E-Book Ideologi Kaum Reformis


DEAINART- Reformisme Islam di Indonesia memiliki akar kesejarahan (bistorical root) yang otentik. Secara subtansial, gagasan reformisme Islam mencakup pandangan tentang pentingnya meletakan doktrin Islam dalam konteks pembaruan sosial di kalangan orang-orang muslim. Pergulatan yang intens antara doktrin (teks) agama dan realitas (konteks) sosial telah memaksa para pemeluk agama untuk melakukan rekonstruksi doktrinal dan sosial sekaligus. Rekonstruksi itu menjadi sangat mendesak karena tajamnya jurang antara cita-cita (ideals) dan fakta (facts). Karenanya, kesenjangan (discrepancy) itulah yang sejatinya menjadi raison d’etre reformisme Islam.

Gerakan reformisme apapun pasti lahir sebagai jawaban atas persoalan-persoalan sosial dan struktural yang timbul dalam masyarakat. Reformisme Islam muncul dalam konteks masyarakat yang dicirikan oleh kuatnya konservatisme dalam dimensi sosial keagamaan. Reformisme juga merupakan kritik terhadap kecendrungan feodalisme, yang tentu saja berlawanan dengan gagasan kesederajatan (egalitarianism). Lebih dari itu, reformisme Islam juga memberikan juga memberikan sumbangan berupa etika sosial (social e-thics) sebagai instrumen penting dalam merevitalisasi kehidupan sosial keagamaan.

Kontribusi besar dan penting dari kaum reformis muslim awal di Indonesia ialah penciptaan fondasi yang kokh bagi rekonstruksi dan revitalisasi sosial, kultural dan struktural. Menawarkan wacana keagamaan (religious discourse) mengenai pentingnya rasionalitas dan pemahaman rasional (bahkan liberal untuk zamannya) terhadap doktrin agama, etika sosial, keterbukaan, toleransi, pluralisme, relativisme, dan tanggung jawab sosial (social responsibility). Namun, mereka tidk hanya berhenti berwacana, mereka bahkan melihat wacan cana itu harus diwujudkan dalam kerangka praksis.



Jadi, kaum reformis awal tidak saja telah “berpikir”, tetapi juga telah “berbuat”. Semuanya itu (menurut buku ini) telah menjadi semacam ideologi dan sekaligus ideo-praxis. Jika ideologi umumnya dicirikan oleh ekslusivisme dan dogmatisme, maka ideologi atau ideo praxis kaum reformis lebih dicirikan oleh empirisme dan pergulatan sosial yang dinamis.

Melalui studi doktoralnya tentang pandangan keagamaan tokoh-tokoh dari salah satu gerakan Islam Indonesia pada awal abad ke 20, Dr. Achmad Jainuri dengan sangat elaboratif mengkonstruksi mentalitas (mentality / state of mind atau mind set) kaum muslim reformis yang sangat menonjol dan maju untuk zamannya.

Karenanya, diskursus keagamaan yang berkembang belakangan ini, seperti pluralisme, pandangan liberal dalam Islam, etika agama dan etika sosial, gagasan untuk menghindari keterjebakan pada ritualisme dan dogmatisme, toleransi, relativisme semuanya telah diwacanakan dan sekaligus dipraktikan oleh para reformis muslim dipermulaan abad ke 20.

Maka, pada tempatnyalah kita mengapresiasi diskursus keagamaan mereka sebagai fondasi kesejarahan yang otentik sekaligus inspirasi bagi bagi diskursur keagamaan kontemporer di negeri ini. Tentu saja, kita harus mengkontekstualisasikannya sesuai dengan semangat zaman kita sendiri.

Selamat membaca ! Hatur Nuhun sudah mampir 🙂


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *