DESAINART- Hallo SobatArt! Pada postingan kali ini saya ingin upload tentang puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul “Ketika Burung Merpati Sore Melayang”. Puisi ini ditulis pada tahun 1998, tepatnya untuk menggambarkan peristiwa besar perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia pada saat itu. Mari kita simak puisinya.

Ketika Burung Merpati Sore Melayang

Oleh Taufiq Ismail (1998, 7 – 8)


Langit akhlak telah roboh di atas negeri ini
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semuanya jadi begini

Negeriku sesak dengan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsong dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerabu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin menyeruak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Lalu berceceran darah, bekepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenali lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Kukenangkan tahun ’47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik ku jalani Clash I di Yogya, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ’98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang

Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkau paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah ini murkaMu?

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
1998

Sumber MAJOI (1998-7-8)


Menurut sobat, puisi diatas bagaimana? tulis di kolom komentar ya !
Haturnuhun sudah mampir, semoga bermanfaat 🙂


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *