Bagi Sufi sendiri, pengasingan itu hanya sebagian perubahan dinamis. Sufisme berjalan dengan berbagai cara. Pengasingan diri secara intelektual hanya berguna apabila memungkinkan si pelaku melakukan sesuatu yang membawa manfaat. Dengan sendirinya, ia tidak mungkin berakhir dalam mata rantai sistem realisasi diri manusia.

Tentu saja, dalam sistem metafisika parsial atau diterlantarkan itu, tujuan tersebut tidak lagi menjadi sebuah tujuan. Maksud pengasingan atau ketidakberpihakan, ataupun kelunakan (yang merupakan unsur dasar dari suatu pengembangan pribadi) dianggap begitu aneh, atau diperlukan ala kadarnya dan sangat sulit dicapai, sehingga orang “enggan” melakukannya.

Suatu pengembangan pribadi lebih lanjut yang dirasionalisasi itu bertujuan untuk membuktikan bahwa pengasingan, asketisme atau bentuk pengembangan lainnya, mempunyai suatu tujuan yang sublim atau tak terbatas. “Si Fulan telah mencapai tingkat pengasingan diri secara sempurna, walhasil ia benar-benar tercerahkan.” Pada umumnya pencapaian tersebut menjadi legenda. Tentu saja orang itu tidak mengikuti orang lain, meskipun kelihatannya demikian. Di Eropa Barat Anda akan mendengar pernyataan orang bijak lainnya, “Orang itu pribadinya mengagumkan; ia dapat mengendalikan gerak hatinya. Aku selalu menemuinya untuk meminta nasihat tentang masalah-masalah pribadi.” Apabila dikatakan kepada orang bijak itu, “Orang itu mengagumkan, ia dapat menulis sembilan puluh kata dalam semenit –utarakan masalahmu kepadanya,” maka reaksinya tentu akan marah.

Dalam bidang metafisika yang memberinya kemampuan untuk menyangsikan ketulusan, seseorang hanya bisa mengajar apa yang benar-benar dipercaya sebagai kebenaran. Apabila ia mengajar Anda dengan cara membimbing Anda sehingga Anda dapat mencapai ideal mistik tertentu, maka pertama kali ia harus membawa Anda pada beberapa tingkat keyakinan yang telah dicapainya melalui metode tersebut. Inilah yang disebut afirmasi positif, yang bisa diterima atau disanggah. Metode pengajaran Sufi mencakup suatu bidang yang lebih luas lagi. Dengan menggambarkan titik perhatian dari sudut pandang yang tidak konvensional dan mempraktikkan suatu kegiatan kolektif yang disebut Sufisme, guru Sufi berupaya menyediakan materi-materi yang dapat mengembangkan kesadaran murid. Seperti dinyatakan Sir Richard Burton, prosedur pengajarannya mungkin kelihatan destruktif, namun “sebenarnya rekonstruktif”. Rumi mengacu pada faktor tersebut ketika ia membicarakan tentang pembongkaran sebuah rumah untuk menemukan sebuah benda berharga. Tentu saja orang tidak menginginkan rumahnya dibongkar, meskipun berlian yang ada di dalamnya lebih besar manfaatnya bagi dirinya ketimbang bangunan (sebagai ilustrasi kita dapat mengajukan anggapan) yang sebenarnya tidak disayanginya. “Berlian itu,” lanjut Rumi, “ditemukan dengan membongkar rumah.” Bukan masalah apabila terpaksa memecahkan telur untuk membuat telur dadar, karena telur tidak memecah dengan sendirinya untuk bisa menjadi sebuah telur dadar.

Lebih dari itu, guru Sufi yang berperan sebagai “pembimbing, filosuf dan Sahabat itu mungkin tampil dengan berbagai fungsi. Sebagai seorang pembimbing ia menunjukkan Jalan –namun sang calon Sufi harus menempuh sendiri jalan tersebut. Sebagai seorang filosuf, ia mencintai kebijaksanaan, dalam pengertian yang murni dari istilah tersebut. Akan tetapi cinta baginya mengimplikasikan perbuatan, bukan semata kesenangan ataupun patah hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebagai seorang teman ia adalah sahabat dan penasihat, memberikan perlindungan dan suatu sudut pandang sebagai hasil dari persepsinya terhadap kebutuhan-kebutuhan lain.

Guru Sufi merupakan mata rantai antara murid dan tujuan pengajaran. Ia mewujudkan dan menyimbolisasikan baik “pekerjaan” itu sendiri dan dirinya sebagai sebuah hasil, maupun keseimbangan sistem, yaitu “rantai transmisi”. Seperti seorang perwira yang menyimbolisasikan untuk tujuan-tujuan praktis, Keadaan serta tujuan-tujuan bagi seorang prajurit, demikian pula sang Sufi, ia menyimbolisasikan thariqat sebagai entitas Sufi yang utuh.

Guru Sufi bukanlah sosok menggemparkan yang menarik jutaan pengikut dan yang kemasyhurannya tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tingkat iluminasinya hanya kelihatan seperiuhnya bagi orang yang tercerahkan. Seperti sebuah radio yang menerima sinyal-sinyal gelombang suara, manusia hanya dapat merasakan kualitaskualitas fisik dan metafisis yang berada dalam jangkauannya. Maka dari itu, orang (baik laki-laki ataupun perempuan) yang kagum dan terkesan oleh kepribadian seorang guru, meskipun telah tersadarkan (mencapai marifat tertentu), tidak akan mampu menerima dan mempergunakan pengaruh sang guru. Sumbu peledak mungkin saja tidak meledak, namun elemennya mendatangkan pijar yang merusak. “Sebuah pisau rumput tidak dapat membelah gunung. Seandainya matahari yang menyinari bumi dapat ditarik lebih dekat, bumi ini akan ditelannya.” (Rumi, Matsnawi, Buku I, versi Whinfield). Manusia yang kesadarannya berkembang itu hanya dapat memandang sekilas tingkat-tingkat kualitas di atasnya. Tak ayal lagi, bahkan melalui analogi fisik, pada umumnya orang tidak dapat menangkap kualitas-kualitas yang sebenarnya dari sang guru yang bijaksana, yaitu manusia yang telah mencapai tingkat perkembangan (kesadaran) keempat, manakala ia masih berada pada tingkat (kesadaran) pertama atau kedua.

Untuk itu, para Sufi memberikan perumpamaan: seberkas cahaya lebih bermanfaat bagi kelelawar. Adapun kilauan cahaya matahari tidak bermanfaat baginya, sekalipun mungkin ia mabuk olehnya.

Apa yang disebut bebas atau rasional itu, ketika mendekati masalah-masalah. keguruan, senantiasa mengutarakan asumsi-asumsi yang sangat mengagumkan. Seorang yang berkata, “Aku akan mengikuti seseorang yang meyakinkan diriku bahwa ia memang manusia sejati,” maksud perkataannya sebenarnya seperti orang yang masih tak beradab yang berkata, “Apabila seseorang mampu memperlihatkan kekuatan-kekuatan yang asing kepadaku atau kekuatan yang mampu mengatasi beban nasibku, maka aku bersedia mematuhinya.” Seperti seseorang yang berkepentingan dengan si dukun dari Jerman yang mampu mendatangkan nyala api magnesium “yang menakjubkan” itu, namun hal itu sedikit manfaatnya bagi dirinya sendiri. Bahkan bagi Sufi, alasannya itu tidak bermanfaat, karena dengan demikian ia masih belum siap menerima kebenaran. Betapapun siapnya, ia mungkin akan kebingungan. Ia harus mempunyai kemampuan intuitif untuk mengenali kebenaran.

Seorang laki-laki datang kepada Libnani, seorang guru Sufi, ketika saya sedang duduk dengannya, dan terjadilah dialog berikut ini:

Si penanya, “Aku ingin belajar, sudikah Anda mengajariku?”
Libnani, “Aku rasa Anda belum tahu bagaimana caranya belajar.”
Si penanya, “Dapatkah Anda mengajariku bagaimana cara belajar itu?”
Libnani, “Dapatkah Anda belajar membiarkanku untuk mengajar?”

Guru sangat banyak ragamnya didalam Sufisme, sebagian karena mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari proses organis. Ini berarti bahwa pengaruh mereka atas kemanusiaan mungkin terjadi tanpa menyadari peran dalam hubungan antara sesama manusia. Sebagai contoh, seorang Sufi Abad Pertengahan senantiasa berkelana dengan pakaian penuh tambalan dan mengajar dengan tanda-tanda, mungkin tanpa berceramah, mungkin pula dengan mengucapkan kata-kata sandi. Ia telah membangun sekolah non-formal sendiri, namun dengan keyakinan bahwa pesan kesufiannya terkomunikasikan kepada orangorang di negeri-negeri yang dilaluinya. Sosok yang aneh ini dikenal telah menjalankan kegiatannya di Spanyol dan negara Eropa lainnya. Secara kebetulan, nama yang diberikan kepada guru “diam” yang berpenampilan aneh itu adalah akhlaq (jamak akhlaqin, dilafalkan dengan suara tekak “r” dan di Eropa dilafalkan dengan “q” seperti arlakeen, arlequin). Ini adalah sebuah permainan kata dalam bahasa Arab untuk memaksudkan “pintu agung” dan “cara berbicara yang penuh rahasia”. Agak diragukan bahwa cara mengajarnya kepada orang-orang yang belum tahu itu diabadikan di Harlequin.

Seorang Bijak Sufi mungkin mengenakan pakaian yang penuh tambalan atau pakaian biasa. Ia mungkin muda atau tua. Hujwiri menceritakan sebuah pertemuan dengan seorang guru Sufi yang masih muda. Seorang laki-laki yang ingin belajar tentang Sufisme datang menemui pemuda itu yang berpakaian layaknya seorang guru Sufi, namun di sampingnya ada sebuah botol tinta. Orang itu berpikir bahwa hal ini tidak lazim, sebab para Sufi tidaklah ahli dalam menulis. Ia mendekati “penyamar” yang berperan sebagai seorang penulis dengan mengenakan pakaian penuh tambalan agar terkesan sebagai Sufi. Lalu ia bertanya tentang Sufisme kepadanya. “Sufisme,” jawab pemuda itu, “bukan berpikir bahwa karena seseorang membawa sebuah botol tinta, ia bukan seorang Sufi.”

Meskipun seorang Sufi telah mencapai pencerahan (batin) baik dalam tempo yang singkat atau lama, namun ia tidak dapat mengajar sebelum menerima Ijazah (untuk menerima murid) dari pembimbingnya sendiri dan tidak semua materi Sufisme harus diajarkan. Tafsir esoteris atas hal ini tersimpul dalam sebuah lelucon berikut ini:

Nim-hakim khatrai jan
Nim-mulla khatrai iman.

Tabib yang tanggung berbahaya bagi kehidupan;
Ulama yang tanggung berbahaya bagi keimanan.

Menurut pengertian tersebut, Sufi yang tanggung mungkin saja seseorang yang tidak perlu lagi menjadi murid, namun harus tetap melanjutkan jalan panjang dalam mencapai tujuan akhir. Selagi ia masih disibukkan untuk mengembangkan diri, ia tidak dapat menjadi guru Sufi.

Guru Sufi adalah orang bijak (arif), pembimbing (mursyid), sesepuh (pir) atau Syekh (pemimpin, ketua). Banyak julukan-julukan lain yang digunakan sesuai dengan perbedaan pengertian yang mendenotasikan karakter sebenarnya dari hubungan antara kelompok Sufi dan guru mereka.

Ada tiga jalur yang dapat ditunjukkan guru Sufi kepada calon pengikut. Dalam sistem pengajaran Sufi pada umumnya, pemula menjalani suatu masa percobaan selama seribu satu hari, dalam rangka menilai dan meningkatkan kemampuannya menyerap instruksi. Apabila ia tidak dapat menyelesaikan periode ini (yang mungkin bersifat perkiraan dan masih ada periode selanjutnya), maka ia seharusnya meninggalkan halaman sekolah (madrasah). Jalur kedua adalah guru Sufi menerima langsung calon murid tanpa menyuruhnya menghadiri majelismajelis umum di kelompok atau lingkaran (halaqah atau dairah) Sufi dan memberinya latihan-latihan khusus yang dijalankan bersamanya dan secara mandiri. Jalur ketiga, setelah menilai kemampuan-kemampuan murid, guru Sufi menerimanya secara formal namun mengirimnya ke guru lain yang secara lebih langsung bermanfaat baginya. Hanya para guru dari madzhab-madzhab tertentu yang menerapkan seluruh latihan-latihan yang mungkin diberikan guru Sufi –pada umumnya madzhab-madzhab Asia Tengah dan cabang Tarekat Naqsyabandiyah, yaitu Azhimiyah yang menggabungkan beberapa metode pengajaran dengan suatu prosedur yang saling melengkapi.


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *