E-book Arok Dedes (Pramoedya Ananta Toer)

Arok Dedes, adalah roman yang menolak seluruh dongengan dan mistika yang menyelimuti cerita dimana nyaris seluruh daya-sadar masyarakat Indonesia pernah menaggapnya karena masuk dalam silabus buku-buku sejarah diniyah.


Arok Dedes, adalah roman yang menolak seluruh dongengan dan mistika yang menyelimuti cerita dimana nyaris seluruh daya-sadar masyarakat Indonesia pernah menaggapnya karena masuk dalam silabus buku-buku sejarah diniyah. Di tangan Pram (sapaan akrab Pramodya Ananta Toer), sejarah awal abad 13 itu, seluruh mistika yang menyertai jatuhnya Tumapel, dicerbut, ditelanjangi, dibersihkan. Dari yang irasional (kutukan keris Empu Gandring tujuh turunan) diluruhkan. Dan berubahlah cerita Arok-Dedes yang terkenal itu menjadi cerita politik yang menggetarkan sekaligus mendebarkan. Ini roman politik seutuhnya.

Berkisah tentang kudeta pertama yang terjadi di bumi Nusantara, kudeta ala Jawa. Kudeta yang merangkak dari bawah menggunakan banyak tangan untuk kemudian memukul habis dan mengambil bagian kekuasaan sepenuh-penuhnya. Kudeta licik namun cerdik. Kudeta berdarah-darah, tapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada dan mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya.

Pada tahun 1215, Temu seorang bocah berumur belasan, dikemudian hari dikenal dengan nama Arok, telah mengorganisir perlawanan secara tidak sadar terhadap Tunggul Ametung Akuwu Tumapel. Dalam waktu lima tahun ia telah menjadi pemuda berumur duapuluh tahun, tlah menjelma menjadi seorang taktikus perang cerdik yang mengubah cara berperang gaya Hindu di Jawa, ia juga menjadi seorang polotikus dan juga negarawan dengan gayanya sendiri.

Melibatkan gerakan militer (Gerakan Empu Gandring), menyebarkan syak wasangka dari dalam bilik agung Tunggul Ametung. Tak ada kawan maupun lawan, yang ada hanya kegelisahan akan siapa yang dapat Tunggul Ametung percayai. Mengorganisir paramiliter (begundal-begundal dan jajaro), dan memperpanas perkubuan. Aktor-aktornya bermain bekerja seperti hantu. Kalaupun gerakannya diketahui, namun tiada bukti yang sahih bagi penguasa (Akuwu Tunggul Ametung dan para Patih-Patihnya) untuk dapat menyingkirkannya.



Arok adalah simbol dari gabungan antara mesin paramiliter licik dan politisi sipil yang cerdik-rakus (dari kalangan sudra/agrari yang merangkakkan nasib menjadi penguasa tunggal tanah Jawa). Mula-mula, didekatinya para intelektual dan kaum moralis (brahmana) untuk mendapatkan legitimasi bahwa usaha kudetanya legal. Karena betapa pun kekuasaan politik, selaluh butuh legitimasi – baik legitimasi agama (sesembahan dewa-dewi) maupun legitimasi sejarah dan identitas (kekastaan, asal-usul).

Arok mendapatkan semua legitimasi itu untuk mengukuhkan diri sebagai penyelamat rakyat dari politik yang dijalankan oleh orde Tunggul Ametung secara sewenang-wenang. Arok juga menggunakan jalinan kisah cintanya bersama paramesywari Tumapel (Dedes) untuk memuluskan jalannya menuju tampuk kekuasaan. Arok tak mesti memperlihatkan tangannya yang berlumuran darah mengiringi jatuhnya Tunggul Ametung di Bilik Agung Tumapel, karena politik tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik adalah permainan catur diatas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melemparkan umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar. Tak ada kawan maupun lawan, yang ada hanyalah tujuan akhir: puncak dari kekuasaan itu sendiri; tahta dimana hasrat bisa diletupkan sejadi-jadi yang diinginkan. Pada akhirnya roman Arok Dedes menggambarkan peta kudeta politik yang kompleks yang “disumbang” Jawa untuk Indonesia.

EBook Pramoedya Ananta Toer


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Desain Art

desainart.net dibangun pada tahun 2018 dengan harapan dapat menjadi media alternatif yang menginspirasi khususnya kaum milenial. desainart berawal dari sekumpulan orang yang sedang berusaha tidur teratur dan sedang berlajar menjadi muslim yang baik

Komentar