Fatwa MUI Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19


DESAINART- Hallo SobatArt! Selamat Hari Jum’at semoga kita senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT dari segala penyakit yang mengancam termasuk Wabah Covid-19. Aamiin. 

Postingan kali ini masih berhubungan dengan Covid-19. Dimana Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 18 Maret 2020 melalui Web resminya [ mui.or.id ], mengeluarkan fatwa terkait penyelenggaraan Ibdah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 dalam bentuk Infografis.

Reaksi masyarakat pun berbeda-beda menyikapi fatwa ini. Ada yang mentaati fatwa tersebut, ada juga yang berpendapat berbeda dengan mengajukan dalil masing-masing. Namun pada postingan ini, kita tidak akan membahas tentang perbedaan yang sangat tajam tersebut di akar rumput. Tapi kami hanya ingin mengajak kepada siapa saja yang singgah di sini, untuk membaca fatwa ini secara menyeluruh, sehingga dapat menyimpulkan dengan bijak.

Berikut point-point yang terdapat dalam fatwa tersebut :

  • Setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang dapat menyebabkan terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (Al-Dharuriyat al-Khams).
    .
  • Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga diri mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur, karena shalat Jumat merupkan ibadah yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.
    Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu / rawatib, shalat Tarawih dan Ied di Masjid atau tempat umum lainnya, serta menghindari pengajian umum dan tabligh akbar.
    .
  • Orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar Covid-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
    Pertama, Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan shalat Jumat dan mengantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu / rawatib, tarawih, dan Ied di Masjid atau tempat umum lainnya.
    Kedua, Dalam hal ini ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.
    .
  • Dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan zuhur di tempat masing-masing.
    Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran Covid-19, seperti jamaah shalat lima waktu / rawatib, shalat tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghindari pengajian umum dan majelis taklim.
    .
  • Dalam kondisi penyebaran Covid-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jumat dan boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak, seperti jamaah lima waktu / rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajuan umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19.
    .
  • Pemerintah menjadikan fatwa ini sebagai pedoman dalam menetapkan kebijakan penanggulangan Covid-19 terkait dengan masalah keagamaan dan umat Islam wajib mentaatinya.
    .
  • Pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) yang terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.
    Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19.
    .
  • Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan atau menimbun bahan kebutuhan pokok serta masker dan menyebarkan informasi hoax terkait Covid-19 hukumnya haram,
    .
  • Umat Islam agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu, memperbanyak shalawat, sedekah, serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan keselamatan dari musibah dan marabahaya (daf’ul al-bala’), khususnya dari wabah Covid-19.
Rekomendasi
  1. Pemerintah wajib melakukan pembatasan super ketat terhadap keluar-masuknya orang dan barang ke dan dari Indonesia kecuali petugas medis dan barang kebutuhan pokok serta keperluan emergency.
  2. Umat Islam wajib mendukung dan mentaati kebijakan pemerintah yang melakukan isolasi dan pengobatan terhadap orang yang terpapar COVID-19, agar penyebaran virus tersebut dapat dicegah.
  3. Masyarakat hendaknya proposional dalam menyikapi orang yang suspect atau terpapar COVID-19. Oleh karena itu masyarakat diharapkan bisa menerima kembali orang yang dinyatakan negatif dan atau dinyatakan sudah mebuh ke tengah masyarakat serta tidak memperlakukannya secara buruk.

FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor : 14 tahun 2020
Tentang

Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19

Haturnuhun sudah mampir, semoga bermanfaat 🙂


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *