DESAINART- Masih jelas dalam ingatanku bagaimana 8 tahun lalu tempat yang kini sedang ku pijak menjadi saksi cinta sepasang remaja yang mengukuhkan janji akan bersama selamanya. Bahkan sepoi angin yang menerpa wajahku masih terasa sama meski itu sudah sangat lama. Duduk berdampingan dengan seseorang yang sama. Orang yang dulu sangat mengagungkan kata cinta yang menurutnya hanya terpatri untukku. Ia mengikrarkan diri sebagai laki-laki satu-satunya yang sangat mencintaiku dan yang mampu membuatku bahagia. Konyol memang jika dipikir saat ini ketika ikrar itu diucapkan oleh seseorang yang baru menapaki remaja. Remaja yang bahkan aku yakini belum memahami dan mengerti makna cinta. Cinta memang serumit itu dengan serba serbi didalamnya.

Sunyi yang tercipta membuatku mengingat masa suram itu. Tanpa sadar aku merasa gemetar dan tangan ini terasa dingin meski aku bisa merasakan kini tanganku basah oleh keringat. Detik berikutnya aku merasakan kehangatan dan ketenangan menjalar di hatiku kala aku melihat tangan itu menggenggam jemariku begitu lembut. Dia seperti menyalurkan kekuatan dan tatapan matanya seolah mengatakan aku mampu melalui ini dan dia akan selalu ada untukku. Aku tersenyum pada dia sebagai tanda aku baik-baik saja. Aku mengalihkan pandanganku pada tangan yang telah rela terulur untukku sebagai penopang kerapuhanku. Tangan itu yang mengajarkanku keikhlasan, kesabaran, cinta kasih, dan tangan itu lah yang mampu membawaku keluar dari keterpurukan yang cukup lama membelenggu jiwa.

“Kau ingat tempat ini?” ucap ia memecah keheningan yang tercipta cukup lama. Reflek aku mengalihkan pandanganku dari tangan bak malaikat itu kepada suara yang sangat aku hafal.

“Hmm… Bagaimana aku bisa melupakannya” ucapku dengan suara yang hampir tak terdengar di akhir kalimatnya sembari mengeratkan genggaman tangan pada dia. Bagaimana aku bisa melupakan tempat ini. Bahkan bayang-bayang kisahku dulu selalu terpatri dalam benakku hingga kini.

“Ya tentu saja… Aku juga tidak akan pernah melupakan tempat ini. Kisah kita, kebahagiaanku, romansa remaja, semua itu ku mulai di tempat ini” jelasnya dengan tetap memandang lurus hamparan bunga yang hampir memekarkan diri. Kulihat sekilas wajahnya, wajah yang sama dengan senyum yang selalu terlukis di bibirnya. Senyum yang dulu selalu menyalur padaku. Senyum yang sangat aku puja.

“Terima kasih karena telah bersedia menemuiku lagi. Disini” lanjutnya dengan nada yang terdengar seperti sebuah penyesalan. Sesungguhnya aku meragu akan diriku sendiri untuk berjumpa dan mengingat kembali masa lalu, namun dia mengajarkanku jika aku tak berdamai dengan masa laluku maka aku pun tak akan pernah bisa melaju untuk meraih masa depan. Bukan lagi hati ini yang ku pikirkan, namun ada hati lain yang setia untuk menjemput kebahagiaan denganku. Maka dengan disini lah, aku berharap aku bisa berdamai dengan masa lalu. Sejenak aku menghela napas untuk meringankan sesak yang sesekali menerobos masuk kedalam dada.

“…” Aku terdiam, bukan karena aku tak ingin menanggapinya tapi lebih menginginkan ia segera menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan.

“Maaf karena aku telah menorehkan luka. Aku tau kesalahanku tak termaafkan. Jika aku bisa mengulang segalanya maka aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh yang membuatku kehilanganmu. Kini Tuhan benar-benar menghukumku. Aku kehilangan segalanya.” Ucapnya sembari menundukkan wajah. Dapatku lihat luka dan penyesalan itu.

Kemudian ia mengangkat wajahnya, menengok kearah tangan yang saling mengeratkan kemudian pandangannya beralih menatapku. Sebuah senyum ketulusan terpatri diwajahnya “Aku bahagia melihatmu kini lebih bahagia, setidaknya itu mengurangi rasa bersalahku. Meski tak dapatku pungkiri sejujurnya aku menginginkan kembali. Kembali merajut benang asmara yang telah ku koyak. Aku ingin memperbaiki. Sangat ingin…” sejenak ia terdiam. Aku bahkan tak berniat untuk membalas ucapannya. Aku hanya lebih mengeratkan genggaman tanganku. Pandangan matanya kini fokus padaku. Pandangan yang dulu mampu meluluhkan hati, pandangan yang dulu selalu ku sukai, namun kini semua itu tak lagi terasa. Tiba-tiba ia terkekeh pelan namun dapat ku lihat kabut pada kedua bola matanya.

“Aku tidak tahu diri bukan? Berharap masih bisa bersama tanpa berkaca kesalahan dan luka yang telah ku beri. Sekali lagi aku mohon, maafkan aku yang tak tahu diri ini” Dapatku lihat kabut itu bukan hanya mendung tapi kini berubah bak hujan yang jatuh membasahi pipinya. Sungguh aku sudah memaafkannya. Aku hanya masih belum bisa melupakan.

Kulirik dia yang juga tengah menatapku sembari tersenyum sebelum membalas ucapan ia. Sekarang saatnya aku mengakhiri masa kelam itu. “Hei aku sudah memaafkanmu. Itu masa lalu dan sudah menjadi jalan takdirku. Jalan dan cara kita dari awal memang salah. Tuhan membenci umat yang menduakan-Nya. Mungkin dulu aku terlalu mengagungkan cinta hingga aku lupa bahwa Tuhan Maha Pencemburu. Aku memaafkanmu”

Sontak ia menatapku. Aku masih dapat melihat cinta yang sama. Cinta yang begitu besar dalam tatapan matanya kepadaku. Tapi maaf bukan lagi kamu tujuanku. Aku lebih memilih menggenggam tangan lain yang kini setia disampingku. Ya dia lah orang yang meyakinkanku untuk berdamai dengan masa laluku dan menguatkanku untuk bersitatap dengannya. Bukan karena aku masih memendam rasa, bukan. Namun aku masih begitu sulit menerima pengkhianatan yang telah mereka lakukan padaku. Cinta? Cinta itu kini telah sempurna direnggut oleh dia yang menggenggam tanganku dan Aku berterimakasih.

Ditempat ini aku kamu di satukan menjadi kita. Kini kita dipertemukan kembali di tempat yang sama menjadi aku dan kamu. Tidak ada lagi kata kita diantara aku dan kamu. Kamu telah memilih jalanmu dan aku kini memilih jalanku. Selamat tinggal kenangan lama. Selamat jalan masa lalu menyakitkan. Sampai jumpa kehidupan baru yang lebih baik.


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Uchie NH

Tuhan menciptakan peristiwa-peristiwa dan kita mengulasnya dengan akal dan seluruh kemanusiaan kita. Sebab tanpa itu, kita tak akan menemukan ayat, akan kehilangan alamat.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *