Biografis Martha Christina Tiahahu (1800-1818)


DESAINART- Kata Ambon terletak di tepian teluk. Di Bukit Karang Panjang Kata Ambon terdapat sebuah monumen berupa patung pahlawan wanita. Pahlawan itu bernama Martha Christina Tiahahu. la pahlawan yang berasal dari Pulau Nusalaut. Pada malam hari, pengunjung monumen ini dapat menikmati sebagian panorama Kata Ambon dengan keriap-kerlip lampu permukiman. Patung ini diletakkan menghadap ke Teluk Ambon, sehingga kapal-kapal yang memasuki pelabuhan Ambon juga dapat melihatnya dari kejauhan. Sekarang .teman-teman akan beta (aku) perkenalkan dengan Martha Christina Tiahahu.

Pulau Nusa Laut

Sebelumnya, tentu teman-teman ingin mengetahui lebih dahulu dimana Pulau Nusalaut berada. Pulau ini berada di sebelah timur Kepulauan Uliase. Pulau ini bergunung dan berbukit-bukit. Tanahnya subur, cocok untuk ditanami pohon cengkeh. Pulau ini mempunyai pelabuhan laut, di Sila dan Leinitu. Pelabuhan ini dipergunakan sebagai pintu keluar masuk Nusalaut.

Menurut cerita yang beta dengar, negeri-negeri (desa-desa) di Nusalaut merupakan daerah tertutup, sebab letaknya terpencil dan dikel ilingi laut serta batu karang. Keadaaan ini membuat hubungan dengan pulau-pulau lain menjadi terhambat. A palagi bila musim timur yang terjadi sekitar bulan Mei – September tiba. Pada saat itu laut berombak besar. Gelombang dengan ombak besar sangat berbahaya bagi perahuperahu tradisional. Hanya orang-orang tertentu yang berani mengambil resiko untuk menempuh perjalanan laut ketika musim timur.

Nama Nusalaut sendiri tidak di ketahui kapan diberikan dan siapa yang memberikan. Menurut arti bahasa setempat, Nusalaut terdiri atas kata Nusa (pulau) dan elau (jauh di seberang laut). Namun dalam pengucapannya menjadi nusalau. Akhirnya menjadi Nusalaut. Pulau ini mempu nyai banyak nama lain, seperti Pulau Nusa Halawane atau Nusa Halawanno (pulau emas), karena mengandung banyak emas.

Juga ada yang menyebut Pulau Anyoanyo (pulau terapung-apung), karena seperti dipermainkan ombak dan gelombang. Sebutan lainnya adalah Nusa-Aikalano (pulau kuda), karena bentuknya seperti seekor kuda berlari di atas laut.

Menurut cerita, penduduk Nusalaut berasal dari Pulau Seram dan sekitarnya. Mereka berj umlah empat orang dan mendarat di Pelabuhan Mulaa (terletak antara Negeri Akoon dan Abubu). Tiga orang laki-laki (Leimese, Huwaatol Latunama, dan Natahaa sebagai kapitannya) dan satu orang perempuan (Silawane).

Setibanya di Mulaa, Leimese diangkat menjadi raja Mulaa dengan nama Latu Leimese. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Gunung Leseita. Tak lama, datanglah orang-orang dari Ambon, Banda, Ternate, lrian, Buru, Manipa, dan Hoamoal, menghuni Pulau Nusalaut. Mereka menjadi cikal bakal penduduk Nusalaut.

Profil Singkat

Martha Christina dilahirkan di Negeri (Desa) Abubu, Pulau Nusalaut. Ayahnya bernama Paulus Tiahahu, dan ibunya bernama Sina. Tahun kelahirannya tidak dapat diketahui secara pasti. Kira-kira tahun 1800. Ayahnya seorang kapitan yang berperan dalam perjuangan Pattimura. lbunya seorang keturunan kapitan besar Lolohowarlau.

Nama Tiahahu yang dipakainya mempunyai makna yang berhubungan dengan jabatan kapitan. Dalam bahasa daerah, Tiahahu diucapkan Atihahu. Ati artinya lompat, dan hahu berarti babi. Jadi berarti “melompat seperti babi”. Maksudnya, cekatan dan cakap berkelahi seperti seekor babi hutan yang mengamuk.

Tiahahu mempunyai arti memiliki lompatan dan kemampuan berlari yang dapat membinasakan musuh. Christina juga memiliki darah kapitan dari keturunan. Temanteman juga perlu tahu tentang pemberian gelar kapitan pada masyarakat Maluku. Biasanya gelar ini diberikan pada orang-orang yang diangkat oleh raja untuk membantu memimpin suatu negeri (desa). Jabatan ini diwariskan secara turun temurun.

Martha merasakan kasih sayang ibu tidak begitu lama. lbunya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Martha Christina juga merupakan anak tunggal. Ayahnya mengambil alih tugas dan tanggung jawab sebagai ibu dalam mengasuh dan membesarkannya.

Sehingga Martha Christina sangat mengenal tugas sehari-hari ayahnya sebagai kapitan. la selalu bersama ayahnya dalam membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan tugas ayahnya. Bahkan ia sangat suka mendengar cerita tentang pertempuran dan siasat pertempuran. Martha merasa seolah-olah ikut bertempur melawan Belanda. Berada dalam asuhan ayahnya, membuat ia tumbuh menjadi seorang perempuan berjiwa pemberani.

Martha Christina tumbuh menjadi seorang gadis cantik. Christina berbadan langsing dan tegap. Matanya hitam bersih dan wajahnya berseri-seri. Pandangannya tajam. Pelipisnya agak menonjol. Giginya putih bersih. Kulitnya hitam manis. Rambutnya yang hitam pekat, berombak, dan panjang dibiarkan terurai.

Penampilan Martha Christina tidak hanya cantik tetapi juga berperilaku penuh kasih sayang. Christina selalu memakai pakaian sederhana tetapi menarik. la mengenakan baju pendek berwarna biru laut, dan sebuah kain sarung yang diikat pada pinggangnya. Pakaian ini menjadi ciri khasnya.

Perjuangan Martha Christina Tiahahu

Pertama kali Martha Christina ikut berjuang ketika berumur 17 tahun. Saat itu ayahnya akan menghadiri pertemuan di Saparua. Petemuan ini dihadiri oleh para kapitan dari negeri-negeri di Maluku. Pertemuan tersebut merupakan awal dari perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda. Penduduk Maluku sudah tidak tahan lagi menghadapi Belanda.

Pada waktu itu, Belanda mulai berlaku curang dalam perdagangan cengkeh dan melakukan pemerasan. Pattimura dan kawan-kawan kemudian memutuskan untuk menyusun strategi menghadapi Belanda. Christina bersemangat untuk membela rakyat Maluku dari pemerasan Belanda.

Pada tanggal 14 Mei 1817 ketika ayahnya akan berangkat ke Saparua, Christina rnemohon agar diperkenankan ikut. Tentu saja sang ayah menolaknya sebab keadaan sangat gawat dan berbahaya bagi seorang gadis. Penolakan sang ayah membuatnya semakin gigih untuk memohon.

Sampai tiga kali sang ayah menolak permohonan putrinya. Tetapi Christina tetap teguh ingin ikut. la tidak mau berpisah dengan ayahnya. Akhirnya dengan berat hati, sang ayah mengijinkan putrinya ikut. Keteguhan sikap dan pembawaannya yang menarik membuat ia pantas disebut Mutiara Nusalaut.

Mereka berperahu menu ju ke Saparua. Musim angin timur membuat laju perahu mereka menjadi tertahan. Mereka tidak dapat berlayar melalui pelabuhan Abubu. Tetapi harus berangkat dari pelabuhan Titawaai. Padahal perjalanan ke Titawaai harus menempuh waktu satu jam.

Dari pelabuhan tersebut mereka menuju Pulau Saparua. Gelombang yang besar dan tinggi membuat perahu terhempas dan berubah arah. Apalagi mereka menggunakan perahu kecil. Betapa sulitnya berlayar di laut lepas dalam musim angin timur. Akibatnya mereka tiba terlambat dalam pertemuan itu.

Dalam pertemuan itu ayah Christina, Paulus Tiahahu mendapat kesempatan berbicara. la memakai celana panjang hitam, tanpa alas kaki, dan tangan kanan memegang tongkat berkepala perak. la memohon pada para kapitan agar putrinya dapat ikut mendampingi mereka dalam pertempuran.

Ternyata, Pattimura yang diangkat menjadi kapitan dalam memimpin perjuangan menyetujui keinginannya. Sejak saat itulah Martha Christina ikut berjuang. Perjuangan Matha Christina dan rekan-rekannya merupakan bagian dari Perang Pattimura.

Mereka ikut menyerbu dan menghancurkan Benteng Durstede dan membunuh residen. Martha Christina juga ikut menari cakalele untuk membangkitkan semangat dan menghibur para prajurit. la bertekad tetap ikut berjuang demi bangsa dan tanah airnya. Walaupun perjuangan harus dibayar dengan nyawanya sendiri.

Ternyata kemenangan yang diperoleh dalam Perang Pattimura tidak berlangsung lama. Sebab perjuangan rakyat Maluku ini mendapat perlawanan dari Belanda. Pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Beetjes segera berangkat ke Saparua. Mereka bermaksud untuk merebut kembali Benteng Durstede.

Namun Belanda mengalami kekalahan, sebab mereka salah memilih tempat mendarat. Kekalahan yang diderita Belanda, membuat mereka berusaha bertahan di tempat lain. Seperti di Benteng Zeelandia, di Haruku. Namun, Pattimura dan kawan-kawan terus berjuang untuk mengusir Belanda.

Begitu pula yang terjadi di Nusalaut. Rakyat Nusalaut tidak tinggal diam melihat sikap Belanda yang mulai memeras rakyat. Perjuangan rakyat Nusalaut dipimpin oleh Kapitan Paulus Tiahahu, dan putrinya, Martha Christina serta Raja Titawaai, Hehanusa. Mereka dibantu oleh Anthone Rhebok untuk melawan Belanda. Mereka bersatu menyerang Benteng Beverwijk di Sila-Leinitu. Benteng berhasil direbut masyarakat Nusalaut.

Semua serdadu Belanda dibunuh, kecuali seorang Kopral Belanda bernama Biroe, dan dua orang serdadu berbangsa Indonesia. Hal ini karena mereka dapat menyernbunyikan diri. Dalam penyerangan tersebut, Martha Christina ikut bertempur dengan gagah berani. la mengobarkan semangat perjuangan. la menanamkan rasa permusuhan terhadap Belanda, dengan tujuan agar rakyat bangkit melawan Belanda. Di mana ayahnya berada di situ juga Martha berada.

Kemenangan yang dialami rakyat Nusalaut, membuat Belanda berusaha untuk merebut kembali Saparua dan sekitarnya. Mereka mengirim ekspedisi ke Saparua. Berita kedatangan kapal-kapal Belanda ini terdengar juga oleh Pattimura. Kemudian ia memerintahkan rakyatnya untuk siap tempur menghadap Belanda.

Mereka bertempur dalam beberapa hari dan tidak ada yang menang atau kalah. Belanda kemudian mengibarkan bendera putih untuk mengajak berunding. Perundingan dilakukah dengan surat menyurat. Kemudian disusul dengan perundingan tatap muka.

Namun, perundingan terputus. Karena utusan Belanda merasa terdesak dan dikepung oleh rakyat Maluku. Akhirnya bendera putih diturunkan. Pertempuran dilanjutkan kembali. Bahkan kemenangan bagi rakyat Maluku sudah tidak dapat ditolak lagi.


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *