Bersyukur Aja Dulu


Tulisan singkat ini buah dari percakapan bersama Bapak saat menghangatkan nasi untuk makan sore kami berdua. Ada banyak obrolan yang terjadi saat itu, mulai dari banyaknya seserahan yang perlu disiapkan saat nikahan 😅 sampai hal-hal yang sifatnya lebih privat.

Namun, ada sebuah jawaban yang menurut saya menarik untuk dibagikan dari pertanyaan saya yang cukup berat untuk bapak.

Makin hari makin banyak manusia yang ngeluh ya pak, tentang hidupnya yang tak kunjung membaik? (tanyaku pada Bapak)

Ya karena mereka selalu membandingkan pencapaian hidupnya dengan pencapaian orang lain. Mereka menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar keberhasilan atau kesuksesan yang harus mereka capai sebagai tolak ukur untuk mencapai sebuah kebahagiaan.

Masalahnya, jika kita tak bisa mencapai hal tersebut, maka kita akan terus merasa hidup kita kurang beruntung. Padahal Gusti Allah cuma bilang, bersyukur dulu, nanti AKU tambahkan nikmat untukmu (Jawab Bapak panjang lebar)

Sebagaimana Janji Allah pada Orang yang Bersyukur dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 7:

(yang artinya) Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih

Ohh iya, saya buat discalimer ya bahwa singkat yang dibuat merupakan intisari yang saya tangkap dari percakapan tersebut (saya bersama Bapak).

Artinya apa yang terjadi mengalir begitu saja, tidak runut seperti dalam tulisan, atau dalam bahasa yang lebih mudah dipahami ‘sudah di edit dan tidak apa adanya’ (dah gitu aja hehe)

Sebagai contoh, bahasa dalam tulisan ini menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan bahasa komunikasi kami sehari-hari menggunakan bahasa Sunda. Jadi, harap maklum adanya.

Sebagai penutup tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa, keberhasilan kita atas orang lain tidak ditentukan oleh kenyataan bahwa kita lebih berkuasa, lebih pandai atau lebih kaya. Melainkan oleh tingkat manfaat hidup kita atas orang banyak.

Harga pribadi kita di tengah orang banyak tidak bergantung pada tingginya pendapatan ekonomi kita, oleh sukses karier kita, atau oleh simbol-simbol reputasi yang bisa kita pamerkan. Melainkan bergantung pada seberapa banyak yang bisa kita berikan kepada orang banyak. Semoga sampai.


Hamdan Haqiqi

Kesadaran kita sebagai hamba sekaligus khalifah, perlu dikulik baik-baik. Mari tajamkan kemampuan untuk mengenali diri, jiwa dan memahami akal.

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *