Bagaimana Saya Menulis – Bertrand Russell

Saya tegaskan kepada para profesor muda bahwa karya pertama mereka akan ditulis dalam jargon yang dipahami oleh kalangan terpelajar. Dengan demikian mereka sebaiknya mengatakan apa yang harus mereka katakan dalam bahasa "yang dipahami orang-orang"


DESAINART- Saya tidak hendak beranggapan saya mengetahui bagaimana menulis itu sebaiknya dilakukan, atau mengetahui apakah kritik yang bijak memang dimaksudkan untuk memperbaiki tulisan saya. Yang paling dapat saya lakukan adalah membahas hal-hal yang saya telah lakukan dalam upaya untuk menulis.

Hingga usia dua puluh satu tahun, saya ingin menulis sedikitnya untuk meniru gaya Jhon Stuart Mill. Saya menyukai struktur kalimat dan caranya mengembangkan pokok permasalahan. Namun, saya kira saya memiliki patokan nilai berbeda karena bermula dari pendekatan Matematika. Saya bermaskud menyampaikan semuanya dalam sedikit mungkin kata dan maksud saya bisa terungkapkan dengan jelas.

Saya pikir suatu saat saya mungkin akan meniru Baedeker daripada model-model sastra lainnya. Saya akan menghabiskan berjam-jam untuk mencari cara terpendek mengatakan sesuatu tanpa ambiguitas, dan untuk itulah saya mengorbankan seluruh usaha yang berkaitan dengan keunggulan estetis.

Pada usia dua puluh satu tahun, saya mendapat pengaruh baru dari orang yang kelak menjadi ipar laki-laki saya, Logan Pearsall Smith. Ia pada saat itu secara khusus lebih tertarik pada gaya menyampaikan persoalan. Dewa-dewa kesusastraannya adalah Flaubert dan Water Pater, dan saya sungguh percaya bahwa cara untuk belajar bagaimana menulis adalah meniru teknik mereka. Ia memberikan pelbagai aturan sederhana kepada saya, yang saya ingat cuma dua: “Taruhlah koma pada setiap empat kata” dan “Jangan pernah menggunakan kata ‘dan’ kecuali pada awal kalimat”. 

Nasihatnya yang paling terkenang adalah bahwa seorang penulis harus selalu menulis ulang (rewrite). Saya secara sadar melakukannya, meski saya mendapati naskah tulisan saya yang pertama hampir selalu lebih baik dari yang kedua.

Tentu, saya tidak menerapkannya pada subtansi tulisan, tetapi hanya pada bentuk tulisan. Ketika saya menemukan kekeliruan tentang satu hal penting, maka saya akan menuliskan kembali keseluruhannya. Apa yang tidak saya sadari adalah bahwa saya dapat memperbaiki suatu kalimat justru ketika saya puas dengan makna kalimat itu.

Dengan sangat berharap agar saya dapat menemukan cara untuk menulis, kekhawatiran dan kegelisahan saya atas permasalahan menulis pun berkurang. Di masa muda, banyak karya serius yang saya anggap berada di luar kekuatan saya (baik untuk saat itu ataupun selamanya). Saya pun akan selalu merasa gugup jika rasa takut itu tak jua mereda.

Saya membuat satu usaha terasa mengecewakan dan akhirnya harus membuang semua perasaan itu. Saya mengetahui dengan pasti bahwa usaha-usaha saya yang gagal hanya akan membuang waktu. Setelah untuk kali pertama merenungkan buku beragam topik, dan memberikan perhatian serius terhadapnya, saya memerlukan sesuatu periode inkubasi sub-kesadaran yang tidak diburu-buru dan tidak diganggu oleh pikiran apa pun. Suatu saat, saya akan mengetahui bahwa saya telah membuat kesalahan, dan saya tidak dapat menulis buku yang idenya hanya ada dalam pikiran.

Namun, saya sering merasa beruntung. Dengan konsentrasi yang terus menerus, masalah ditempatkan dalam sub kesadaran saya, lantas berkecambah hingga solusi pun muncul. Jadi, apa yang harus ditulis adalah apa yang muncul seolah-olah sebagai wahyu.

The Free Man’s Worship, karya yang kini tidak begitu saya perhatikan. Ketika itu, saya menyelami Prosa Milton sehingga periode perjuangannya bergaung terus di benak saya. Ini bukan berarti saya tidak lagi mengagumi mereka, tetapi bagi saya semua usaha meniru mereka selalu berkaitan dengan orisinilitas.

Kenyataannya, semua bentuk peniruan itu berbahaya. Tidak ada yang lebih baik dari Buku Doa dan Saduran Alkitab yang sah. Kitab-kitab ini menunjukan cara berpikir dan cara merasa yang berbeda dari cara kita pada masa sekarang. Suatu gaya dapat dikatakan bagus apabila mengekspresikan ke dalam kepribadian sang penulis, dan tentu ini hanya bila kepribadian penulis itu layak diekspresikan.Walaupun peniruan langsung selalu saja di cela, banyak yang bisa diperoleh dengan mengkrabi prosa yang bagus, khusunya dalam memperkuat rasa untuk membuat ritme prosa.

Ada beberapa pepatah sederhana (mungkin tidak sesederhana seperti yang disarankan ipar lelaki saya Logan Pearsall Smith) yang saya pikir bisa memandu para penulis untuk membongkar seluk beluk prosa. Pertama, jangan menggunakan kata yang panjang bila kata yang pendek bisa dipakai. Kedua, jika anda ingin membuat pernyataan dengan kualifikasi-kualifikasi besar, maka taruhlah beberapa kualifikasi itu dalam kalimat terpisah. Ketiga jangan biarkan anak kalimat anda membawa pembaca pada dugaan yang bertentangan dengan akhir kalimat Anda.

Coba lihat kalimat tentang masalah dalam sosiologi berikut ini:

“Manusia sama sekali dibebaskan dari pola perilaku jahat hanya ketika prasyarat-prasyarat tertentu, yang tidak memuaskan kecuali dalam beberapa kasusu aktual kecil, muncul dalam keadaan tepat, karena sifat bawaan maupun akibat lingkungan mampu menghasilkan seseorang yang faktor-faktornya menympang dari norma sosial yang dianggap bermanfaat”

Mari kita lihat jika kalimat itu diterjemahkan ke dalam bahsa Inggris pada umumnya, saya kira begini: “Semua orang adalah bajingan, paling tidak hampir semuanya. Orang-orang gagal punya keberuntungan luar biasa, dalam kelahiran maupun dalam masa asuhan mereka”. Kalimat ini lebih pendek dan cerdas, serta menyarakan hal yang sama. Namun, saya kira para profesor yang menggunakan kalimat kedua malah akan membuang jauh-jauh kalimat pertama. Ini menunjukan bahwa kata untuk para pendengar saya bisa pula mengena pada para profesor itu.

Saya menggunakan bahasa Inggris karena siapa pun tahu bahwa saya bisa menggunakan logika matematis jika saya mau. Baca pernyataan ini, “Beberapa orang menikahi saudara-saudara almarhumah istri mereka”. Saya dapat menunjukan ini dalam bahasa yang muncul  secara cerdas setelah bertahun-tahun belajar, dan memberi saya kebebasan.

Saya tegaskan kepada para profesor muda bahwa karya pertama mereka akan ditulis dalam jargon yang dipahami oleh kalangan terpelajar. Dengan demikian mereka sebaiknya mengatakan apa yang harus mereka katakan dalam bahasa “yang dipahami orang-orang”.

Kini, karena kita berada di tengah kemurahan hati para profesor, saya hanya dapat berpikir bahwa mereka patut berteima kasih kepada kita karena mereka mendengarkan nasihat saya. (Bertrand Russell)


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
1
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Hamdan Haqiqi

Bukan siapa-siapa, dan tidak punya pengaruh apa-apa, hanya manusia yang sedang berusaha berkarya. Mari saling sapa, bertukar kata dan berbincang tentang banyak hal dengan seksama.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *