Biografis Singkat Sultan Iskandar Muda (1593-1636)


DESAINART- Sultan Iskandar Muda merupakan salah seorang raja Aceh Darussalam yang terbesar. Sehingga pada masa pemerintahannya, Kerajaan Islam yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera ini, mengalami puncak kejayaannya. Pada waktu kelahirannya ada yang menulis tahun 1588 dan 1590, sedangkan A. Hasyim menulis 1593 (1001 H).

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti mengenai tahun kelahiran Sultan Iskandar Muda. Namun dari hasil identifikasi dari beberapa sumber ada yang menegaskan bahwa ia lahir sekitar tahun 1583 M. Menurut sebuah manuskrip (MS) Sultan lahir pada hari Senin Rabiul Awal 999H. yang bila dicocokkan dengan tahun Masehi jatuh pada hari Selasa (bukan hari Senin) tanggal 27 Januari 1591.

Adapun Transkipsi dari pada MS tersebut adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim,
Bahwasannya pada tarikh tahun 999 Hijriah, pada dua belas rabi’ul awwal , hari Isnin pada waktu dhuha. Telah dilahirkan Allah ta’ala seorang hamba yang kuat lagi perkasa bernama Abdullah Sulaiman ibn Mansur, yaitu dalam Dar al Dunia Madinat al Salatin al-Asyih al-Kubra, Bandar al-Ma’mur Aceh Darussalam. Yaitu pada zaman paduka Sri Sultan Ala ad-Din Mansur Syah ibn Ahmad, raja Perak.

Maka pada hari itu disembelih kambing satu dan pada waktu dicecap dengan kurma, air zam-zam, delima, pisang, buah zahib. Maka pada hari ke tujuh disembelih lembu, akikah dan dicukur rambut dan ditimbang dengan emas. Maka diberi sedekah pada fakir miskin serta khanduri.

Hadir para alim ulama membaca do’a selamat. Maka pada hari itulah dinamakan oleh Sultan Ala ad-Din Mansur Syah, Raja Perak Pocut Abdullah Sulaiman Mansur yang akan memegang kerajaan Aceh. Kemudian maka berkata al-Syaikh Abd’l-Khair : inilah Iskandar Muda Mansur al-Asyi.

Kemudian maka berkata al-Syekh Muhammad Yamin : Inilah Mahkota Alam Mansur. Kemudian tuan kita yang mengimani, mengempu?

Negeri bahwa angin, Mahkota Alam Iskandar Perkasa Alam Syah al-Kuat, intiha, dengan Mukhtasar Tadzkirat tabaqat Mahkota Alam oleh Wazir al sabil al-Mijahid-Ulama, Teungku diā€“Mele, Sayyid Abdullah ibn ahmad ibn Ali ibn Abdul Rahman ibn Usman ibn Hasan ibn Wandi Mule Sayidi Laila al-Habib Syarif Abdullah ibn Said Abdullah alHabib Syarif Ibrahim Sultan Jamal al-alam Badr. Al-Munir al-Jamal Lail.

Nama Seorang Sultan

Banyak versi mengenai penamaan Iskandar Muda. Waktu kecilnya bernama Sulaiman, setelah 3 tahun neneknya memberi nama Abangta Raja Munawar Syah dan setelah ia dewasa mendapat beberapa nama lagi seperti : Pancagah, Johan Alam Syah, Perkasa Alam Syah, Darma Wangsa, dan Iskandar Muda.

Telah diceritakan juga ketika kecilnya ikut diasuh Laksamana Malahayati dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun, dan setelah ia berusaha 6 tahun, ditunjuklah beberapa orang guru dan ulama untuk mendidiknya dalam bidangbidang keagamaan Islam seperti, bahasa, hukum, seni budaya, kemiliteran dan ketangkasan jasmani.

Ketika usianya menginjak baligh, ayahnya menyerahkan Iskandar Muda bersama beberapa budak pengiringnya kepada Teungku di Bitai (seorang ulama dari keturunan Arab dari Baitul Maqdis yang begitu menguasai ilmu falak dan ilmu firasat).

Dari ulama Tengku, ia belajar khusus mempelajari ilmu nahwu, melihat kecerdasan dan keuletan serta kemuliaan sikap dan tingkah laku Iskandar Muda kini menjadi salah satu murid yang paling disayang oleh Teungku di Batai. Semenjak itulah panggilan Peurkasa terhadap Iskandar Muda yang sangat belia. Meskipun ia masih belia, kepopulerannya di kalangan istana ditambah dengan julukan yang dimilikinya hingga sampai keseluruh pelosok negeri.

Kerajaan Aceh Pada Masa Sultan Iskandar Muda Naik Tahta

Sultan Iskandar Muda mulai menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usianya yang terbilang cukup muda (14 tahun). Ia berkuasa di Kerajaan Aceh antara 1607 hingga 1636, atau hanya selama 29 tahun. Tetapi semua itu masih dalam perdebatan di antara kalangan ahli sejarah.

Mengacu pada Bustan al Salatin, ia dinyatakan sebagai sultan pada tanggal 6 Dzulhijah 1015 H atau sekitar Awal April 1607. Masa kekuasaannya tersebut dikenal sebagai masa paling gemilang dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam.

Ia dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat, besar, dan sangat disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, namun juga oleh dunia luar. Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia.

Tindakan Sultan Iskandar Muda untuk mengawali karirnya yang pertama

Yaitu, mengamankan kerajaan dari golongan orang kaya yang semenjak tahun 1604 telah melakukan persengkongkolan menjadi kekuatan oposisi istana. Ia telah menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan segala tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh para oposisi yang tidak mau memberikan dukungan dalam mengupayakan penegakkan kebenaran.

Di satu sisi, para penerus generasi muda sebagian besar merupakan teman dekatnya semasa kecil yang pernah belajar mengaji bersama dan saling memberikan dukungan yang luar biasa di antara satu sama lain. Dari situlah mengapa ia disebut sebagai Sultan Iskandar Muda, tidak salah lagi karena ia mempunyai dukungan utama dan mempunyai balatentara dari orang-orang yang telah memiliki semangat juang.

Aceh terdiri dari beberapa kaum dan sukee (suku), maka Sultan Iskandar Muda mengangkat dan menetapkan pimpinan adat terhadap masing-masing kelompok sukee. Selain untuk menyatukan di antara mereka, pengangkatan adat tersebut untuk mempermudah dalam menerapkan berbagai program pemerintahan.

Supaya menjamin kelanggengan Kerajaan Aceh di bawah panji-panji persatuan, kedamaian dan kemakmuran Sultan Iskandar Muda pada saat berkuasa. Ia telah membagi aturan hukum dan tata negara ke dalam empat bidang yang kemudian dijabarkan secara praktis sesuai dengan tatanan kebudayaan masyarakat Aceh.

Pertama, bidang hukum yang diserahkan kepada Syaikhul Islam atau Qadhi Malikul Adil

Hukum merupakan asas tentang jaminan terciptanya keamanan dan perdamaian, dengan adanya hukum diharapkan bahwa peraturan formal ini dapat menjamin dan melindungi segala kepentingan rakyat.

Kedua, bidang adat yang diserahkan kepada kebijakan sultan dan penasehat

Bidang ini merupakan perangkat undang-undang yang berperan besar dalam mengatur sebuah tata negara mengenai martabat hulubalang dan pembesar kerajaan.

Ketiga, bidang Resam yang merupakan urusan panglima

Resam adalah peraturan yang telah menjadi adat istiadat (kebiasaan) dan diimpelentasikan melalui perangkat hukum dan adat. Artinya, setiap peraturan yang tidak diketahui kemudian ditentukan melalui resam yang di lakukan secara gotong royong.

Keempat, bidang Qanun

Yang merupakan kebijakan Maharani Putro Phang sebagai permasaisuri Sultan Iskandar Muda. Aspek ini telah berlaku semenjak berdirinya Kerajaan Aceh.

Kebijakan yang mengenai sebuah adat, hukum, qanun dan resam tersebut telah tertuang dalam sebuah hadih maja yang masih dikenal oleh masyarakat Aceh, yang berbunyi sebagai berikut. “Adat bak Peutoe Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala” (Adat di bawah kekuasaan Sultan, kehidupan hukum beragama di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala).


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *