DESAINART- Tuanku Imam Bonjol memiliki nama asli Muhammad Sahab atau dikenal juga dengan Petto Syarif, lahir di Kampung Tanjung Bunga pada 1772. Beliau adalah seorang guru agama. Ilmu agama dipelajari dari sang ayah, Buya Nurdin. Tuanku Imam Bonjol memimpin pasukannya untuk menghadapi Belanda dan memaksa Belanda mengadakan perjanjian damai pada tahun 1824 yang dikenal sebagai Perjanjian Masang.

Kalau pengetahuan belum cukup, pelajarilah dua puluh sifat-sifat Allah swt

Riwayat Perjuangan

Tahun 1800; Masa Pendidikan di Aceh
Peto Syarif yang kemudian lebih dikenal dengan nama Tuanku Imam Bondjol menuntut ilmu agama di Aceh (1800-1802) dan mendapat gelar Malim Basa

Tahun 1803; Mendirikan Negeri Bondjol di Alahan Panjang
Tahun 1803 Tuanku Imam Bondjol kembali ke Minangkabau, dan mendirikan sebuah negeri Bonjol yang diperkuat dengan benteng yan didirikan di kaki bukit Tajadi. Tuanku Imam Bondjol tumbuh menjadi ulama terkemuka di daerah Alahan Panjang dengan pusatnya Bondjol.

Tahun 1821; Menjadi Pimpinan Perang di Sumatera Barat
Dalam perjanjian tahun 1821 antara Belanda dan golongan adat, Belanda berjanji akan membantu golongan adat untuk memerangi paderi. Sementara Imam Bondjol memimpin Kaum Paderi. Sesuai dengan perjanjian tersebut, Belanda melancarkan perang kolonial di Sumatra Barat yang pertama kali berkobar di Sulit Air, dekat danau Singkarak.

Tahun 1824; Perjanjian Masang di Bonjol Sumatera Barat 
Tahun 1824, Belanda mencoba berdamai dengan kaum paderi dengan “perjanjian masang” tetapi dilanggar oleh Belanda sendiri. Belanda menyerang Sumatera Barat dan dapat menguasai Bondjol pada tahun 1832, namun dapat direbut kembali tiga bulan kemudian.

Tahun 1837; Pengasingan Oleh Belanda di Manado 
Tanggal 28 Oktober 1837 Tuanku Imam Bondjol berangkat ke Palupuh untuk melakukan perundingan dengan Residen Francis, namun sampai, di Palupuh beliau tidak bertemu sang Residen, melainkan disambut oleh pasukan tentara Belanda yang telah lebih dahulu siap untuk menangkapnya. Tuanku Imam Bondjol Akhirnya terjebak oleh pengkhianatan Belanda, Beliau kemudian ditangkap dan diasingkan ke Cianjur, kemudian ke Ambon dan terakhir Manado hingga wafat pada 6 Nopember 1864 dalam usia 92 tahun.

Tahun 1973; Pahlawan Nasional 
Pada tanggal 6 November melalui SK Presiden Republik Indonesia dengan No. 087/TK/1973 Tuanku Imam Bonjol di Anugerahi Gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Lokasi Makam : Jl. Raya Manado Tomohon, Pineleng II, Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Demikian biografis singkat Tuanku Imam Bonjol. Kami himpun muatan materi ini dari berbagai sumber. Apabila ada kekeliruan mohon di koreksi dan disampaikan kepada kami dengan mengisi di kolom komentar atau melalui kolom kontak.

Haturnuhun sudah mampir, semoga bermanfaat 🙂


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
DESAINART

Blog ini tidak bermaksud menampilkan data-data valid atau informasi lengkap, tapi kami mengajak siapa saja yang singgah disni, melihat hal-hal keseharian dengan lebih sederhana, santai, wajar bahkan jenaka, tetapi tetap menemukan kedalaman.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *