Biografi Wiji Thukul (Aktivis 98)


DESAINART – Wiji Thukul adalah penyair yang telah memberikan khazanah baru dalam dunia perpuisian Indonesia malalui puisi-puisinya yang bertemakan tentang rakyat kecil. Penyair yang kerap dijuluki sebagai “Penyair Pelo” ini memang kehidupannya tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan wong cilik. Wiji Thukul lahir di Solo, 26 Agustus 1963. Ia tumbuh di kampung Kalangan yang terletak di sisi timur kota Solo. Milieu kampung ini adalah pabrik-pabrik dengan segala buruhnya. Ayah Thukul seorang penarik becak, istrinya buruh menjahit, dan mertuanya pedagang barang rongsokan. Thukul sendiri bekerja sebagai pelitur mebel. Keadaan ayahnya sebagai seorang penarik becak, bahkan Thukul lukiskan dalam puisi karyanya yang berjudul Nyanyian Abang Becak.

“perut butuh kenyang, kenyang butuh diisi namun bapak cuma abang becak!”
(Thukul: Nyanyian Akar Rumput, h. 51)

Meskipun berasal dari kalangan rakyat kecil yang hidupnya dekat dengan kemiskinan, hal itu tidak membuat Thukul miskin dalam hal berkarya. Sebagai penyair, Thukul sudah menghasilkan beberapa kumpulan puisi yang di antaranya adalah Kicau Kepodang (1993), Suara Sebrang Sini (1994), Dari Negeri Poci 2 (1994), Mencari Tanah Lapang (1994), Tumis Kangkun Comberan, (1996), dan Aku Ingin Jadi Peluru (2000). Selain kumpulan-kumpulan puisi tersebut, pada tahun 2013, majalah Tempo menerbitkan kumpulan puisi Wiji Thukul semasa pelariannya kala dikejar-kejar oleh aparat yang diberi judul Para Jendral Marahmarah yang dijadikan sebagai bonus majalah Tempo edisi bulan Mei.

Kemudian diikuti dengan diterbitkannya kumpulan puisi terlengkap Wiji Thukul oleh Gramedia pada tahun 2014 yang diberi judul Nyanyian Akar Rumput.

Sepanjang kiprahnya dalam dunia kepenyairan, Thukul pun tercatat pernah mendapatkan berbagai prestasi dan penghargaan. Di antara prestasi dan penghargaan itu adalah mendapatkan Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting pada tahun 1991, Yap Thaim Hien Award pada tahun 2002, dan undangan membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut.

Sejak kecil, Thukul memang sudah dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai seorang yang berjiwa seni. Pada tahun 1977, ketika ia masih duduk di kelas satu SMP (Thukul sekolah di SMP Negeri 8 Solo), ia aktif menjadi anggota kor kapel di tempatnya biasa beribadah. Menurut Wahyu Susilo, adik Wiji Thukul, kakaknya selalu berangkat lebih pagi ke gereja setiap mendapat giliran menyanyi di kor.

Lulus dari SMP Negeri 8 Solo, Thukul masuk ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Solo, jurusan tari. Akan tetapi sekolahnya di SMKI ini tidak sampai tamat. Saat di SMKI, Thukul pun masih aktif di kapel. Suatu ketika menjelang Natal, anak-anak kapel hendak mementaskan teater bertemakan kelahiran Kristus, Thukul diperkenalkan kepada Cempe Lawu Warta, yang di kemudian hari menjadi “guru” yang menempa Thukul dalam berkesenian sekaligus orang yang menambahkan nama Thukul. Nama asli Thukul adalah Wiji Widodo Wiji Thukul artinya “biji yang tumbuh”.

Dalam proses berkeseniannya, Thukul ditempa oleh Cempe Lawu Warta di Teater Jagat (Jagat merupakan singkatan dari Jejibahan Agawe Genepe Akal Tumindak). Di Teater Jagat, Lawu Warta yang pernah aktif di Bengkel Teater W.S. Rendra mengajarkan Thukul perihal berkesenian seperti seni teater. Lawu Warta lah orang yang mula-mula melihat bakat Thukul di bidang menulis puisi.

Selain Lawu Warta, orang yang juga berpengaruh dalam proses berkesenian Thukul adalah Halim H.D., aktivis kebudayaan jebolan Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Awal perkenalan Thukul dan Halim terjadi di Teater Jagat pada sekitar 1986. Kala itu, Halim memang sering mampir ke Jagat. Halim lah orang yang banyak membantu Thukul mengamen puisi keliling kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat untuk memperluas publik audiensnya lewat jaringan kebudayaan yang ia rintis. Kemudian hari, kegiatan inilah yang membantu membentuk kepercayaan diri Wiji Thukul sebagai penyair sekaligus deklamator.

Puisi adalah jalan yang dipilih oleh Thukul untuk menumpahkan segala kegelisahannya. Pada awal-awal menulis, Thukul kerap kali menempel puisi karangannya di majalah dinding Teater Jagat. Kemudian sebagian puisinya ia kirimkan ke Radio PTPN Rasitania, Surakarta, untuk diapresiasikan dan dibacakan di acara Ruang Puisi.

Thukul pertama kali menerbitkan kumpulan puisinya lewat Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) di Solo−sekarang Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS)−pada sekitar 1985. Kumpulan puisi yang dicetak secara stensilan sebanyak sekitar 100 eksemplar itu bertajuk Puisi Pelo. Pada Puisi Pelo ini, Thukul sudah mengangkat tema tentang kritik sosial, namun belum mengandung unsur politik praktisnya.

Setelah Puisi Pelo diterbitkan, dapat dikatakan terjadi lompatan besar dalam penulisan Thukul. Dia banyak dipengaruhi naskah teater Jawa karya Bambang “Kenthut” Widoyo S.P.. ia juga dipengaruhi pemikiran Maxim Gorky, Arif Budiman, dan Romo Mangunwijaya. Thukul mulai banyak memasukkan bahasa Jawa dan bahasa lisan sehari-hari dalam puisinya.

Selain itu, sejak mengamen puisi keliling Jawa, nama Thukul mulai berkibar. Dia juga mulai memiliki jaringan dan publik sendiri. Pada saat itulah terjadi perbedaan pandangan antara Thukul dengan Lawu Warta, gurunya. Lawu tidak sepakat jika Thukul membawa seni (puisi) ke ranah politik praktis, sementara, Thukul berpandangan sebaliknya.

Sejak itu, Thukul tidak lagi aktif di Jagat. Pada 1987, setelah menikah dengan Sipon, ia menumpang di rumah Halim. Thukul beserta dengan Sipon dan Halim kemudian membentuk Sanggar Suka Banjir di halaman belakang rumah mereka. Nama itu diambil dari lingkungan mereka yang memang sering banjir.

Di Sanggar Suka Banjir, Thukul mulai menulis esai dan artikel pendek yang bertemakan teantang kesenian dan lingkungan. Di sanggar itu pula Thukul mengajari anak-anak kampung melukis, menulis puisi, berteater, dan bernyanyi. Sanggar pun mulai ramai dijadikan tempat berkumpul remaja di sekitarnya dan mulai sejak itulah kegiatan yang dilakukan di sanggar mulai sering diawasi oleh aparat.

Pada tahun 1994, Wiji Thukul bersama sahabat-sahabat senimannya yang sering berdiskusi mengenai permasalahan sosial yang tengah terjadi di sekitar mereka, yaitu Semsar Siahaan dan Moelyono sepakat mendirikan sebuah organisasi jaringan kesenian bernama Jaker (Jaringan Kesenian Rakyat). Organisasi kesenian ini dibentuk bertujuan untuk membuat jaringan antar seniman guna menggalang kekuatan dan solidaritas sesama seniman untuk membendung tindakan represif pemerintah.

Menurut Moelyono, Jaker terilhami oleh Lekra. Dari Lekra, mereka juga mempelajari gagasan seni untuk rakyat dan konsep turun ke bawah. Namun mereka tak menelan mentah-mentah gagasan tersebut, menurut Moelyono, Jaker juga terinspirasi Asian Council for People’s Culture.

Jaker tidak hanya beranggotakan seniman saja, di dalamnya terdapat Hilmar, Daniel, Yuli, Jati, dan Linda Christanty. Mereka adalah anggota inti Persatuan Rakyat Demokratik yang kemudian hari menjadi Partai Rakyat Demokratik.


Hamdan Haqiqi

Kesadaran kita sebagai hamba sekaligus khalifah, perlu dikulik baik-baik. Mari tajamkan kemampuan untuk mengenali diri, jiwa dan memahami akal.

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *