#BagiBuku DESAINART


DESAINART- Hallo SobatArt ! Apa kabar? Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan kesempatan kepada kita semua, agar kita tetap produktif, kreatif dan inspiratif di masa-masa pandemi seperti ini. Aamiin. 

Ada info penting bagi SobatArt semua nih, teristimewa bagi yang lagi bosen, galau dan kesepian karena beberapa hari (baca: bulan) ini #dirumahaja. Bisa ikutan Program #BagiBuku spesial Milad ke 1 DESAINART. Nah, ada pun syaratnya adalah sebagai berikut :

  • Follow akun instagram @desainartku
  • Buatlah tulisan (puisi/cerpen/curhat) yang mengisahkan kasih sayang orang tua (ibu/bapak) pada anak-anaknya. Deadline pengiriman naskah tulisan 15 Juli 2020 dengan minimal 300 kata.
  • Tulisan yang sudah dibuat, bisa dikirim melalui email desaincare@gmail.com atau via WA dengan nomor 0856-2633-229
  • 3 Pemenang yang beruntung akan diumumkan melalui akun instagram : @desainartku dan website DESAINART pada tanggal 18 Juli 2020
Ketentuan Khusus
  1. Naskah ditulis rapi dan disimpan (save) dengan format .doc atau .pdf
  2. Karya bersifat orisinil dan dianjurkan menyertakan ilustrasi
  3. Naskah dikirim dengan mencantumkan akun instagram masing-masing.
  4. Masing-masing pemenangg akan mendapatkan 2 buah buku.
    Pemenang 1 dan 2 boleh memilih terlebih dahulu
  5. Keputusan pemenang bersifat mutlak.
  6. Pemenang akan dihubungi langsung oleh Admin DESAINART
  7. Seluruh karya yang dikirim akan kami publish di web DESAINART

Adapun Buku yang akan dibagikan untuk pemenang adalah :

Filosofi Teras karya Henry Manampiring

Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? baperan? susah move-on? mudah tersinggung dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

Islam Agama untuk Manusia karya Ahmad Fuad Fanani

“Buku ini menemukan relevansinya dengan persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini. Fuad berhasil menunjukkan bahwa Islam relevan menjadi sumber humanisme, toleransi dan keadilan.” Prof. Muhadjir Effendy, MAP (Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan).

Islamofobia; Melacak Akar Ketakutan terhadap Islam di Dunia Barat karya Karen Amstrong

Serangan-serangan terorisme mengerikan seperti yang terjadi di Paris dan San Bernardino oleh para ekstremis yang mengatasnamakan Islam telah menimbulkan gelombang rasa permusuhan, ketakutan, dan kebencian terhadap semua atau sebagian besar umat Islam. Gejala yang lazim disebut Islamofobia ini telah menjadi hal normal dalam budaya populer di Amerika dan Eropa.Islamofobia sedang meningkat. Kaum Muslim telah disamaratakan dan disamakan dengan jenis ekstremisme militan dan terorisme yang dilakukan oleh sebagian amat kecil orang Islam, mengabaikan fakta bahwa sebagian besar korban justru adalah orang Islam sendiri. Ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan Islamofobia dan kebijakan domestik yang mengancam kebebasan sipil kaum Muslim. Tetapi, apakah yang menjadi penyebabnya?Buku ini mencoba menelusur akar kemunculan ketakutan terhadap Islam di Dunia Barat. Menampilkan analisis dan opini dari para pakar, seperti Karen Armstrong, John L. Esposito, Tariq Ramadhan, Imam Abdul Malik Mujahid, pembaca diajak untuk mendapatkan perspektif yang luas dan merenungkan tindakan yang dapat diambil untuk meredakannya.

Lebih dari itu, buku ini ingin mengajak setiap orang untuk menumbuhkan sikap positif dan penuh harapan ketika mempelajari agama lain. Harapannya adalah untuk mengembalikan sikap welas asih ke pusat moralitas dan agama, meningkatkan saling pengertian dalam hubungan antar-sesama.

Mengheningkan Cinta karya Adjie Santosopurto

Berbicara dengan Sunyi kerap menjadi kebiasaanku. Tak hanya ketika tiba-tiba merasa sedih, ingin menangis, merasa sendirian kesepian, atau tiba-tiba ingin marah. Aku juga berbicara padanya ketika aku punya segudang pertanyaan. Karena terkadang orang yang aku anggap pintar pun tak bisa menjawabnya.
Apakah yang sebaiknya aku lakukan saat perasaan itu datang? Mengapa ketika aku berusaha tak memikirkannya, bahkan menganggapnya sebagai hal yang remeh, perasaan itu mungkin malah menguat dan kian mengganggu?
Di sini, aku berusaha menuliskan kembali semua perbincanganku bersama Sunyi. Perbincangan yang menjawab banyak pertanyaan. Perbincangan yang menemani perjalanan untuk tetap bahagia di tengah ketidaktahuan.
Karena bersama Sunyi, aku merasa lebih nyaman dengan pola pikir “penerimaan di saat ini”. Tidak terlalu menyesal akan masa lalu yang selalu tidak memberi kabar baru. Tidak begitu bergelisah akan masa depan yang selalu menawarkan ketidakpastian. Mengalir saja bersama cinta.

Semesta Cinta (Republish) Pengantar Kepada Pemikiran Ibn Arabi karya Haidar Bagir

Selama ini belum ada satu pun buku yang mengulas pemikiran Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi secara sistematis dan lengkap, dalam bahasa Indonesia. Buku ini adalah pengantar kepada pemikiran-pemikiran yang mendalam dan luas bak samudra dari ’Arif yang satu ini. Selain mendapatkan gambaran umum dan relatif lebih mudah dipahami, mendalam, dan akurat, pembaca tetap dapat menikmati menu “Ibn ‘Arabi sehari-hari” yang dihidangkan di dalamnya. Di sana-sini bertebaran ceceran hikmah yang mencerahkan jiwa dan pemikiran, serta menuntun kepada pemahaman tentang berbagai misteri kehidupan kita. Judul Semesta Cinta merujuk pada titik pusat pemikiran Ibn ‘Arabi mengenai cinta sebagai sumber pemahaman tentang Islam, dalam segenap aspeknya, sekaligus menjadi konteks seluruh pembahasan dalam buku ini.

Guru Aini karya Andrea Hirata

“Ini persamaan hidupku sekarang, Bu,” Desi menyodorkan buku catatan ke tengah meja. Bu Amanah, yang juga guru matematika, tersenyum getir melihat persamaan garis lurus dengan variabel-variabel yang didefinisikan sendiri oleh Desi, x1: pendidikan, x2: kecerdasan. Yang menarik perhatiannya adalah konstanta a: pengorbanan.“Pendidikan memerlukan pengorbanan, Bu. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah”Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk.

Dalam kenyataan hidup seperti itu, seberapa jauh Desi berani mempertahankan idealismenya menjadi guru matematika di sekolah pelosok.

Demikian deskripsi singkat terkait program #BagiBuku DESAINART, jika ada yang kebingungan (mbingungi) bisa langsung didiskusikan di kolom komentar ya !

Haturnuhun sudah mampir !


DESAINART

Kami tidak bermaksud menampilkan data valid atau informasi lengkap, sekedar berbagi sedikit faedah saja (jika ada)

What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *