Kapan Boleh Sholat Sambil Duduk atau Berbaring ?

Orang sakit sehingga tidak sanggup (mampu) mengerjakan shalat dengan berdiri, diperbolehkan melakukan sholat menurut kemampuannya selama sakal atau ingatannya tetap normal.


DESAINART- Pada prinsipnya agama itu mudah dan tidak menyulitkan  bagi orang. Persis di dalam firmanNya, “sesungguhnya Allah tidak akan membebani seseorang keculai sesuai kemampuannya” (Al-Baqoroh ayat 286).

Kalau agama memerintahkan itu artinya seseorang dinilai telah mempu menerima kewajiban yang diamanahkan kepadanya. Sewaktu Nabi Isra’ Mi’raj, pesan penting yang dibawanya adalah menjalankan sholat lebih dari 5 kali dalam sehari-semalam, namun Nabi bernegosiasi bahwa jika sebanyak itu shalat yang harus dibebankan kepada umatnya, maka akan keberatan. Akhirnya keputuhan kewajiban shalat hanyalah lima waktu sehari.

Artinya pertimbangan itu sudah benar-benar dipikirkan oleh Nabi, jadi tidak memberatkan apabila menjadi kewajiban. Karena itu kewajiban bagi seorang Muslim adalah meneruskan apa pun perintah Allah saw melalui Nabi dalam laku perbuatan nyata. Nabi saw. menerima perintah shalat, umatnya pun harus mengikuti tata cara shalat Nabi. Dari Malik bin Huwarits, Nabi saw berkata, “shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat” (HR. Bukhari).

Selagi sehat dan kondisi normal, Nabi saw mengerjakan shalat, baik fardhu maupun sunnah, dengan berdiri. Apa yang dilakukannya merupakan realisasi perintah Allah, yang berbunyi, “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” (Al-Baqoroh ayat 228). Artinya semua gerakan shalat dilakukan secara normal, dimana semua rukunnya tercakup di dalamnya.

Berdiri dalam shalat, menurut Syekh Hasan Ayyub dalam Fiqh Ibadah, merupakan rukun bagi yang mampu. Sedang bagi yang tidak mampu berdiri atau yang merasa susah berdiri, ia boleh sholat sesuai dengan kemampuannya. Ini berlaku untuk shalat fardhu.

Kata lainnya, berdiri merupakan keharusan bagi yang sanggup untuk menjalankan shalat fardhu. Sebaliknya, bila seseorang melakukan shalat fardhu dengan duduk padahal mampu berdiri, maka tidak diperkenankan baginya.

Namun untuk shalat sunnah, masih menurut Syekh Hasan Ayyub, orang boleh melakukannya dengan posisi duduk padahal separuhnya sanggup berdiri, ia hanya mendapatkan pahala separuhnya. Dan jika memang tidak sanggup berdiri ia mendapatkan pahala penuh seperti orang yang shalat dengan berdiri.

Pijakannya adalah hadits Imran bin Husain yang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang shalat seorang yang sambil duduk. Beliau Bersadba, “Barang siapa yang shalat sambil berdiri, maka itu adalah lebih utama. Barang siapa yang shalat sambil duduk ia mendapatkan setengah dari pahala orang yang shalat sambil berdiri. Dan barang siapa yang shalat sambil tidur (dalam sebuah riwayat dikatakan berbaring) maka ia mendapatkan setangah dari pahala orang yang shalat sambil duduk.

Duduk dan Berbaring

Jelas, kondisi orang sakit berbeda dengan orang sehat. Ketika kondisinya tak memungkinkan bergerak sebagaimana orang sehat, tentu riskan dengan penyakit yang dideritanya. Karena itu, ada solusi dalam agama bahwa orang sakit sehingga tidak sanggup menjalankan shalat dengan berdiri, diperbolehkan melakukan shalat menurut kemampuannya selama akal atau ingatannya tetap normal.

Imran bin Hushain berkata, “Aku mempunyai penyakit bawazier (ambien), kemudian aku bertanya kepada Nabi. Beliau menjawab, shalatlah engkau sambil berdiri, apabila tidak mampu, maka duduklah, dan apabila tidak mampu, maka sambil berbaringlah” (HR. Bukhari, Abu Daud dan Ahmad).

M. Nashiruddin al-Albany dalam buku sifat shalat Nabi, memberikan uraiannya menyangkut makna tidak mampu. Dari pendapat yang ada, yang lebih sahih adalah pendafat Syafi’i dan Hanafi.

‘Ketidakmampuan’ pada hadits tersebut dimaknai Syafi’i sebagai keadaan sangat sulit dan payah melakukan shalat sambil berdiri. Atau khawatir penyakit yang diderita bertambah parah, atau semakin menederita saat berdiri. Besar kecilnya kesulitan yang ada bukan menjadi ukuran, karen pusing yang diderita oleh seorang yang tengah berada di atas perahu tergolong kesuliatan yang bisa dijadikan alasan shalat sambil duduk. Demikian halnya apabila takut terjatuh dari perahunya kalau dia shalat sambil berdiri.

Baik Syafi’i maupun Hanafi berpegang pada hadits yang diriwayatkan oleh at-Thabrani dari hadits Ibnu Abbas, “Seseorang yang sakit boleh mengerjakan shalat sambil berdiri. Jika dia merasa kepayahan melakukannya sambil beriri, maka dia shalat sambil duduk. Apabila dia merasa kepayahan shalat sambil duduk, dia mengerjakannya sambil berbaring, dan mengisyaratkan dengan gerakan kepalanya. Dan jika dia masih merasa kepayahan juga, shalatnya cukup dengan tasbih.”

Cara Shalat Bagi Yang Tak Mampu

Yang harus dipertegas di sini, selagi orang sakit mampu menjalankan shalatnya dengan berdiri, wajib baginya sekalipun harus bersandar ke dinding atau tiang atau dengan tongkat, tetapi kalau tidak sanggup, barulah diperkenankan dengan duduk.

Hanya saja meski dalam kondisi sakit, tidak lantas bisa seenaknya sendiri dalam menjalankan shalatnya. Tidak serta merta boleh menerjemahkan keleluasaan shalat melampaui batas, seperti dengan memposisikan rukunnya lebih rendah ketimbang sujudnya.

Salah satu hadits yang tertulis dalam Kitab Bulughul Maram bab sifat shalat, berbunyi bahwa Rasulullah saw telah menjenguk seorang laki-laki yang sakit. Beliau melihat orang itu shalat di atas bantal. Lalu beliau mengambil bantal itu dan melemparkannya. Beliau bersabda, “Shalatlah di atas tanah jika kamu bisa. Kalau tidak bisa, maka shalatlah dengan isyarat dan jadikanlah sujudmu lebih rendah dari pada sukumu” (HR. Baihaqi dengan sanad kuat).

Namum balil bolehnya shalat dengan posisi duduk, berbaring bahkan isyarat dapat dilihat dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib. Sabda Rasul, “Orang sakit melakukan shalat dengan berdiri jika ia mampu berdiri. Jika tidak mam, shalatlah ia dengan duduk. Jika tidak mampu sujud ke tanah (tempat sujud), maka ia memberi isyarat, dan ia menjadikan sujudnya lebih rendah (posisi atau caranya) dari rukunya. Jika tidak mampu shalat dengan duduk, maka ia shalat dengan tidur miring ke sebelah kanan, dan menghadap kiblat. Jika tidak mampu tidur mieing ke sebelah kanan, maka ia shalat dengan menghadapkan kedua kakinya ke arah kiblat.” (HR. Baihqi dan ad-Daruquthni).

Kebolehan duduk saat mengerjakan duduk saat mengerjakan shalat bagi yang tidak sanggup berdiri adalah bisa dengan duduk bersila saat berdiri dan rukuk dan dengan duduk iftirasy saat sujud. Gerakan rukunya ialah membungkuk sedikit, sujudnya seperti sujud biasa, hanya dilakukan sambil duduk.

Selanjutnya, apabila tidak mampu dengan duduk, maka dapat melakukannya dengan cara tidur miring ke sebelah kanan dan menghadap kiblat bila memungkinkan. Rukunya dengan menggerakkan kepala ke muka, sujudnya menggerakkan kepala lebih ke muka dan lebih ditundukkan.

Apabila berbaring tak mampu, boleh berbaring dengan seluruh anggota badan dihadapkan ke kiblat. Rukuk dan sujudnya cukup menggerakkan kepala menurut kemampuannya. Apabila tak mampu lagi, cukup dengan isyarat, baik dengan kepala maupun dengan mata. Dan terakhir jika semuanya tak mungkin, maka boleh dikerjakan dalam hati.

Kesimpulannya, agama benar-benar tidak mempersulit seseorang. Kewajiban tetaplah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan oleh siapa pun selagi nyawa masih dikandung badan. Karena dimana ada udzur di situ pasti ada solusi yang diseuaikan dengan kemampuan seseorang. Wallauhu a’lam.

Dikutip dari berbagai sumber.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Lusy Nurkhayati
Tuhan menciptakan peristiwa-peristiwa dan kita mengulasnya dengan akal dan seluruh kemanusiaan kita. Sebab tanpa itu, kita tak akan menemukan ayat, akan kehilangan alamat.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *