8 Tips Menahan Amarah

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasanya seluar langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. (Q.S. Ali Imran 133- 134)


DESAINART- Seorang preman sambil membawa golok di pinggang mendatangi Pak Kyai dan mengajaknya berdebat tantang surga dan neraka. Sang preman berseru, “Hai Pak Kyai, saya mau berdebat denganmu tentang surga dan neraka”. Melihat sang preman datang dan berbicara demikian, Pak Kyai pun menjawab, “Tidak ada gunanya berdebat dengan orang seperti kamu”. Sang preman marah, naik pitam, dan segera mencabut goloknya dan mengayunkannya ke Pak Kyai.

Saat itu Pak Kyai pun berkata, “Itulah neraka”. Sang preman kaget dan terpana. “Luar biasa Pak Kyai ini”. ucapnya dalam hati. Perlahan-lahan dia pun mengentikan gerakan goloknya dan memasukan kembali ke dalam warangkanya. Lalu sang preman tertunduk malu berucap, “Saya mohon maaf Pak Kyai atas perbuatan saya tadi”. Pak Kyai pun kembali berucap, “Itulah surga”. (Diatur dari cerita Avan Pradiansyah pada buku: You Are Not Alone). 

Jadi kunci nerka adalah marah dan kunci surga adalah memohon maaf. Mari kita bahas satu persatu. Menurut Arifin Ilham (alm) sumber marah ada 3 yaitu Ilmu (akal), iman dan nafsu. Marah karena ilmu dan iman itu adalah marah yang baik. Tentunya harus berawal dari niat yang baik.

Tentunya harus berawal dari niat yang baik. Bukan melampiaskan nafsu tapi untuk memberi pelajaran, pendidikan, penyadaran, dan membawa kebaikan. Marah untuk menyelamatkan orang lain. Hal ini seperti marahnya Rasulullah SAW kepada orang-orang yang malas beribadah, kepada orang-orang yang tidak mau menyertai beliau dalam peperangan, kepada orang yang bakhil (pelit), dan lainnya. Semua dilakukan untuk kemaslahatan, kebaikan dan kesempurnaan akhlak.

Jadi marah yang baik, sebelum marah berpikir dulu tujuannya dan memang tidak ada cara lain untuk mencapai tujuan tersebut. Kalau marah segera minta maaf untuk tetap menjalin silaturahim demi kebaikan, kemaslahatan dan kemuliaan akhlak.

Marah yang buruk adalah bersumber dari hawa nafsu.

Orang yang mudah marah itu karena lemahnya iman sehingga mudah dikuasai setan. Menjadi budak hawa nafsu. Buktinya, jika kemarahannya sangat besar dia melakukan dosa besar seperti pembunuhan, bahkan terhadap anggota keluarganya sendiri. Sering kita saksikan di berita kriminal seorang anak membunuh orang tuanya atau orang tua membunuh anaknya. Semua terjadi karena kalap dan gelap mata, iman hilang dan hawa nafsu serta setan yang berkuasa. Mengapa terjadi demikian?

Marah bisa terjadi karena kebodohan, tidak memikirkan akibatnya. Orang kalau cerdas akan berpikir panjang. Apa akibat kalau dia marah. Sering kita saksikan justru yang bertindak bodoh adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi.

Kunci kecerdasan sehingga mampu berpikir panjang bukan karena pendidikan atau status sosial. Tidak ada jaminan profesor doktor, bergelar banyak, orang kota, kaya atau berpangkat terhormat pasti tidak mudah marah. Kuncinya justru teletak pada kedewasaan berpikir.

Meskipun dia orang kampung yang berpendidikan rendah, miskin, rakyat jelata, namunbanyak belajar dari asam garam kehidupan sehingga dewasa dan bijaksana, maka tidak akan mudah marah.

Kemudian marah bisa juga terjadi karena sombong, melihat dirinya besar dan hebat sehingga maunya dihormati oleh orang lain. Saat penghormatan itu dia tidak peroleh, maka tersinggunglah dia dan akibatnya kemarahan pun terjadi. Orang itu meniru iblis yang marah karena diperintah Allah sujud kepada Adam. Iblis marah karena sombong. Dia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api sedangkan Adam hanya dari tanah.

Selain itu, marah juga terjadi karena iri, dengki dan serakah. Tidak senang meihat orang lain mendapat karunia lebih dari dia. Jika ada yang melebihinya, maka dia pun jadi gelisah, bendi dan marah dengan menyebar fitnah tentang orang yang dia tidak senangi.

Orang seperti ini meniru Qabil yang sangat marah kepada Habil karena iri, dengki dan serakah. Sampai tega membunuh Habil saudara kandungnya sendiri hanya karena istri Habil lebih cantik dari istri dia. Iri, dengki, dan serakah ingin menguasai istri saudaranya membuatnya marah dan melakukan perbuatan hina. Pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Bagaimana caranya agar dapat menahan amarah? Tentu kuncinya harus bisa melepaskan diri dari penguasaan hawa nafsu. Arifin Ilham memberikan beberap tips sebagai berikut:

Pupuklah iman dengan ibadah dan amal shaleh

Biasakan diri dengan amalan ibadah khusus seperti shalat, puasa, dan sejenisnya serta amalan ibadah sosial seperti menolong orang lain.

Menjaga Wudhu

Rasulullah mengingatkan jika marah segeralah berwudhu karena air itu dingin dan sejuk sehingga dapat melawan setan yang panas.

Duduklah di Majelis Ilmu dan Zikir

Ditempat itu hati akan menjadi tenang dan mendapat imu serta hikmah untuk kebaikan diri.

Ingat Keutamaan orang sabar

Allah cinta orang yang sabar, dijanjikan surga sebagaimana kata Nabi “Janganlah marah, niscaya kamu akan masuk surga”.

Jangan Lupa Berdo’a

Berdoa agar kita jadi orang yang sabar, rendah hati, dan selamat dari gangguan setan yang terkutuk.

Makanlah Makanan Halal

Memakan makanan yang halal akan membuat akhlak jadi baik dan menutup ruang setan di dalam tubuh kita.

Berkumpul dengan Orang Shaleh

Orang shaleh akan membawa kebaikan itu bisa menular dan malu rasanya kalau marah dan ketahuan sama teman yang sabar.

Ubah posisi diri saat sedang Marah

Jika berdiri, duduklah, kalau belum hilang juga, maka berjalanlah dan pergilah tinggalkan orang yang dimarahi.

Semoga dengan mengenali sumber kemarahan dan cara mengendalikan kita termasuk golongan orang yang dapat menahan amarah sebagai ciri orang bertakwa yang dijanjikan surga.


What's Your Reaction?

Sebel Sebel
0
Sebel
Kaget Kaget
0
Kaget
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Sedih Sedih
0
Sedih
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
1
Marah
Desainart Project
Kita akan bersama dalam waktu yang lama, entah seberapa lama. Namun kita tak akan berpisah sebelum kata terakhir tuntas kita eja dengan seksama. Selamat Membaca !

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *