Karya, Kontemplasi dan Meditasi – Jose Saramago


DESAINART- Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kemajuan dari perkembangan saya sebagai novelis. Saya tidak berpikir bahwa seseorang dalam situasi tertentu akan mampu menemukan dan mengikuti alur perkembangan hidupnya, dari bukan apa-apa menjadi sesuatu.

Ketika saya berusia sembilan belas tahun dan ditanyai akan menjadi apa di kemudian hari, saya menjawab betapa saya ingin menjadi penulis. Saya tidak lagi menunggu lama untuk mencapai tujuan itu sejak saya menerbitkan novel Terra do Pecado pada usia dua puluh empat tahun. Namun, setelah dua puluh tahun atau lebih saya tidak begitu banyak menulis dan menerbitkan apapun.

Setelah sekian lama, aktivitas menulis pun menjadi aktivitas reguler bagi saya. Akibatnya, keinginan lama ingin menjadi penulis tidak begitu kuat lagi dalam pikiran saya. Saya menempatkan kegiatan menulis dan menerbitkan sebagai masalah kebiasaan yang sederhana, tanpa tujuan pasti yang bisa memandu saya.

Pada 1974 ‘tahun revolusi yang mengakhiri hampir lima puluh tahun kediktatoran di Portugal’ saya hanya menerbitkan enam buku: jumlah yang sedikit. Saya nyaris merupakan novel, buku-buku lainnya ada sekian volume puisi dan tiga koleksi artikel serta editorial surat kabar.

Daua buku selanjutnya, Manual of Painting and Calligraphy dan Objecto Quase (Almost an Object) diterbitkan pada 1975. Pada akhir 1975, karena alasan-alasan politis, saya dipecat dari jabatan wakli direktur di surat kabar Diario de Noticias setelah saya menjabat selama beberapa bulan.

Saya berujar kepada diri sendiri: jika benar-benari ingin menjadi penulis, inilah saatnya bagi saya memulai. Beberapa minggu kemudian, saya berada diwilayah pedesaan Alentejo dan pengalaman itu dituangkan dalam novel Levantodo do Chao (Raised from the Ground) yang diterbitkan pada 1980.

Saya akhirnya mulai percaya bahwa saya mungkin punya sesuatu untuk dikatakan dan itu perkataan yang bernilai. Pada 1982, ketika saya berumur enam puluh tahun, saya menerbitkan Baltasar dan Blimunda. Saya berhenti sebagai penulis seoerti yang inginkan, dan ketika saya bertanya bagaimana saya mendapatkan posisi ini, satu-satunya jawaban adalah: “Saya tidak hanya menulis, saya menuliskan siapa saya”. Jika memang ada rahasia, mungkin itulah rahasianya.

“Saya tidak hanya menulis, saya menuliskan siapa saya”

Pada oktober 1998, saya adalah berbahasa Portugis pertama yang meraih Nobel Sastra. Namun, saya tetap orang yang sama dengan sebelum menerima Nobel Sastra. Saya bekerja dengan aturan yang sama, tidak mengubah kebiasaan, punya kawan-kawan yang sama dan tidak beranjak dari bidang yang saya tekuni. Semua ini tetap mendorong saya, baik sebagai penulis maupun warga negera. Nobel tidak menjadikan saya orang yang berbeda, lebih baik ataupun lebih buruk.

Ketika pada 1980-an saya menulis novel, pada saat yang sama saya menulis naskah dama. Dari A Notie (The Night) pada 1979 hingga In Nomine Die pada 1993. Saya kurang begitu mampu membuat puisi. Jadi, bagaimana Saramago sang novelis berada di Saramgo sang penulis naskah drama, penyair dan esais?

Saya memang penulis yang lebih baik sebagai novelis dari pada sebagai penyair, penulis naskah drama maupun esais. Namun, saya tidak akan menjadi novelis tanpa identitas-identitas lain yang juga saya sandang, beagaimanapun tidak sempurnanya. Saya katakan bahwa sebenarnya saya bukan seorang novelis, tetapi lebih sebagai esais gagal yang mulai menulis novel karena tidak tahu bagaimana menulis esai.

Saya menulis novel historis adikarya saya pada 1980-an, dari Baltasar dan Blimunda hingga The Gospel Accoding to Jesus Chirst yang terbit pada 1991. Bentuknya lingkaran naratif yang memiliki garis pemisah yang tegas dengan karya-karya berikutnya, tiga novel alegoris dari era 1990-an: Blindmess, All the Names, dan A Caverna. Di titik inilah muncul masalah yang berkaitan dengan keseimbangan kontinuitas dan perubahan dalam tulisan saya selama dua dekade terakhir.

Sebenarnya, dalam lingkaran naratif pertama itu termasuk juga Levantodo do Chao, di dalam novel itu saya mengartikulasikan untuk kali pertama perbedaan “suara naratif” dengan yang kemudian menjadi tanda karya saya. Dalam novel-novel dari lingkaran ke dua, terdapat gaung yang jelas dari volume cerita-cerita pendek masa awal saya, Objecto Quase. Lagi pula, kita harus mengingat koleksi kolom surat kabar saya, Deste Mundoe e do Outro (Form This World and the Other) pada 1971 dan A Bagagem do Viajante (The Traveler’s Baggage) pada 1973.

Menurut saya, segala hal yang saya tulis di tahun-tahun terakhir berakar dalam teks-teks itu. Mengenai definisi “garis pemisah” yang memisahkan dua lingkaran novel, saya menjelaskannya melalui metafora tentang patung dan batu: termasuk juga untuk The Gospel According to Jesus Christ, saya menggambarkan patung, sejauh itu adalah permukaan luar suatu batu; dengan Blindness dan novel-novel yang muncul kemudian, saya bergerak masuk ke dalam batu itu, ke dalam ruang ketika tidak diketahui dari luar apakah batu itu patung ataukah bandul pintu.

Jika anda tidak mengenal tulisan saya dan bertanya dari mana harus memulainya, maka saya akan mengusulkan Journey to Portugal, buku perjalanan yang saya terbitkan pada 1981, di antara Laventado do Chao, Baltasar dan Blimunda. Pembaca hipotesis yang menerima sugesti ini mungkin menghargai rekomendasi saya.

Beberapa kritikus mendefiniskan saya sebagai seorang moralis pertama dan terdepan. Sepertinya mereka melihat unsur-unsur fundamental moralitas dan politis yang saya janjikan sebagai penulis, intelektual sekaligus manusia.

Dalam Object Quase, terdapat suatu epigraf dari The Holy Family karya Karl Marx dan Friderich Engels: “Jika manusia dipisahkan dari lingkungannya, maka penting untuk memisahkan lingkungan tersebut secara masnusiawi”. Ini mengandung kebaijakn yang saya butuhkan untuk untuk menjadikan apa yang agaknya saya pertimbangkan: seorang “moralis politis”.

Dengan karya, saya ingin berkompletasi atas masa lalu sekaligus melakukan meditasi tentang masa depan. Namun, saya bukan nabi. Manusia masa depan akan berbeda dari kita. Saya tidak benar-benar yakin bahwa ia dan saya akan mampu saling memahami Tatanan dunia baru itu setelah sekian lama mungkin akan terus menjadi rencana yang dipaksakan oleh Amerika Serikat.

Namun, peranan kepemimpinan Tiongkok, negara yang terus bergerak menuju kapitalisme sebagaimana tahap-tahap akselerasinya kini mendorong orang untuk meyakini peranan tersebut. Kemudian, Amerika Serikat sekali lagi akan mengalami ketakutan.

Kini, saya kurang mampu menulis lagi. Saya memilih cara untuk menyampaikan apa yang saya maksud dengan merujuk pada nilai manfaat dari karya saya. Saya akan menerbitkan volume keenam dari buku harian saya Cadernos de Lanzarote (Lanzarote Notebooks), dan saya berharap pada musim gugur mendatang novel baru saya bisa dinikmati, O Homem Duplikado (The Duplicated Man). Soal apa yang akan muncul kemudian, saya katakan tidak ada lagi. Kecuali bahwa tidak ada yang bisa dilakukan dengan kloning.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Admin

desainart.net dibangun pada tahun 2018 dengan harapan dapat menjadi media alternatif yang menginspirasi khususnya kaum milenial. desainart berawal dari sekumpulan orang yang sedang berusaha tidur teratur dan sedang berlajar menjadi muslim yang baik.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *