Dede Mulyanto – Marxisme dan Evolusi Manusia

Garis besar alur evolusi yang Engels teorikan, yakni bahwa ciri-ciri Homo sapiens (bipedalisme, kapasitas otak besar, produksi perkakas, dan bahasa) tidaklah berevolusi secara serempak sebagaimana Darwin teorikan sebelumnya, tapi bertahap dengan dimulainya adaptasi bipedal untuk hidup di permukaan tanah, dan bahwa evolusi kapasitas otak bukanlah sebab tapi akibat dari evolusi ciri-ciri hominin lain yang berkembang terlebih dahulu, sudah tidak lagi diperdebatkan.


Enam tahun lalu, seorang kawan menghadiahi penulis sebuah buku. Judulnya The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man. Buku tua nan tipis itu terbitan Foreign Language Press, Peking 1975. Penulisnya Frederick Engels. Kebetulan, waktu itu penulis sedang belajar paleoantropologi, bidang kajian ilmiah atas fosil dan bukti-bukti fisik yang membatu lainnya dari evolusi manusia. Dari pembacaan buku tersebut lahirlah tulisan pertama yang mencoba merekonstruksi teori Engels ihwal alur evolusi manusia. Setahun berikutnya tulisan itu terbit di Jurnal Antropologi Indonesia. Rupanya, makin didalami makin tampaklah bahwa materialisme dialektis amat berpengaruh terhadap cara pandang terhadap evolusi. Pendekatan inilah yang membedakan spekulasi Engels dan tafsirnya atas fakta paleoantropologis. Garis besar alur evolusi yang Engels teorikan, yakni bahwa ciri-ciri Homo sapiens (bipedalisme, kapasitas otak besar, produksi perkakas, dan bahasa) tidaklah berevolusi secara serempak sebagaimana Darwin teorikan sebelumnya, tapi bertahap dengan dimulainya adaptasi bipedal untuk hidup di permukaan tanah, dan bahwa evolusi kapasitas otak bukanlah sebab tapi akibat dari evolusi ciri-ciri hominin lain yang berkembang terlebih dahulu, sudah tidak lagi diperdebatkan. Perdebatan hanya tinggal kapan, di mana, dan dan bagaimana proses itu berlangsung.



Tujuan penulis semula hanya memperkenalkan esai Engels tersebut di atas. Namun memperkenalkan saja tak cukup. Apa pasal? Engels menulis di abad ke-19 ketika paleontologi masihlah kanak-kanak, tatkala temuan fosilfosil manusia amatlah terbatas, dan gagasan-gagasan spekulatif lebih dominan ketimbang fakta dalam menafsirkan temuan tersebut. Ada banyak spekulasi Engels yang keliru menurut standard mutakhir. Yang terbaik darinya bukanlah spekulasinya, tapi kerangka pikir materialisme dialektisnya. Dan kerangka pikir inilah yang penulis pakai dalam upaya merekonstruksi kembali apa yang Engels teorikan berbekal temuan-temuan dan teori-teori terbaru dalam bidang evolusi manusia.

Meskipun ada beberapa perubahan, tapi keterangan dan argumen pokok tulisan-tulisan yang dimuat buku ini tidak banyak berubah dari tulisan yang sebelumnya diterbitkan di media lain. Oleh karena itu, atas budi baiknya memberi ijin tertulis penerbitan ulang ke dalam media berbeda, penulis menghaturkan terima kasih kepada: pimpinan redaktur Jurnal Antropologi Indonesia, redaktur penerbit Marjin Kiri, dan editor Indoprogress: Jurnal Pemikiran Marxis. Tak lupa juga kepada Sylvia Tiwon yang meski sedang sakit telah meluangkan waktu untuk menulis sebuah pengantar, penulis mengucapkan banyak terima kasih.

Akhirul kalam, mudah-mudahan buku ini bisa menjadi bahan diskusi lanjut soal relevansi Marxisme dengan penyelidikan evolusi manusia, setidaknya secara teoritis.

Penulis, Jatinangor, Nopember 2016

Link E-Book


Desain Art

desainart.net dibangun pada tahun 2018 dengan harapan dapat menjadi media alternatif yang menginspirasi khususnya kaum milenial. desainart berawal dari sekumpulan orang yang sedang berusaha tidur teratur dan sedang berlajar menjadi muslim yang baik

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah