Kisah Sebatang Pohon Mangga

Jangan kau siksa orang tuamu dengan kerinduan yang disebabkan oleh kesibukanmu yang tak jelas. (Kang Hamdan)


DESAINART- Suatu ketika, hiduplah pohon mangga dan anak lelaki yang senang bermain di bawah pohon mangga itu setiap hari. Ia senang memanjat, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan daun-daunnya. Mereka saling mencintai.

Waktu terus berlalu, anak lelaki tumbuh besar. Ketika pohon mangga itu mengajak main, si anak menolak dan berkata: “aku ingin sekali memiliki mainan tapi aku tak punya uang untuk membelinya”. Pohon mangga itu menyahut, “akupun tak punya uang, tetapi ambillah buah ku dan jualah. Uangnya kau belikan mainan kegemaranmu.” Si anak lelaki itu sangat senang, ia lalu memetik semua buah mangga dan pergi dengan suka cita, lalu menghilang lama. Pohon mangga merasa sedih dan kesepian.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi, pohon mangga sangat senang melihatnya dan mengajaknya bermain lagi, si anak kembali menolak dan berkata: “aku membutuhkan rumah untuk tempat tinggal, maukah kau menolongku”. “akupun tidak memiliki rumah, kau boleh tebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu”. Kata pohon mangga, kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon mangga itu, dan pergi dengan gembira. Pohon mangga itu sekali lagi merasa sedih dan kesepian.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi, pohon mangga sangat senang dan mengajak bermain, tapi si anak berkata: “aku sudah tua dan ingin hidup tenang, aku ingin pergi berlayar, maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”, “Maaf aku tak punya kapal, tetapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau, pergilah berlayar dan bersenang-senanglah”. 

Kemudian anak lelaki itu memotong batang pohon mangga itu da membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon mangga itu.

Setelah bertahun-tahun, Akhirnya lelaki itu datang lagi. “maaf anakku, aku sudah tidak berbuah lagi, juga tidak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat, yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini”. kata pohon mangga itu sambil menitikan air mata.

Si anak berkata: “aku tidak memerlukan apa-apa lagi sekarang, aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat”. “oh bagus sekali, taukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan istirahat, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang”. Sahut pohon mangga, anak lelaki itu berbaring dipelukan akar pohon. Pohon mangga itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita kita semua. Pohon mangga itu diibaratkan orang tua kit. Ketika kita masih anak-anak, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka dan hanya datang ketika memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada disana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir, bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah kebanyakan dari kita memperlakukan orang tua kita.

Semoga bermanfaat 🙁


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
1
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
1
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Admin

desainart.net dibangun pada tahun 2018 dengan harapan dapat menjadi media alternatif yang menginspirasi khususnya kaum milenial. desainart berawal dari sekumpulan orang yang sedang berusaha tidur teratur dan sedang berlajar menjadi muslim yang baik.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *