DESAINART- Kyai Haji Mas Mansoer (KH. Mas Mansur) lahirnya di Surabaya , 25 Juni 1896. Lahir dari seorang ibnu bernama Raudhah dan ayahnya bernama KH. Mas Achmad Marzoeqi. Ibunya seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo Wonokromo Surabaya. Sedangkan ayahnya seorang pionis Islam, ahli agama yang terkenal di Jawa Timur pada masanya. Mas Machmad Marzoeqi adalah keturunan bangsawan Astatinggi Sumenep, Madura. Dia dikenal sebagai imam tetap dan khatib di Masjid Ampel.

Suatu catatan penting yang jarang diungkapkan oleh media adalah ihwal wafatnya KH. Mas Mansur dalam tahanan NICA pada tahun 1946, konon beliau dieksekusi mati dan disuntik darah kera sehingga akhirnya wafat dalam tahanan pada tanggal 25 April 1946. Beliau gugur sebagai seorang mujahid dakwah dan pahlawan nasional. Jenazahnya dimakamkan di Gipo Surabaya.

Mempersatukan Ulama dan Kelompok Islam

Mas Mansur sangat dekat dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah (Ulama pendiri Nahdlatul Wathan), keduanya sama-sama pernah belajar di Makkah pada Kyai Mahfudz yang berasal dari pondok pesantren Termas Jawa Tengah. Beliau berdua membentuk majelis diskusi yang diberi nama Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.

Kedekatan Mas Mansur dengan Abdul Wahab Hasbullah mampu menghilangkan dikotomi antara kalangan tradisionalis dan modernis. Bahkan, mereka berdua bersama-sama mempersatukan para ulama untuk membahas berbagai persoalan di majelis Taswirul Afkar. Dari majelis tersebutlah lahir berbagai organisasi kebangkitan.

Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk mendebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang diangga penting.

Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasionalis sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Dari posnya di Surabaya, kelompok ini menjalar hampir ke seluruh kota di Jawa Timur. Bahkan gaungnya sampai ke daerah-daerah lain di seluruh Jawa hingga makin kuatlah semangat dan cita-cita membebaskan tanah air dari belenggu penjajah.

Semangat cinta tanah air Mas Mansur dapat juga dilihat dari berbagai organisasi yang dipelopori dan dibinanya yang kebanyakan menggunakan nama belakang Wathan (Tanah Air), diantaranya Lembaga Pendidikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air), Khatib al-Wathan (Mimbar Tanah Air), Madrasah Ahl al-Wathan (Keluarga Tanah Air) di Wonokromo, Far’u al-Wathan (Cabang Tanah Air) di Gersik dan Hidayah al Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang.

Mas Mansur Termasuk dalam Keluarga Besar Sagipodin (Bani Gipo) yang dikenal memiliki akar yang kuat di kalangan Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, Kedua Cucu Sagipodin yakni KH. Mas Mansur dan KH. Hasan Basri (Hasan Gipo) merupakan dua tokoh penting dalam pertumbuhan Muhammadiyah dan NU, yang seorang dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah sementara yang seorang lagi mendapat amanat sebagai Ketua Tanfidziyah NU Pertama.

Gerakan dalam Politik Kemerdekaan

Dalam gelora pergerakkan dan perpolitikan umat Islam, Mas Mansur mengawali bergabung dalam Syarikat Islam (SI) yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto. Bahkan, beliau dipercaya sebagai Penasihat Pengurus Besar SI. Kedekatan dengan HOS Cokroaminoto berlanjut ketika Mas Mansur terpilih sebagai ketua MAIHS (Muktamar Alam Islami Far’ul Hindisj Syarqiyah) pada tahun 1926, keduanya terpilih untuk mewakili Indonesia dalam Muktamar Alam Islami sedunia di Makkah.

Pada tahun 1937, Mas Mansur berhasil melakukan gebrakan politik bagi umat Islam dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) bersama KH. Dachlan dan KH. Wahab Hasbullah (Keduanya tokoh pendiri Nahdlatul Ulama). MIAI inilah rintisan awal yang kemudian hari menjelma menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI).

Pada tahun 1938, beliau memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Pada tahun 1942, bala tentara Jepang menduduki Tanah Air, Mas Mansur bersama beberapa tokoh terkemuka dan berpengaruh pada masa itu yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Ki Hajar Dewantara (empat serangkai) memimpin PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), organisasi bentukan Jepang yang dijadikan alat perjuangan kemerdekaan dan menjadi cikal bakal lahirnya tentara PETA (Pembela Tanah Air), BPUPKI dan PPKI. Sejak tahun 1944 hingga 1945 kembali ke Surabaya dan bersama para pemuda terlibat dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Insan Pers dan Penulis Produktif

Mas Mansur juga aktif menulis untuk tujuan dakwah dan pergerakan, buah pena beliau dimuat dalam media seperti majalah Suara Santri dan Majalah Jinem yang terbit menggunakan bahasa jawa dengan huruf Arab. Kedua majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Melalu majalah itu Mas Mansur mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan. Beliau juga pernah mejadi redaktur majalah Kawan Kita di Surabaya.

Goresan pena Mas Mansur juga bertebaran diberbagai media lokal dan nasional seperti paja majalah siaran dan majalah kentungan di Surabaya; Penganjur dan Islam Bergerak di Yogyakarta; Panji Islam dan Pedoman Masyarakat di Medan dan Adil di Solo. Beliau juga menuliskan ide dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu Hadits Nabawiyah; Syarat Syahnya Nikah; Risalah Tauhid dan Syirik; dan Adab al-Bahts wa al-Munadlarah. Sebagian tulisan-tulisan KH. Mas Mansur dalam berbagai media telah dihimpun dalam buku yang berjudul “Rangkaian Mutu Manikam dari Kyai Haji Mas Mansur” yang diterbitkan oleh Penyebar Ilmu dan Al Ichsan Surabaya pada tahun 1968.

***

Sungguh luar biasa perjuangan dan kiprah KH. Mas Mansur. Beliau betul-betul model ulama pemersatu umat dan bangsa. Beliau juga pejuang dan Pahlawan Nasional yang banyak berjasa dalam misi integrasi umat Islam bangsa Indonesia. Kepeloporannya dalam banyak gerakan / organisasi menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan beliau dalam bertindak. Semoga kita bisa meneladaninya di tengah situasi bangsa yang terasa semakin carut marut ini. [mrh / dbs].

Dinukil dari Majalah Tabligh No. 5/IX/Rabiul Awal-Rabiul Akhir 1433 H


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
DESAINART

Blog ini tidak bermaksud menampilkan data-data valid atau informasi lengkap, tapi kami mengajak siapa saja yang singgah disni, melihat hal-hal keseharian dengan lebih sederhana, santai, wajar bahkan jenaka, tetapi tetap menemukan kedalaman.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *