manusia terus berkompetisi untuk menjadi paling hebat, paling kuat dan paling berkuasa; padahal kehebatan, kekuatan dan kekuasaan didistribusikan oleh Tuhan kepada setiap hamba adalah sama.

Manusia seringkali bernafsu menjadi pemimpin, padahal menurut Tuhan itu perbuatan yang zalim dan bodoh. Bahkan orang-orang pandai diantara manusia yang diperbudak nafsunya selalu mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu amanah, seolah-olah apa yang mereka lakukan benar-benar sebuah amanah dari Tuhan. Meskipun dalam prosesnya mereka biasa memakai topeng apa saja untuk merayu agar bisa diterima dan diangkat menjadi pemimpin, sehingga ambisi zalim dan bodohnya terpenuhi.

Padahal sebelumnya Tuhan telah menawarkan amanah pada langit, bumi dan gunung-gunung; dan mereka semua menolaknya karena khawatir akan mengkhianatinya, hingga dipikulah amanah itu oleh manusia. Sehingga Tuhan menegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 72 bahwa manusia sangat zalim dan bodoh.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
(QS. Al-Ahzab ayat 72)

Itu bahasa dari Tuhan langsung, bila dianggap itu terlalu kasar, melanggar etika atau menyakiti perasaan, marahlah langsung pada Tuhan. Saya pribadi tidak pernah menggunakan kata itu untuk menilai atau menghakimi seseorang, dan hanya mengutip apa yang Tuhan sendiri mengucapkannya.

Itulah mengapa salah saya berpendapat bahwa yang hilang dari peradaban masyarakat modern hari ini adalah kesadaran dan ketaatan sebagai manusia dan juga seorang hamba. Jika setiap pemimpin tidak kehilangan nilai-nilai ini, maka kita tak perlu khawatir lagi akan mengangkat pemimpin yang akan menzalimi dan membodohi rakyatnya.


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
1
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
1
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

2 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  1. Berawal dari instagram lalu mampir ke website, saya kira quotenya berasa dari resensi Novel min. Sempet mau nanya judul novelnya apaa..