Berkhidmat Untuk Kesejahteraan Umat Berbasis Masjid

Di dalam masjid, pasti untuk sholat berjamaah, untuk taklim dan pasti untuk berjamaah jumat. Dengan berjamaah terjalin ukhuwah kebersamaan saling menghargai satu sama lainnya, sama-sama sebagai hamba Allah tanpa memandang perbedaan status sosial, pangkat jabatan, kedudukan maupun predikat predikat lainnya.


Rasulullah membimbing dan membina umat dimulai dari masjid.

Mengapa masjid? Karena masjid adalah rumah Allah atau baitullah untuk sujud. Sujud sebagi bukti pengabdian hamba kepada sang kholiq, bukti syukur karena kesadaran keyakinan akan karunia Allah berupa hidayah dan Tufiq nya berIslam dan beriman.

Di dalam masjid, hamda Allah yang kan mensucikan dirinya lahir dan batin, karena Allah sangat suka terhadap hamba-hambanya yang mensucikan dirinya.

Maka sujud, diawali dengan bersuci atau berwudhu. Wudhu sebagai kuncinya sholat. Tidak sah sholat tanpa wudhu. Disitulah dimulai melangkah untuk menghadap sang kholiq harus suci, suci batinnya suci anggota badannya, suci pakaiannya dan suci tempat sujudnya.

Suci pasti diwali dengan bersih, maka air yang sah untuk bersuci adalah air mutlak, air yang suci dan mensucikan, karena ada air suci tidak mensucikan, seperti air kelapa, air teh dan air suci sudah tercampur dengan lainnya.

Di sini mulai menjaga kebersihan dan terjaminnya tempat bersuci atau wudhu sekaligus pelangkap lainnya berupa MCK nya, pendidikan dan pengalaman bersuci. Sebagai Muslim hendaknya terdidik memiliki hati yang bersih dan suci jauh dan terhindar dari penyakit hati, iri dengki, syirik, dan hal-hal yang mengotorinya.

Di dalam masjid, pasti untuk sholat berjamaah, untuk taklim dan pasti untuk berjamaah jumat. Dengan berjamaah terjalin ukhuwah kebersamaan saling menghargai satu sama lainnya, sama-sama sebagai hamba Allah tanpa memandang perbedaan status sosial, pangkat jabatan, kedudukan maupun predikat predikat lainnya. Semua bermunajat menghambakan diri untuk memperoleh ramat dan ridho Allah SWT.

Satu hal agar ta’lim maupun khotbah Jum’at berfungsi sebagai sarana pendidikan yang efektif bermakna, menjiwai, memotivasi, meningkatkan iman dan ketaqwaannya sekaligus menampilkan akhlakul karimah, antara lain sound system yang mampu di dengar oleh semua jamaah dengan baik.

Disitulah para pengurus Masjid perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh agar masjid menjadi masjid yang makmur dam memakmurkan jamaah. Lewat masjid mampu menggerakkan umat hidup sejahtera lahir dan batin.

Maka semua yang terlibat harus betul-betul berperan dan berfungsu sebagai mana mestinya.

  1. Takmir masjid dan Nadzir Masjid.
  2. Imam, khotib dan muadzin.
  3. Marbot masjid / pegawai / karyawan.
  4. Materi ta’lim atau khotbah berisikan atau menyampaikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin (Islam wasathy).

Hal pokok yang menjadi prioritas adalah:

  1. Masjid bersih sehat terjaga kebersihan dan kesuciannya berserta lingkungannya.
  2. Fungsionaris masjid berperan dan berfungsi.
  3. Sarana dan media pendukung terlaksana taklim pengajian dan khutbah yang terjamin bagi jamaah untuk mendengarkan dengan baik, maka langkah utama adalah penataan sound system yang representativ.
  4. Materi ta’lim pengajian dan khotbah yang rahmatan lil ‘alamin tidak radikal yang suka mengkafir-kafirkan dan tidak liberal, yang bebas menurut pemikirannya.
Masjid Bersih dan Sehat

Masjid bersih dan sehat adalah kondisi awal untuk terjaga dan terjamin bagi umat Islam untuk menunaikan ibadahnya. Perhatian untuk kebersihan masjid dan lingkungannya pada umumnya masih atau hanya dipercayakan kepada marbot masjid seadanya. Yang memperihatinkan, mereka hanya diberi imbalan seadanya.

Imbalan atau honor yang diberikan huga hanya diambilkan dari infaq yang beredar waktu jumatan. Bersyukur kalau ada PemDa, Bupati atau Walikota yang mempelopori untuk menggerakkan aparatnya bersama masyarakat untuk kebersihan masjid dan lingkungannya.

Fungsionaris Masjid Berperan dan Berungsi

Keberadaan fungsionaris masjid dari kondisi yang sederhana apa adanya yang tertata dengan rapi sesuai dengan ketentuan, pada kenyataannya masih dijumpai tercantum nama tetapi belum berjalan bahkan ada yang belum berfungsi.

Peran dan fungsi fungsionaris masjid dangat diperlukan penataan yang profesional antara lain peran dan fungsi takmir atau nadzir masjid. Memeperhatikan pengamanan keberadaan masjid.

Bangunan

  1. Status tanahnya sudah bersertifikat wakaf atau belum.
  2. IMB Masjid sudah ada atau belum, penataan segala perlengkapan yang diperlukan dan penataan lingkungannya.

Pengaturan Kegiatan

  1. Untuk ketertiban jamaah
  2. Data jamaah tetap
  3. Pengajian umum dan khusus baik untuk anak-anak pemuda remaja dan atau khusus untuk ibu-ibu.
  4. penunjukan dan penataan imam, khotib, muadzin dan penetapan marbot lainnya pegawai karyawan masjid yang benar-benar berperan dan berfungsi.
  5. Kegiatan lain yang mendukung kemakmuran masjid, masalah ekonomi, pendidikan, sosial kemasyarakaatan dan lain-lain yang dapat mensejahterakan jamaa dan umat di sekitarnya.
Sarana dan Media Pendukung Kemakmuran Masjid

Perhatian khusus yang harus ekstra oleh pengelola masjid adalah terkait permasalahan sound system. Betapa peran strategis pengajian taklim dan khutbah. Setiap jumat berkumpul jamaah untuk mendapatkan siaraman rohani guna peningkatan keimanan dan ketaqwaan jamaah dan contoh tauladan yang baik, salah satu faktor yang menonjol adalah sound system yang tidak sehat.

Materi Ta’lim

Predikat, tuduhan, anggapan radikal, teroris yang dialamatkan kepada sementara tokoh umat Islam perlu dicermati dan diperhatikan dengan seksama apa betul demikian.

Dalam perkembangan pemikiran umat Islam memang ada yang berusaha memurnikan amalan ajaran Islam secara tekstual dan kontekstual. Yang tekstual cenderung radikal sering suka mengkafir-kafirkan yang tidak sama dengan apa yang dipahami dan diyakini. Yang kontekstual menjurus kepada sikap liberal yang kadang-kadang kebebasan berpikir nya menentang ajaran Islam yang sudah baku yang dinilai tidak adil seperti poligami, pembagian warisan dan lain-lainnya.

Majelis Ulama Indonesia telah mengajak dan menekankan agar menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin yang dikenal dengan Islam wasatiyah. Berikut adalah 10 karakteristik Islam wasatiyah:

  1. Tawassuth (mengambil jalan tengah).
  2. Tawazun (berkesinambungan).
  3. I’tidal (lurus dan tegas).
  4. Tasamuh (toleransi).
  5. Musawah (egaliter nondiskriminatif).
  6. Syura (musyawarah).
  7. Islah (reformasi).
  8. Aulawiyah (mendahulukan yang prioritas).
  9. Tathowwur wa ibtikar (dinamis, kreatif, dan inovatif).
  10. Tahaddur (berkeadaban).

Dengan karakteristik tersebut diharapkan umat Islam Indonesia memiliki:

  1. Kualitas kalbu : Kematangan psikologis dan spiritual.
  2. Kualitas lisan : kompetensi dalam penggunaan lidah dan pengendalinya dengan bertutur kata benar halus lembut tepat efektif dan efisien.
  3. Kualitas keilmuan : baik untuk kehidupan keduaniaan maupun kehidupan akhirat.
  4. Kualitas fisik : Kondisi jasmani yang sehat prima energy penuh vitalitas sehat walafiat.
  5. Kualitas ekonomi : kompetensi ekonomi yang mumpuni berdikari.
  6. Kualitas sosial : kompetensi yang baik secara vertikal (hablumminallah) secara horizontal dan diagonal (hablumminannas).

Alangkah istimewanya apabila materi khotbah selama satu tahun ada kurikulumnya dengan rencana berkesinambungan yang mengantarkan jamaah makin tegusnya keimanan dan ketaqwaan secara akhlakul karimah yang penuh kedamaian kerukunan yang membahagiakan. (KH. Musman Tholib). 


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Desainart Project
Kita akan bersama dalam waktu yang lama, entah seberapa lama. Namun kita tak akan berpisah sebelum kata terakhir tuntas kita eja dengan seksama. Selamat Membaca !

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *