E-Book Sekolah Itu Candu

"Jangan sampai putus sekolah, kalau putus sekolah bisa berabe" demikian ujar Mandra dalam satu pariwara televisi nasional 'Ayo Sekolah' yang disponsori oleh UNICEF dan Kementrian Pendidikan Nasional.


DESAINART- Demikian pentingnya sekolah sehinga Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia segera mengucurkan utang baru untuk menjamin anak-nak Indonesia tetap di bangku sekolah di tengah masa krisis beruntun saat ini. Untuk menjamin agar dana tersebut dapat sampai pada tujuannya, maka jalur birokrasi pun di pangkas, sudah sejah beberapa tahun, anggaran belanja negera untuk sektor pendidikan merupakan primadona.

Tetapi, jangan tanya soal kebocorannya. Simak saja laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setiap tahunnya yang menunjukkan bahwa Departemen Pendidikan Nasional masih tetap merupakan salah satu lembaga pemerintah yang paling korup, banyak salah-urus, dan sangat ruwet.

Namun, yang lebih penting adalah pertanyaan: apakah tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diraih lewat proses yang dipacu laju (accelerated) dengan tambahan dana yang besar tersebut?

Pertanyaan kunci adalah: apakah usaha ini merupakan usaha yang layak (benefit of risk)? Apakah program ini akan mampu menghindari bangsa kita dari keterpurukan yang lebih jauh, khusunya ketika pasar bebas mulai diterapkan?

Prof. Dr. Wardiman Djojodiningrat (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Pembangunan VI) menolak tudingan bahwa pendidikan tidak mampu menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja, ketika beliau meluncurkan program link and match-nya.

Sebenarnya, ini sudah merupakan suatu pengakuan diam-diam bahwa sistem pendidikan kita selama ini memang tidak mampu melahirkan tenaga kerja siap-pakai. Belum lagi kalau kita simak muatan kurikulum itu sendiri, yang sangat ideologis dan sarat dengan nilai-nilai yang harus dikunyah oleh para siswa didik walaupun kenyataan sehari-hari bertolak belakang dengan nilai-nilai yang harus dihafalkan bak mantra suci dan sakti itu.

Sistem kurikulum dan sistem manajemen sekolah juga tidak kalah serunya, karena hampir setiap kali pergantian menteri, kebijakan mengalami bongkar pasang. Bukankah bisnis ‘buku pelajaran sekolah’ (‘buku INPRES’) merupakan bisnis yang sangat menguntungkan? Seragam sekolah anak SD pun hampir menjadi objek bisnis ‘koloni korupsi nepotisme’ (KKN).

Syukur, media massa cukup tanggap, sehingga proyek itu layu sebelum berkembang. Pendek kata, pendidikan telah menjadi suatu komoditas. Mesin birokrasi yang kita miliki memang sudah sedemikian canggih, sehingga penumpukan kekayaan yang jelas-jelas berbau KKN pun ternyata masih sulit untuk di seret ke meja hijau.



Bukankah peran serta masyarakat untuk turut menyelenggarakan pendidikan bagi mereka sudah tergadai dengan diterapkannya SD dan SMP INPRES? Memang benar, bangunan sekolah menjadi standar tidak ada lagi sekolah beratan rumbia yang didirikan sendiri oleh masyarakat.

Sebagai gantinya, bangunan-bangunan sekolah yang baru relatif megah untuk suasana pedesaan. Tetapi di sebalik pemandangan kasat mata itu, ada sesuatu lebih mendasar terasa hilang. Masalah ini digambarkan dengan sangat indah dan puitis oleh Roem dalam buku ini, pada tulisan yang berjudul ‘Robohnya Sekolah Rakyat Kami’. Uraiannya senafas dengan kritik Everett Reimer lewat bukunya, School is Dead (sekolah sudah mati)!

Di tengah kepengapan sistem pendidikan macam ini, Roem mengajak untuk menyimak sistem pendidikan kita, sehingga salah jika judul yang dipilihnya adalah ‘Sekolah itu Candu’. Candu memang punya dampak membius, membuat semua orang dari kenyataan yang sudah parah.

Lewat jenjang pendidikan dan akreditasi, disahkanlah ketimpangan pembagian pendapatan yang sangat jomplang. Para manajer puncak perusahaan swasta di kota-kota besar meraup penghasilan dari 50 juta rupiah per bulan, mungkin sama dengan penghasilan seorang petani di kampung selama 5 tahun. Masyarakat dibius dengan materialisme dan kapitalisme yang tak kenal malu.

Buku ini berlatar belakang tahun 2222, menampilkan tokoh Sukardal, seorang petani yang tanpa sengaja menemukan satu naskah tusa di Museum Bank Naskah Nasional yang diberi label amaran resmi sebagai ‘Bacaan Terlarang’.

Ya, buku kecil (tegasnya: pamflet) Roem inimemang dapat digolongkan sebagai bacaan subversif, karena jelas-jelas menggugat kemapanan sistem pendidikan yang berlangsung direpublik ini sejak dua dasawarsa lalu.

Krisis beruntun yang sedang melanda negeri ini melahirkan momentum untuk merefleksi dan melakukan dekonstruksi atas kemapanan dunia pendidikan kita yang selama ini menikmati bagaian besar kue pembangunan nasional.

Ya, kita butuh banyak bacaan makar – gagasan-gagasan yang menentang kemapanan dan kemandekan, pikiran-pikiran yang tidak umum, yang memberi ilham, yang membuat terobosan baru – di masa pengap dan sumpek seperti sekarang.

Selamat menikmati pamflet Illichian yang cerdas ini. (Roy Tjiong – Ketua Dewan Pengawas INSIST, 2005 – 2008)

EBook Sekolah Itu Candu


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Admin

desainart.net dibangun pada tahun 2018 dengan harapan dapat menjadi media alternatif yang menginspirasi khususnya kaum milenial. desainart berawal dari sekumpulan orang yang sedang berusaha tidur teratur dan sedang berlajar menjadi muslim yang baik.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *