Guru, Pengajaran dan Murid

"Guruku telah membebaskanku dari kungkungan. Kungkungan yang sebelumnya aku kira kebebasan itu ternyata sebuah lingkaran setan."


DESAINART- Orang kerapkali berkata bahwa secara mental orang Timur akan senantiasa mematuhi dengan setia ajaran-ajaran seorang guru, mengikuti petunjukpetunjuknya dengan bentuk kepatuhan yang jarang ditemui di Barat. Bagi seseorang yang mempunyai pengetahuan utuh tentang dunia Timur, generalisasi tersebut merupakan kesalahpahaman orang Barat semata –bahwa mentalitas semua negara-negara Timur itu relatif sama. Secara umum apa yang bisa dikemukakan tentang sikap orang Timur terhadap guru-guru spiritual mereka bahwa ada lebih banyak pendidik di Timur dan ternyata mereka senantiasa berbuat kebajikan.

Hampir setiap orang dibesarkan dengan suatu kepercayaan diri yang menjadi dasar pemikirannya. Pemikiran untuk menerima bimbingan itu dibingungkan dengan hilangnya kebebasan karena suatu kelemahan yang lazim dalam menalar secara benar. Kebanyakan orang –baik di Timur maupun di Barat– tidak menyadari bahwa menyerahkan diri ke haribaan seorang guru sama sekali tidak akan menyebabkan kehilangan jati diri. Sebenarnya mereka tidak konsisten, di satu sisi mereka percaya penuh kepada seorang ahli bedah yang memotong usus buntunya karena mereka memang buta tentang ilmu bedah, namun di sisi lain mereka menolak pengetahuan superior atau pengalaman guru dalam suatu bidang yang sebenarnya tidak mereka pahami.

Karena para guru Sufi tidak menyebarkan ajarannya atau berusaha mencari pengikut, maka kita hanya dapat mendekati melalui pernyataan-pernyataan para Sufi yang telah matang (pengetahuannya) dan umumnya bukan pernyataan guru mereka sendiri. “Engkau menemui pendeta karena telah menjadi kebiasaan atau percaya kepadanya,” kata seorang Sufi, “dan karena ia mengetahui dengan pasti dalam memecahkan masalah-masalah tertentu. Engkau pergi ke dokter karena engkau menderita penyakit parah yang membutuhkan pertolongannya. Engkau seringkali mengunjungi para ‘penyihir’ karena mengalami kerapuhan batin; Engkau mengunjungi pembuat pedang untuk mendapatkan kekuatan lahiriah; engkau mengunjungi pembuat sepatu karena telah mengenal hasil karyanya dan ingin membelinya. Janganlah engkau mengunjungi orang Sufi apabila hanya mencari keuntungan, jika engkau mencoba membantahnya, ia akan mengusirmu.”

Sufi percaya bahwa daya tarik seorang guru Sufi pada dasarnya berasal dari pengetahuan intuitifnya, adapun alasan-alasan yang diberikan calon Sufi tidaklah penting, hanya semacam rasionalisasi. Seorang Sufi berkata, “Aku mengenal guru sebagai manusia yang agung dan baik sebelum bertemu dengannya. Namun setelah ia memberikan penerangan kepadaku, baru aku menyadari keagungan dan kebaikannya ternyata jauh lebih agung dan jauh di luar kemampuan pemahamanku semula.”

“Aku mengenal guru sebagai manusia yang agung dan baik sebelum bertemu dengannya. Namun setelah ia memberikan penerangan kepadaku, baru aku menyadari keagungan dan kebaikannya ternyata jauh lebih agung dan jauh di luar kemampuan pemahamanku semula.”

Kebebasan dan keterikatan itu cenderung merupakan perasaan subyektif dalam diri setiap orang. Seorang Sufi berkata, “Guruku telah membebaskanku dari kungkungan. Kungkungan yang sebelumnya aku kira kebebasan itu ternyata sebuah lingkaran setan.”

Menangguhkan sepenuhnya rasa percaya diri atas suatu bidang yang sebenarnya bukan kegiatannya, digambarkan dalam sepenggal otobiografi Sufi berikut ini: “Semula aku bertekad harus menempuh Jalan mistik sendiri, dan berjuang untuk itu, tapi kemudian sebuah suara berkata, ‘Engkau harus pergi menemui seorang pencari jejak yang akan menunjukkan jalan dalam menjelajahi hutan belantara atau engkau lebih suka mencari jalanmu sendiri dan binasa dalam pencarianmu itu’?”

Kendati kecakapan-kecakapan Sufi mungkin berkembang secara spontan, namun kepribadian seorang Sufi tidak bisa matang dengan sendirinya, karena sang Pencari tidak mengetahui secara pasti jalan mana yang mesti ditempuh dan pengalamanpengalaman apa yang akan dilaluinya. Ia masih berada dalam tahap rawan kerapuhan pribadi yang mempengaruhinya dan (membutuhkan) seorang guru yang “membimbing”-nya. Maka dari itu, Syekh Abu al-Hasan Saliba menyatakan, “Lebih baik seorang murid diawasi seperti seekor kucing ketimbang di bawah pengawasan dirinya sendiri.” Gerak hati seekor kucing beragam dan tak terkontrol, demikian pula gerak hati para calon Sufi pada tahap awal.

Perumpamaan antara manusia yang tidak bisa bangkit kembali ini dengan binatang, kendati dirinya dianugerahi kecakapan-kecakapan namun belum mampu memanfaatkannya sendiri, kerapkali digunakan dalam pengajaran Sufi: “Semakin manusia bersifat seperti binatang, semakin kurang pemahamannya atas pengajaran. Baginya, seorang Pembimbing mungkin tak ubahnya seperti pemburu yang menggiringnya ke dalam sangkar. Aku pun dulu begitu,’ kata Aali-Pir.” “Seekor elang liar berpikir bahwa apabila tertangkap, sebagaimana senantiasa perkiraannya, maka ia akan diperbudak. Ia tidak menyadari bahwa sang tuan akan memberikannya sebuah kehidupan yang lebih lapang. Dengan bertengger secara leluasa di pergelangan tangan sang Raja, ia tidak akan pernah lagi memikirkan kelezatan makanan dan merasa takut. Satu-satunya perbedaan antara manusia dan binatang di sini adalah bahwa binatang takut pada setiap orang. Sementara itu manusia juga mengklaim bahwa dirinya mampu menilai kehandalan guru. Apa yang sebenarnya sedang dilakukannya adalah membangkitkan intuisi dan kecenderungannya untuk menyerahkan diri kepada salah seorang yang mengetahui Jalan itu”.

Lebih dari itu, interaksi antara guru dan murid hampir tidak mungkin timbul tanpa peran guru. Bentuk ungkapan, tindakan dan kerjasama Sufi membutuhkan tiga hal: guru, pelajar, komunitas atau sekolah. Dalam pernyataannya, Rumi mengacu pada kegiatan yang kompleks berikut ini:

Ilm-amozi tariqish qawli ast
Hazfa-amozi tariqissh fa’li ast
Faqr-amozi az sohbat qalm ast.

Ilmu pengetahuan dipelajari melalui kata-kata;
Seni dipelajari dengan berlatih;
Hidup Fakir dipelajari melalui persahabatan.

Lantaran cara belajar itu sendiri harus benar-benar dikuasai, maka pada bagian lain Rumi berkata, “Sebuah batu dalam pandangan orang biasa sesungguhnya sebuah mutiara bagi orang yang mengetahuinya”.

Fungsi seorang guru adalah membuka pikiran murid, sehingga memungkinkannya mengetahui nasibnya. Agar dapat melakukan ini, orang harus menyadari seberapa jauh pemikirannya dikuasai praduga-praduga. Pada tahap ini, memahami keadaan tersebut secara benar adalah tidak mungkin, maka dari itu ia harus siap memasuki organisasi manusia yang melatihnya untuk berpikir menurut garis-garis tertentu, “Bukalah pintu pikiranmu terhadap obyek pemahaman yang diabaikan, karena engkau miskin sedangkan ia kaya.” (Rumi).

Dengan demikian, Sufisme dapat dipahami sebagai suatu perjuangan melawan penggunaan kata-kata untuk membangun pola-pola pemikiran, dengan jalan menawan manusia pada suatu tingkat kehidupan yang tak lazim, atau upaya menjaga ummat manusia dari pergeseran nilai-nilai yang mendasar.

Seorang Sufi pernah ditanya, mengapa para Sufi menggunakan kata-kata dalam pengertian yang khas, yang mungkin dilepaskan dari konteks maknanya yang lazim. Ia menjawab, “Sebaiknya engkau renungkan, mengapa orang-orang menderita karena tirani kata-kata, dilumpuhkan oleh adat-istiadat sampai mereka laksana menjadi kaki tangannya belaka.”

Hubungan antara guru dan murid dalam Sufisme hanya dapat dipahami melalui sistem pengajarannya. Di satu sisi ajaran Sufi berada di luar konsep ruang dan waktu. Hal ini sesuai dengan unsur dasar dalam Sufisme, bahwa guru dan murid mempunyai status yang sama. Di sisi lain ajaran Sufi meliputi semua aspek kesadaran manusia yang terdiri dari pengalaman, kehidupan dan konsep bendabenda. Suatu bentuk interaksi yang khas menimbulkan suatu transformasi. Maka dari itu, hubungan tersebut pada dasarnya jauh melampaui ruang lingkup belajar mengajar formal. Guru Sufi lebih dari sekadar orang yang menyampaikan pengetahuan formal; lebih dari sekadar orang yang mengadakan hubungan harmonis dengan siswa, lebih dari sekadar sebuah mesin yang memberikan sejumlah informasi tentang barang-barang yang tersedia dalam gudang perbekalan. Ia mengajarkan lebih dari sekadar sebuah metode pemikiran atau suatu sikap hidup; lebih dari sekadar suatu kemampuan untuk mengembangkan diri.

Seorang profesor dari Ceko, Erich Heller menyinggung masalah kajian sastra itu dan khususnya metode pengajarannya dalam kata pengantarnya untuk sebuah buku sastra yang segera menjadi buku pengajaran klasik pada pertengahan abad kedua puluh. Ia menulis bahwa “guru terlibat dalam suatu tugas yang tampaknya tidak mungkin diamati melalui standar-standar penelitian laboratorium –mengajar materi yang sebenarnya tidak dapat diajarkan, namun hanya dapat ‘ditangkap’, seperti nafsu, keburukan atau kebajikan.” (The Disinherited Mind, London, 1952).

Tugas guru Sufi bahkan lebih kompleks dari guru sastra tersebut. Namun berbeda dengan guru sastra, ia tidak mempunyai tugas mengajar dalam pengertian biasa. Tugasnya adalah menjadi, menjadi diri sendiri; dan tujuan pengajarannya justru terpantul dari proses menjadi itu sendiri. Dengan demikian, tidak ada pemilahan antara ruang publik dan ruang pribadi dalam kehidupan seorang guru Sufi. Guru yang membedakan perilakunya di kelas dan di rumah, bersikap seperti kalangan profesional atau seperti perawat orang sakit bukanlah seorang Sufi. Maka dari itu, konsistensi tersebut melibatkan dirinya secara utuh. Perilaku lahiriahnya mungkin kelihatan berubah-ubah, namun personalitas batinnya tetap tunggal.

Pengajar yang hanya menyentuh bagian luar tugas tersebut tidak dapat menjadi guru Sufi. Laki-laki ataupun perempuan dengan penampilan resmi yang menguasai pikirannya sehingga ia kehilangan arah karena terpesona oleh personalitas temporer itu, tidak dapat menjadi guru Sufi. Orang tidak harus berkepribadian sematang Walter Mitty, tokoh ciptaan James Thurber, untuk mengalami “keterlibatan” diri (secara sosial), suatu keadaan yang mungkin hanya merupakan sebuah tahap awal kesadaran Sufi. Jadi, mengajar tidak mungkin dilakukan seseorang yang mudah terpengaruh keadaan-keadaan yang bersifat sementara.

Namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa orang biasa mempunyai personalitas labil yang secara sosial terbiasa “memainkan sebuah peran”. Dalam suatu skala prosedur standar lembaga-lembaga sosial pada umumnya, ada suatu penangguhan personalitas tiruan atau berubah-ubah itu. Penangguhan itu sendiri bukanlah suatu keburukan, tak pelak lagi dari sudut pandang Sufi ia merupakan suatu indikasi ketidakmatangan.

Keutuhan personalitas batiniah guru Sufi, meski diungkapkan melalui aneka ragam cara, tidak berarti serupa dengan personalitas lahiriah yang sangat diutamakan kalangan literalis. Pribadi yang dingin, personalitas yang kaku, guru yang menyendiri atau personalitas yang takjub diri dan “orang yang sama sekali tak lentur” tidak dapat menjadi seorang guru Sufi. Pertapa yang memisahkan diri dari masalah duniawi, dan dengan demikian dirinya sendiri merupakan suatu inkarnasi eksternal serta bagi kalangan pengamat kelihatan tidak memihak, bukanlah seorang guru Sufi. Alasan tersebut sama sekali tidak dibuat-buat. Namun alasan yang statis itu menjadi tidak berguna dalam pengertian organis. Selama bisa dibuktikan, seseorang yang senantiasa bersikap dingin dan tenang, tentu tidak merasa kesulitan untuk menjalankan fungsi tersebut, yaitu kegiatan mengasingkan diri. Ia “tidak pernah melakukan agitasi”, dan dengan menarik diri dari salah satu fungsi organik maupun kehidupan mental, maka ia telah mempersempit ruang gerak kegiatannya. Suatu disiplin yang terlampau ketat senantiasa menjadi batasbatas yang kaku.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *